Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 16


__ADS_3

Biru hanya menatap datar pada Arini yang kini memeganginya.


"Puas?" Tanya Biru.


Arini menoleh dan hanya tersenyum manis menatap Biru. Tanpa diucapkan, Biru pun tahu kalau Arini sangat puas.


Sora mendekati mereka dengan raut wajah yang begitu dingin.


"Apa yang terjadi?"


Arini memasang wajah bingung. "Sora, ini … eumm, aku tidak tahu bagaimana menyampaikannya." Ucapnya sambil melepas tangan Biru.


"Katakan saja." Sahut Sora dan kembali menatap Biru.


"Sepertinya ada salah paham disini. Istrimu tersinggung karena dibandingkan dengan diriku. Namun ini bukan salah dia. Setiap wanita pasti tidak terima jika dibanding-bandingkan." Ucap Arini sambil mendekati kedua staf yang bergosip itu.


"Sebagai istri seorang pimpinan yang terkenal, seharusnya anda lebih bijaksana, Nyonya." Hasan, paman dari Arini menambah panas situasi. "Tolong dimaklumi semuanya." Hasan memandang berkeliling. Para pegawai lain bahkan sudah berdiri dari tempat duduknya masing-masing.


"Tidak semua orang memiliki temperamen yang sama. Dan Nyonya kita adalah orang baru di dunia seperti ini. Tolong kalian mengerti, jangan bergosip seperti tadi. Jaga perasaan Nyonya Biru." Imbuh Hasan.


Bukannya tidak ingin membela diri. Namun jika Biru menceritakan kejadian yang sebenarnya, kedua pegawai tadi pasti akan menyangkal. Biru tahu ini semua sudah disiapkan oleh Arini. Oleh sebab itu Biru memilih diam, ia hanya balas menatap Sora dengan kemarahan yang tidak ditutupi. Biru pun melihat orang-orang yang keluar dari ruang rapat. Mereka melihat Biru dengan pandangan yang sulit diartikan.


Sora menghela nafas, ia menatap langsung ke dalam manik mata Biru  Setelah hubungan mereka semakin dekat, Sora mulai mengerti sifat Biru. Istri palsunya ini bukanlah orang yang akan dengan mudah memukul orang lain meski ia mampu. Ia menatap ke arah pantry yang sedikit terbuka.


"Apakah itu benar, Zayn?"


Suara nafas tercekat terdengar dari Arini. Sepertinya ia tidak menyangka ada Zayn di dalam pantry. Dengan cepat ia menoleh ke arah pantry yang tidak jauh dari mesin fotokopi. Begitu juga dengan staf yang bergunjing. Mereka tidak menyangka ada orang kepercayaan Sora di dalam pantry. Wajah mereka memucat, keringat dingin mulai mengalir.


Zayn keluar sambil membawa speaker portable yang memang ada di dalam pantry. Di tangan lain ponselnya dalam keadaan stand by untuk memutar sebuah video.


"Izinkan saya, Tuan." Zayn menatap hormat pada Sora.


"Silahkan."


"Nyonya Arini mengatakan yang sebenarnya. Memang, kedua pegawai ini bergosip membanding-bandingkan Nyonya Biru dan Nona Arini. Mereka mengatakan Nona Arini yang lebih pantas menjadi istri Tuan Sora."


Zayn mulai bercerita.


"Dan mereka juga mengatakan orang tua Nyonya tidak becus membesarkan anak hingga merebut milik orang lain. Orang tua menjijikkan. Miskin dan gila harta. Nona Arini tersenyum senang saat mendengar orang tua Nyonya dihina."


"Aku tidak melakukan itu! Jangan menyebar fitnah, Zayn!" Sergah Arini.


"Apa kau tidak memandangku lagi, Zayn?!" Hasan menambahkan.


"Aakkhhh!!!" Tiba-tiba Arini menjerit kesakitan. Tanpa diduga semua orang, Biru memukul mulut Arini. Dan tidak ada yang berani melayangkan protes saat Biru dengan tatapannya yang datar menatap semua orang satu per satu. Hal itu membuatnya terlihat mengerikan karena ekspresi yang tidak terbaca. Bahkan Sora tidak peduli dengan Arini yang mulai menangis.


"Tunjukkan buktinya, Zayn." Pinta Sora sambil mendekati Zayn.


Zayn memutar rekaman, semua orang bisa mendengar setiap ucapan kedua staf tadi. Rahang Sora mengeras saat melihat ekspresi Arini di video tersebut.


"Jika saya menjadi Nyonya Kinomoto, saya akan membunuh orang yang menghina orang tua saya." Ucap seorang pria paruh baya yang berada di dekat Hasan.


"Tu … Tuan Ali." Hasan terkejut mendengar ucapan calon investor itu.


"Dan juga anda, Nona Arini." Ali menatap tajam pada Arini. "Anda sangat bahagia mendengar orang lain menghina pesaing Anda beserta keluarganya. Rupanya Anda begitu dipenuhi kebencian."

__ADS_1


"Tidak, saya … " Tubuh Arini bergetar.


"Keponakan Anda sungguh tidak bermoral, Tuan Hasan." Ujar salah seorang anggota dewan direksi.


"Cantik tapi sayang hatinya busuk." Seorang pemegang saham yang lain ikut menambahkan.


Sora menarik nafas dalam-dalam.


"Zayn, pecat kedua orang yang sudah menghina mendiang kedua mertuaku. Jangan beri pesangon. Dan katakan kepada semua petugas keamanan perusahaan. Mulai sekarang, wanita bernama Arini dilarang menginjakkan kakinya di kantor. Jika ingin bertemu Tuan Hasan, bisa dilakukan diluar kantor."


"Baik, Tuan."


"Jangan Tuan. Mohon ampuni kami." Pinta kedua staf itu secara bersamaan.


"Sora, tidak! Aku … " Ucapan Arini terhenti saat Hasan menyentuh pundaknya.


Sora mendekati Tuan Ali dan para pemegang saham yang lain. "Tuan dan Nyonya, maaf atas kejadian memalukan ini. Dan saya benar-benar minta maaf tidak bisa mengantar kalian pergi. Saya harus menemani istri saya." Sora membungkukkan tubuh dalam-dalam.


"Nak, jika saya menjadi kamu, saya akan melakukan hal yang sama." Tuan Ali memegang lengan Sora meminta pria itu menegakkan tubuh. "Saya tidak akan memikirkannya lagi. Saya akan menanamkan modal sebanyak yang kamu inginkan. Saya menyukai orang yang masih menjunjung tinggi kehormatan orang tua dan mertua seperti kamu." Pria itu tidak lagi membuat sekat pemisah dengan Sora, ia bahkan menempatkan diri sebagai orang tua.


"Keuntungan memang penting, tapi sopan santun dan budi pekerti luhur jauh lebih penting. Tidak banyak pengusaha sepertimu. Saya mengenal orang tuamu dengan baik. Dia adalah pria yang begitu mengasihi mertuanya. Jadi saya percaya, kamu mampu menjalankan perusahaan dengan baik." Imbuh pria itu.


"Anda terlalu melebih-lebihkan, Tuan."


"Saya berbicara kenyataan. Sampai jumpa di penandatanganan berkas." Ali menepuk lengan Sora beberapa kali dan langsung berjalan pergi. Para pemegang saham mengikutinya setelah menjabat tangan Sora dan juga Biru.


Sedangkan Hasan, ia menatap kepergian orang-orang itu dengan tangan mengepal. Jika biasanya ia akan lebih dihargai daripada Sora, hari ini keadaan berbalik.


Sora menggandeng tangan Biru dan pergi meninggalkan lantai 10 tanpa mengucapkan apapun lagi.


Terdengar suara Zayn yang berusaha mengendalikan situasi.


Sedangkan Arini menatap kepergian Sora dengan tatapan kecewa. Ia tidak menyangka Sora akan mengeluarkan perintah seperti itu.


Di dalam ruangannya, Sora segera memeluk Biru setelah ia mengunci pintu. Sora sendiri tidak mengerti kenapa ia bertindak seperti itu. Ia hanya mengikuti nalurinya.


"Abang."


"Hmmm."


"Panas."


Ucapan Biru sontak membuat Sora menjauhkan kepala tanpa melepas pelukannya.


"Masa sih?"


"Lepasin dulu Bang."


Sora menatap kedua mata Biru. "Kamu baik-baik saja? Apa kita perlu mencari samsak?"


Biru menggeleng pelan. "Saya hanya ingin pulang."


Sora kembali mendorong kepala Biru untuk menempel ke dadanya. "Aku ada untuk kamu. Jangan merasa sendirian."


Biru menarik nafas dalam-dalam. "Abang, jangan buat saya terlalu nyaman. Nanti saya susah kalau kita sudah pisah."

__ADS_1


Sora terhenyak, ia segera mengurai pelukannya dan berdehem.


"Maaf." Ucap Sora dengan canggung.


Biru hanya mengangguk sembari merapikan bajunya. "Saya pulang duluan Bang."


"Aku antar." Sora segera mengemasi barang-barangnya.


"Tidak perlu, naik taksi saja."


"Tidak. Kali ini tidak ada penolakan." Sahut Sora dengan tegas.


Biru sedang tidak ingin berdebat. Ia menunggu Sora sambil duduk di sofa.


***


Sora menatap ipad di tangannya dengan kening berkerut. Ia sedang menonton video di salah satu kanal youtube yang berisi berita infotainment berdasarkan link yang dikirim Andre.


Di dalam berita tersebut terlihat beberapa foto Arini bersama seorang pria dengan latar belakang Istana Westminster, London.


Narator tersebut mengatakan ada hubungan khusus Arini dengan pria di dalam foto berdasarkan informasi dari sumber terpercaya. Sayangnya, pria tersebut sudah memiliki istri dan anak.


Sora tidak menyelesaikan video yang sudah disaksikan oleh jutaan orang itu. Ia meletakkan ipad di mejanya sambil memijat pelipis.


Sebelum menerima link dari Andre, Hasan sudah menelponnya untuk meminta maaf atas nama Arini. Bahkan pria tua itu berani menyebut jasanya atas perusahaan dan meminta Sora untuk menghargai itu.


Sora sudah menduga, Hasan tidak akan tinggal diam meski Arini yang bersalah. Beruntung beberapa pemegang saham yang dulu berada di pihak Hasan, kini mulai membuka komunikasi dengan Sora. Jadi ia tidak terlalu tertekan seperti biasa. Namun Sora tidak ingin gegabah, sebelum ia mendapatkan kepercayaan penuh, Sora akan berhati-hati menghadapi Hasan dan Arini.


Ponsel Sora berdering. Ia menggeser simbol berwarna hijau dengan enggan.


"Ada apa?"


"Sayang … "


"Jangan bertele-tele." Sora memotong ucapan Arini yang terdengar memelas.


Arini menghela nafas kasar. "Baiklah, aku hanya ingin menjelaskan, berita tentangku di London yang kini beredar, semuanya tidak benar. Pria itu hanya temanku." Jelas Arini panjang lebar.


"Aku tidak peduli." Sahut Sora tanpa berpikir panjang.


"Apa?"


"Aku bilang, aku tidak peduli."


"Tapi Sora, paman bilang kau sudah memaafkan aku karena peristiwa kemarin. Kenapa kau masih berkata tidak peduli?"


Sora menggeram kesal. Arini dengan tidak tahu malunya berlindung di belakang Hasan.


"Pamanmu hanya meminta maaf untuk peristiwa di kantor. Dia tidak menyinggung masalah London. Lagipula benar dan tidaknya berita tersebut, aku tidak peduli sama sekali. Karena bangkai meski disimpan rapi, suatu saat akan terungkap juga."


Arini tertawa kecil. "Baiklah sayang, aku menganggap kamu sudah memaafkan aku. Sampai ketemu di ulang tahun Ichigo."


Tanpa menunggu tanggapan Sora, Arini segera memutuskan sambungan telepon. Ia merasa di atas angin karena masih bisa mengendalikan Sora.


...****************...

__ADS_1


 


__ADS_2