
"Biru, tidurlah di tempat tidur. Lagipula kita sudah benar-benar menikah 'kan." Ucap Sora ketika melihat Biru mengatur Futon.
"Lain kali saja ya Bang." Biru menolak.
"Aku tidak akan menyentuhmu."
Ucapan Sora membuat Biru menghentikan aktifitasnya dan berbalik menatap Sora dengan kedua alis terangkat.
Biru menipiskan bibirnya dan kembali membelakangi Sora. "Waktu itu juga bilang begitu. Buktinya tadi main peluk-peluk saja."
Sora tersenyum lembut sambil menatap punggung Biru. "Maaf, aku tidak tahan melihat kamu menangis."
Begitu Biru kembali membalikkan tubuh, cepat-cepat Sora mengubah ekspresi wajahnya menjadi biasa saja.
"Terima kasih sudah menjadi sandaranku."
"Itu gunanya teman." Sora menatap Biru dengan lembut. "Selamat tidur, Biru."
"Selamat tidur, Abang."
***
Paviliun, waktu yang sama.
"Hanya karena perempuan itu bisa bela diri, bukan berarti dia akan lolos dari tanganku. Tetap tutup mulut kalian jika tidak ingin hal yang menimpa Jun akan menimpa mereka juga." Ucap Indira dengan penuh ancaman.
"Kau pasti pintar Nyonya. Tetap jaga nyawa mereka sampai aku mendapatkan semua harta Kinomoto. Setelah itu aku akan melepaskan kalian."
Tubuh Nenek Keyko bergetar menahan amarah. "Kau perempuan iblis, Indira." Kecam Keyko.
Indira hanya tertawa mendengar ucapan itu. "Ya, aku adalah iblis. Salah sendiri punya banyak harta, hingga aku juga menginginkannya." Indira melangkah dengan perasaan puas.
Sering mengingatkan Keyko tentang kematian putranya, Jun Kinomoto, adalah cara ampuh untuk membuat perempuan tua itu tetap bungkam.
Awalnya Indira berpikir, jika Jun sudah meninggal, maka seluruh harta Keluarga Kinomoto akan jatuh ke tangannya sebagai istri yang sah. Namun ia tidak tahu, mendiang suaminya itu sudah membuat wasiat jauh sebelum Indira dan Jun menikah.
Tepat setelah kematian Ayu Trisna, istri pertama Jun, saat melahirkan anak kembar mereka. Isi wasiatnya mengatakan, jika Jun meninggal maka seluruh warisan akan diturunkan kepada Sora dan Natsuki. Hal itu Jun lakukan karena patah hati ditinggal selama-lamanya oleh orang yang sangat ia cintai.
Hari pembacaan wasiat menjadi hari paling memuakkan bagi Indira. Mulai dari situ ia menyusun rencana untuk merebut semua harta Keluarga Kinomoto.
***
"Permisi, Nyonya."
Seorang pelayan menghampiri Biru yang sedang melihat bahan makanan di pantry lantai 2.
"Ya. Ada apa?" Tanya Biru sambil berbalik menghadap pelayan itu.
"Nyonya Indira mau bicara." Ucap Sang Pelayan sambil menyerahkan pesawat telepon tanpa kabel yang ia pegang.
Biru menatap telepon tersebut. Akhirnya dia mulai beraksi sendiri. Gumam Biru.
"Halo, ibu mertua." Sapa Biru setelah mengambil telepon dari tangan pelayan.
"Halo menantuku sayang. Maaf mengganggu waktu senggangmu." Suara Indira terdengar sangat ramah dan menyenangkan.
"Tidak apa-apa ibu. Ada apa?"
"Ada berkas yang tertinggal entah dimana. Berkasnya di dalam sebuah amplop coklat yang besar. Tolong bawa kepadaku. Aku tidak mempercayai pelayan, sedangkan Raya ada kelas saat ini."
"Hanya itu?"
"Ya, supirku sedang dalam perjalanan menjemputmu."
__ADS_1
"Baiklah." Biru menutup telepon dan menatap pelayan di depannya. "Dimana berkas itu?"
"Ada di meja makan, Nyonya."
"Baiklah, aku akan mengganti baju terlebih dahulu."
Biru bergegas masuk kamar dan mengganti baju. Tentunya dilengkapi dengan beberapa persiapan yang lain.
"Aku tidak percaya ini hanya sekedar berkas." Gumam Biru sambil memasukkan sebuah pisau lipat yang kecil ke balik ikat pinggangnya. Sebuah pistol Desert Eagle ia sisipkan di balik baju bagian belakang.
"Mari bermain, ibu mertua." Biru tersenyum sinis sambil mengikat semua rambutnya.
Setelah siap, Biru segera turun.
"Nyonya, ini adalah berkas Nyonya Indira." Seorang pelayan memberikan sebuah amplop yang diminta oleh Indira.
"Terima kasih." Dengan langkah cepat, Biru bergegas keluar.
Sebuah mobil SUV berwarna hitam memasuki pekarangan. Biru mendekat ke arah supir yang segera menurunkan kaca.
"Nyonya Biru." Ucap pria tersebut sambil membuka pintu untuk keluar.
"Tidak perlu turun, aku bisa membuka sendiri pintuku." Biru segera masuk ke dalam mobil.
Pandai, Indira meminta supir untuk memakai masker. Dan seingat ku, ini juga bukan mobil miliknya. Supir itu pasti bukan dari keluarga Kinomoto.
Biru berdecih pelan dan duduk dengan tenang. Meski mereka sudah berada di kompleks pergudangan, Biru tetap terlihat tenang. Membuat supir yang selalu memantau melalui kaca menjadi gugup.
Mobil berhenti di sebuah gudang yang sedikit terpencil. Jauh dari gerbang utama.
"Disini tempat eksekusinya?"
Pertanyaan Biru membuat supir itu menelan ludah dengan kasar.
"Jangan pergi dulu, aku membutuhkanmu untuk mengantarku ke ibu mertua. Tunggu sampai aku membunuh orang yang diutus untuk membunuhku." Ucap Biru memotong kalimat yang akan dikatakan si supir.
"A ... apa?" Pria itu terkejut. Jantungnya berdetak semakin cepat.
Biru segera keluar dari dalam mobil dan berjalan ke depan. Setelah beberapa langkah ia pun berhenti.
"Keluarlah! Aku sudah disini! Ayo selesaikan dengan cepat!" Seru Biru dengan suara lantang.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil di belakang Biru. Ternyata supir tadi segera meninggalkan lokasi tersebut.
"Tskk! Dia mengira aku akan mati hari ini." Gumam Biru setelah melihat mobil yang tadi membawanya sudah menjauh.
"Everest?" sebuah suara berat terdengar dari depan Biru. Membuat Biru segera berbalik.
"Romanov?" Biru terkejut melihat orang yang pernah ia lawan berdiri di depannya. Namun sesaat kemudian keterkejutan itu berubah menjadi seringai.
"Jadi kau yang dibayar untuk menghabisi ku?" Biru bersedekap memeluk amplop coklat pesanan Indira.
Romanov, pria bertubuh kekar dan tinggi. Dengan kulit putih, rambut keemasan dan mata biru khas ras kaukasoid. Ia menatap Biru dengan gusar.
"Aku tidak tahu jika itu adalah dirimu. Dia hanya mengatakan nama korbanku adalah Biru. Dan kau akan dibawa ke tempat ini."
"Mereka tidak memperlihatkan fotoku?"
Romanov menggeleng pelan. "Maaf Ev. Jika aku tahu Biru adalah kau, maka aku akan menolak."
Keduanya memang beberapa kali bertemu di dalam arena. Namun hubungan keduanya baik.
"Biru adalah nama asliku. Aku hanya tidak mengerti mengapa Indira tidak memperlihatkan fotoku."
__ADS_1
"Indira?" Romanov terlihat bingung.
"Ya, orang yang menyewamu. Indira 'kan namanya?"
"Bukankah Indira nama perempuan? Tapi yang menyewaku adalah seorang pria."
"Apa? Seorang pria?" Kerutan di dahi Biru terlihat begitu jelas.
"Ya, aku mengenalnya saat berlibur dengan keluargaku."
"Bagaimana ciri-cirinya?" Tanya Biru penuh dengan rasa penasaran.
"Masih muda, mungkin kalian berdua seumuran."
Biru berpikir keras. Bukan Indira atau Hasan. Lalu siapa?
"Everest. Aku akan mengembalikan uang pria itu. Aku tidak akan menyentuhmu sedikit pun."
Biru menatap Romanov dan tersenyum simpul. "Aku tahu. Oleh sebab itu aku yang akan menggantikan uangnya."
"Apa? Tidak Ev, itu tidak perlu."
"Aku tahu kau butuh biaya untuk pengobatan putrimu."
Mata Romanov membulat sempurna. "Ev ... kau ... kau tahu?"
Biru mengangguk yakin. "Tentu saja."
Romanov menunduk. "Terima kasih. Tapi aku tidak bisa menerima begitu saja."
"Siapa bilang menerima begitu saja? Itu adalah biaya karena tidak membunuhku." Jawab Biru dengan enteng.
"Astaga Ev." Romanov mengusap wajahnya dengan kasar.
"Dengan begitu kau akan terbebas dari rasa berhutang. Namun tetap profesional. Bukankah yang membayar lebih tinggi yang mendapatkan respon baik? Jadi, katakan pada penyewa mu, aku membayar dua kali lipat. Mereka juga tidak akan curiga kalau sebenarnya kita berteman."
Kalimat-kalimat Biru terdengar meyakinkan. Akhirnya Romanov menyetujui usulan Biru.
"Ev, satu pertanyaan terakhir."
"Silahkan."
"Siapa yang sudah kau singgung?"
"Ibu mertuaku." Jawab Biru sambil menahan tawa.
"Astaga Everest! Kau sudah menikah? Kenapa tidak memberi tahu?" Romanov segera menjabat tangan Biru.
"Apa kau ingin semua musuhku datang dan mengganggu keluargaku? Sama sepertimu yang menyembunyikan keluarga, aku pun demikian."
"Arya, keterlaluan sekali. Dia tidak memberitahuku." Desis Romanov menahan kesal.
"Jangan salahkan kakakku. Dia tahu kau masih di Siberia. Jadi dia tidak ingin mengusikmu."
"Ya ya ya." Sahut Romanov.
Biru menoleh ke sekitar mereka. "Lalu? Bagaimana kita pergi dari tempat ini?"
"Aku menyewa mobil. Ayo ku antar kau pulang." Romanov memimpin jalan menuju mobil yang ia parkir jauh dari tempat mereka saat ini.
"Tidak, antar saja aku ke tempat ibu mertuaku. Aku ingin menikmati pemandangan saat ia terkena serangan jantung karena aku masih hidup."
Jawaban Biru membuat Romanov tergelak. "Memang benar kata orang. Jarang sekali ada hubungan mertua dan menantu perempuan yang akur."
__ADS_1
...****************...