Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 56


__ADS_3

Keyko menatap sebuah foto lama. Foto dirinya bersama, mertua, suami dan juga anak mereka satu-satunya, Jun. Air mata Keyko mengalir, ia mengusap wajah mertua dan suaminya bergantian.


Bisnis keluarga Kinomoto di mulai oleh mertuanya. Kemudian diteruskan oleh suami dan kemudian turun ke Jun, anak mereka.


Meski ia dan suami menikah karena perjodohan, namun keduanya jatuh cinta dan bisa menjalani kehidupan rumah tangga dengan tenang. Yang ia tahu, mertua dan suaminya bekerja keras hingga perusahaan stabil dan bertambah besar.


Dari usaha suku cadang otomotif, merambah ke produk elektronik. Kemudian mereka membeli sebidang tanah yang sangat luas di daerah Malang. Yang akhirnya memberi keuntungan sangat besar karena sumber mata air yang berada di tanah tersebut.


Tidak akan pernah mereka duga, sumber mata air itu akan menjadi sumber malapetaka bagi keluarga mereka dan juga orang lain.


Keyko mendekap foto itu erat-erat. Tangisnya semakin dalam. Perlahan Keyko membaringkan tubuhnya di kasur. Dan lama kelamaan Keyko terlelap.


***


Keyko mengerjap saat ia merasakan tangan yang besar dan hangat mengusap kepalanya. Perlahan Keyko membuka matanya. Ia melihat sesosok orang yang sangat dicintai, sedang duduk di tepi ranjang tepat di samping tempat Keyko berbaring.


"Anata." Panggil Keyko dengan lembut.


Keyko tersenyum menatap wajah teduh Sang Suami yang juga sedang tersenyum lembut kepadanya.


"Nyoubou. Kamu hebat sudah menjaga anak dan cucu kita."


Keyko menggeleng pelan. "Tidak. Istri Sora pergi. Dia meninggalkan cucu dan cicit kita, karena harta kita sudah menghancurkan keluarganya." Jawab Keyko dengan sedih.


Senyum Suami Keyko tidak luntur, ia terus mengusap kepala Keyko.


"Harta masih bisa kita cari lagi. Tapi rasa damai dan kebahagiaan keluarga sangat sulit di dapat."


"Lepaskan kalau itu terlalu menyakitkan. Jangan bertahan."

__ADS_1


Ucapan-ucapan Sang Suami membuat hati Keyko lebih tenang. Seakan ia mendapat jalan keluar.


"Anata, arigatou."


Suami Keyko mengangguk tanpa menghilangkan senyum di wajahnya. Tangannya pun beralih mengusap pipi Keyko. Membuat mata Keyko kembali terpejam menikmati usapan tangan Sang Suami.


***


Biru masih terus berjalan tanpa alas kaki. Ia membiarkan kulitnya yang lembut bergesekan langsung dengan butiran-butiran pasir yang lembut dan hangat. Rambutnya yang panjang ia biarkan tergerai dan diterbangkan angin laut yang kencang.


Biru sudah berjalan berjam-jam. Entah sudah berapa kali ia bolak balik menyusuri pantai Tai Long Wan yang terpencil itu. Meski terpencil, Biru tidak perlu takut karena anak buah Arya terus berjaga di daerah perbukitan dan juga laut.


"Biru!"


Seruan Arya membuat Biru berhenti dan menoleh.


Biru tersenyum dan berlari kecil menghampiri Arya.


Arya menepuk punggung Biru beberapa kali. "Iya." Arya menjauhkan wajah Biru dari dadanya. "Kamu baik-baik saja?"


Biru mengangguk, namun kemudian ia menggeleng.


"Yang benar yang mana dek?" Tanya Arya gemas.


Biru tersenyum kecut. "Entahlah Mas."


Arya menarik nafas dalam-dalam dan kembali menarik Biru masuk ke dalam pelukannya.


"Mas cuma punya kamu. Demi kebahagiaan kamu, Mas akan lakukan apapun. Kecuali 1 hal."

__ADS_1


Dalam pelukan Arya, Biru mengernyit. "Apa itu Mas?"


"Bercerai. Mas tidak akan mewujudkan yang 1 itu. Meski pun kamu nekat. Mas akan bunuh petugas yang menangani gugatan kamu."


Biru langsung mendorong tubuh Arya dan menatap Kakaknya itu dengan tatapan mencibir.


"Bunuh orang saja Mas bisa. Masa cuma cerai saja tidak boleh?"


Arya menarik nafas dalam-dalam. "Terakhir kali Mas telponan sama Ibu, beliau pesan. Mas ikut mengawasi rumah tangga kamu. Dan apapun yang terjadi kamu dan suami tidak boleh cerai kecuali mau yang memisahkan."


"Tapi itu kan waktu mau menikah sama Ramdan." Protes Biru.


"Ibu kan tidak bilang nama, cuma kata 'suami'. Jadi berlaku untuk siapapun suami kamu."


"Mas! Sadar Mas! Keluarga mereka penyebab orang tua kita meninggal!" Emosi Biru mulai naik.


"Bukan mereka, tapi orang lain."


Biru tergagap, sanggahan Arya sangat tepat.


"Ok, bukan mereka. Tapi harta keluarga mereka."


Biru bersedekap, Arya menatapnya dengan tatapan permohonan.


"Mas tidak sempat berbakti pada orang tua kita. Tolong Mas, dek. Mas mau mewujudkan pesan terakhir Ibu."


Biru tercekat, dadanya terasa sesak. "Tapi aku tidak mau tinggal di rumah itu. Aku tidak kau dinafkahi dengan uang mereka. Harta mereka berbau darah Ayah dan Ibu. Bisa saja makanan yang aku makan selama tinggal dengan mereka dibeli dengan uang keuntungan kontrak mata air itu."


Untuk jawaban Biru yang satu ini, Arya tidak bisa menyanggahnya lagi. Karena yang Biru ucapkan juga sebuah kebenaran. Jika ia yang ada di posisi Biru, mungkin ia juga akan melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Arya menyugar rambutnya dengan kasar. Ia tidak tahu harus bagaimana mengambil keputusan.


...****************...


__ADS_2