Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 39


__ADS_3

Ichigo berlari keluar dengan wajah sumringah. Ia sangat bahagia melihat Sora dan Biru berdiri bersama Farah.


"Papa, Mama."


"Hai sayang." Sora dan Biru bergantian mencium kening Ichigo.


"Farah, pulang bersama supir ya."


"Baik, Tuan. Saya permisi." Farah segera membawa tas Ichigo dan pergi menuju mobil yang biasa digunakan ia dan Ichigo untuk ke sekolah.


"Papa, kita mau kemana?" Tanya Ichigo antusias.


"Kejutan." Jawab Sora sambil menaik turunkan alisnya.


"Yeayyyy!" Ichigo bersorak girang. Ia paling suka dengan kejutan.


Mereka segera meninggalkan sekolah dan menuju ke tempat yang dirahasiakan oleh Sora. Ternyata tempat yang dituju tidak begitu jauh. Hanya sekitar 30 menit berkendara dari sekolah Ichigo.


Mereka berhenti di sebuah bangunan berlantai 3. Sora mengajak Biru dan Ichigo untuk masuk dan naik tangga menuju ke lantai 3.


"Capek?" Tanya Biru pada Sora. Pria itu menggendong Ichigo sambil menaiki tangga.


Sora menggeleng pelan. "Aku masih sanggup."


Ketika mencapai lantai 3, Biru mengeluarkan sapu tangan dan mengusap peluh di dahi Sora.


"Terima kasih." Sora tersenyum manis.


"Iya Bang."


Sebelum memasuki ruangan, di samping pintu terdapat plakat silver bertuliskan 'Aozora'. Dan tanpa mengetuk, Sora langsung membuka pintu.


Ruangan pertama seperti ruang tamu, terdapat satu set sofa berwarna abu-abu. Ada meja penerima tamu di sudut lain, tapi tidak ada orang yang berjaga.


Di ruangan lain yang diberi sekat menggunakan kaca, terlihat banyak meja dan peralatan komputer. Sora membawa Biru dan Ichigo menuju ruangan tersebut.


"Selamat siang bos." Sapa beberapa orang yang melihat kedatangan Sora.


"Eh, bos datang."


Biru terkejut, yang berada di ruangan itu semuanya adalah anak-anak muda, mungkin yang paling tua baru menginjak usia 29 tahun. Sebagian besar adalah laki-laki, hanya ada 2 orang perempuan di ruangan itu.


"Halo semuanya, minta perhatian kalian."


"Wah, bos bawa cewek cantik." Terdengar celetukan dari beberapa anak muda.


Sora tertawa kecil, dan itu membuat Biru heran. Karena seingat Biru, pembawaan Sora saat mereka bertemu di kantor, tidak seperti itu. Sora terlihat sangat tegang, namun disini, Sora terlihat senang dan santai.


"Ya ya ya. Saya ingin memperkenalkan cewek cantik ini pada kalian."


Keadaan menjadi sunyi.


"Perkenalkan, namanya Biru, dan dia adalah istri saya."

__ADS_1


"Yaaaahhhhhhh." Suara kekecewaan keluar secara spontan.


"Kirain anak baru."


"Kirain keponakannya."


"Batal deh jadi gebetan."


Celetukan demi celetukan terdengar. Sora hanya tertawa menanggapinya.


"Sudah, jangan pura-pura kaget. Kalian pasti sudah tahu beritanya." Sora menanggapi.


"Tapi tidak menyangka bos, ternyata Mama Ichi secantik dan semuda ini." Jawab salah satu pemuda.


"Lulus SMA langsung dilamar ya. Bos hobi daun muda nih." Sambung yang lain.


"Umurnya sudah 24 tahun. Bukan remaja lagi." Sora masih terus menanggapi, tanpa ada beban.


"Wuiiihhhhh. Dea, Ara, lihat tuh muka Ibu bos. 24 tahun kayak anak SMA. Lha lu berdua, 20 tahun kayak emak-emak."


"Sialan lu Adam." Dea dan Ara kompak melempar sekotak tisu pada pemuda bernama Adam.


Gelak tawa memenuhi ruangan itu. Begitu pun Sora, ia ikut tertawa.


"Nama Ibu bos Biru? Wah, jadi nama bos berdua Langit Biru dong." Kata Ara dengan antusias.


"Iya, jadi sama dengan nama usaha kita. Aozora." Imbuh Dea.


Sora merangkul pundak Biru dengan tangannya yang bebas. "Berarti kami serasi, iya 'kan." Ucapan Sora membuat Biru tersipu.


"Terima kasih, tapi maaf, tidak ada libur. Lanjutkan pekerjaan kalian." Sora kembali dalam mode serius.


Meski terdengar berdengung seperti lebah karena waktu istirahat tidak diperpanjang, namun mereka kembali ke balik PC masing-masing. Sedangkan Sora menggandeng Biru menuju ruangan lain yang lebih kecil.


"Ini adalah kantorku." Ucap Sora pada Biru setelah menurunkan Ichigo dari gendongannya.


"Sebenarnya, ini tempat apa?" Tanya Biru sambil duduk di samping Ichigo.


Sora mengambil minuman dingin dan meletakkannya di meja kemudian bergabung dengan Biru dan Ichigo.


"Game developer. Kami membuat dan memasarkan game." Jawab Sora sambil membuka kaleng jus buah dan memberikannya pada Ichigo.


Biru terkejut, awalnya ia mengira tempat ini adalah tim keamanan cyber milik perusahaan utama.


"Anak perusahaan atau ... ?"


Sora menggeleng. "Murni usaha yang aku rintis."


Biru seakan tidak percaya. "Seluruh gedung ini?"


"Ya. Pembuatan game ada di lantai 3 ini. Bagian pemasaran dan administrasi lain di lantai 2. Sedangkan lantai 1 adalah tempat uji coba." Jawab Sora.


Biru mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jika Abang begitu menyukai bermain dan membuat game, mengapa harus bergabung dengan perusahaan?"

__ADS_1


"Apakah begitu terlihat?"


"Ya, Abang terlihat lebih senang dan santai saat berada disini. Tidak seperti di perusahaan."


Sora tertawa kecil. "Jika bukan aku, lalu siapa lagi? Natsuki pun tidak berminat. Ia menyukai fashion sejak masih kecil. Jadi ia merintis usaha sesuai dengan hobinya."


"Perusahaan sudah dirintis oleh orang tua Kakek. Aku hanya tinggal meneruskannya. Keluarga Kinomoto yang lain memilih merintis usaha masing-masing. Jadi mereka pun tidak tertarik untuk mengambil alih."


Perkataan Sora membuat alis Biru bertaut. Jika keluarga sendiri tidak menginginkan harta milik mereka, lalu siapa?


"Baiklah, lupakan soal itu. Ichigo, mau bermain game?"


"Ya ya ya, Ichi mau." Ichigo lantas berdiri dan menunggu di pintu.


"Ayo, kita turun ke lantai 1. Game baru sudah hampir rampung. Dan hari ini mulai uji coba." Sora berdiri dan mengulurkan tangannya pada Biru.


Dengan senang hati Biru menerima uluran tangan Sora.


Ichigo begitu antusias mencoba game baru. Begitu pun dengan Biru. Meski tidak begitu menyukai bermain game, namun Biru tidak keberatan mencoba.


Gelak tawa dan sorakan memberi semangat terdengar sahut menyahut. Uji coba game baru kali ini terasa berbeda bagi Sora dan tim.


Sora begitu bahagia melihat Ichigo dan Biru tertawa lepas. Bahkan Biru tidak segan berinteraksi dengan tim. Sora lega, memperkenalkan Biru pada tim bukanlah keputusan yang salah.


Ia sadar, Arini dengan semua gaya hidupnya, pasti tidak mau membaur seperti yang dilakukan Biru saat ini. Oleh sebab itu, Sora tidak pernah menceritakan soal usahanya yang satu ini pada Arini. Meski saat itu ia begitu tergila-gila pada Sang Model.


Uji coba berhenti saat makan siang tiba. Sora sengaja membeli makan untuk semua tim pengembang game agar bisa makan sambil membahas perkembangan pembuatan game. Dan Biru serta Ichigo tidak mempermasalahkan jika makan bersama yang lain.


Sora semakin takjub ketika melihat Biru menyuapi Ichigo makan melalui tangannya. Tanpa sadar Sora mendekatkan kepalanya.


"Abang juga." Ucapnya kemudian membuka mulut.


Mau tak mau Biru menyuap Sora meski menahan malu akibat ledekan anak-anak muda di sekitar mereka. Tapi sepertinya kulit wajah Sora memang tebal. Karena bukan hanya sekali ia melakukannya. Sampai akhirnya Ichigo melayangkan protes.


"Papa makan sendiri." Ucap Ichigo dengan kesal.


"Ya ampun bos, mengalah dong sama anak sendiri." Celetuk Adam.


"Maklum Dam, lagi kasmaran. Namanya juga pengantin baru."


"Ciyyee ciyyeeee......!"


Biru ikut tertawa, suasana kekeluargaan yang dibangun membuat Biru nyaman. Ia akhirnya mengerti kenapa Sora menjadi orang yang berbeda. Bukan hanya melakukan hal yang ia sukai. Tapi juga keakraban yang ada di Aozora, membuat siapapun akan senang bekerja.


Hari menjelang sore ketika mereka tiba di rumah. Karena kelelahan, Ichigo akhirnya tertidur. Sora membaringkan Ichigo di kamarnya, sedangkan Biru segera menyiapkan baju ganti untuk Sora.


Ketika sedang memilih baju, Biru terkejut saat tangan kekar Sora melingkar di pinggangnya. Biru menghentikan aktivitasnya namun tidak berani berbalik. Jantungnya berdetak kencang saat Sora menyibak rambut di pundak Biru kemudian menyandarkan dagunya disana. Membuat Biru menahan nafas.


"Biru-chan, terima kasih untuk hari ini." Sora mengecup singkat pipi Biru kemudian pergi ke kamar mandi.


Setelah terdengar pintu ditutup, Biru akhirnya bisa bernafas lega. Ia tersenyum sambil memegang pipi yang dikecup Sora.


"Adek meleleh Bang."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2