
Malam sudah semakin larut, namun Biru belum juga kembali ke kamarnya sendiri. Ia masih berbaring di samping Ichigo. Padahal gadis kecil itu sudah terlelap sejak 2 jam yang lalu.
Biru memijat pangkal hidungnya kemudian menghela nafas kasar.
"Aku bukan anak remaja yang baru mengenal cinta. Aku tahu apa yang sudah terjadi kepadaku." Gumam Biru pada dirinya sendiri. "Ya Tuhan, bagaimana ini?"
Biru tidak pernah menyangka akan jadi seperti ini. Jalan hidupnya menyimpang jauh dari yang sudah ia rencanakan. Dari petarung bebas menjadi seorang istri sekaligus ibu. Dari yang awalnya sandiwara, kini berubah menjadi serius. Bahkan Sora sudah berhasil mencuri sedikit hatinya. Biru sadar, tidak akan lama lagi Sora akan merajai hatinya.
Hhhhhhhhh.....
Biru menghembuskan nafas dengan kasar kemudian beranjak dari tempat tidur.
"Percuma juga selalu bertanya 'kenapa bisa bagaimana bisa'. Jalani sajalah." Ujar Biru sambil melangkah gontai kembali ke kamarnya dan Sora. "Jangan menyerahkan 100% Biru, jangan sampai kayak dulu lagi." Gumamnya sebelum memasuki kamar.
Begitu membuka pintu ia terkejut melihat Sora belum tidur. Pria itu masih membaca buku sambil bersandar di headboard tempat tidur.
Yang lebih mengejutkan Biru, Sora segera menutup buku dan menatap Biru langsung ke manik matanya. Tatapan Sora yang lembut membuat Biru kalang kabut.
Deg...Deg...Deg...
"Ab ... Abang." Tiba-tiba Biru menjadi canggung.
Tanpa Biru tahu, Sora pun merasakan hal yang sama tiap kali mereka hanya berduaan.
"Sini." Sora bergeser sedikit dan menepuk kasur di samping kanannya, meminta Biru untuk duduk disitu.
Biru menurut, tanpa mengucapkan apa-apa ia segera mendekat dan duduk.
"Ichi sudah tidur?" Tanya Sora dengan lembut.
"Iya Bang, sudah."
"Lama ya tidurnya?"
Biru menggeleng pelan. "Tidak kok Bang."
"Terus, kenapa kamu lama di kamar Ichi?"
"Eh... Eumm itu ... "
Sora menarik dagu Biru agar menatapnya. "Kamu menghindari Abang?"
Biru tersenyum aneh. "Tidak, tidak Bang. Kenapa juga aku harus menghindari Abang. Aku ganti piyama dulu." Biru segera beranjak. Namun dengan cepat tangan Sora menahan dan menariknya hingga Biru kembali duduk.
Sora mengubah posisi duduk dan memegang pundak Biru. Ia menatap Biru dalam-dalam.
"Kenapa harus menghindar? Bukankah kita sepakat memulai semua dari awal?"
Biru tidak bersuara, hanya mengangguk.
__ADS_1
"Kalau begitu, hadapi debaran itu. Jangan dihindari." Imbuh Sora sambil menunjuk ke dada kiri Biru.
Biru kembali mengangguk.
"Eh? Apa?"
Biru tersadar, ia cepat-cepat menggeleng. "Deb ... debaran apa?!"
Sora menyeringai. "Jawaban pertama adalah yang paling jujur." Ia melepaskan Biru dan bersedekap.
"Tidak." Sahut Biru singkat dan bergegas masuk ke dalam walk in closet. Sora tersenyum tipis dan kembali membaca bukunya.
Beberapa menit kemudian, Biru muncul di ambang pintu walk in closet.
"Abang, kemana futon milikku? Kenapa tidak ada? Apakah pelayan membersihkannya?"
"Aku menyuruh pelayan menyimpannya di gudang. Kamu tidak memerlukan itu lagi." Jawab Sora tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.
"Apa?!" Biru melangkah mendekati Sora dengan cepat. "Terus aku tidur dimana?"
Sora mengernyit. "Tentu saja disini, denganku."
"Tidak mau." Tolak Biru mentah-mentah.
Sora berubah serius. "Bagaimana hubungan kita bisa berkembang kalau kamu tidak mau tidur bersama Abang?"
"Tap ... tapi ... "
Melihat Biru tidak menjawab. Sora segera meletakkan bukunya di nakas dan menarik tangan Biru pelan. Seiring dengan naikknya Biru ke tempat tidur, Sora bergeser.
"Aku suami kamu, Biru. Bukan orang lain." Ucap Sora dengan penuh kelembutan.
Dan kalimat itu membuat Biru bergerar bagai tersengat listrik. Ia cepat-cepat masuk ke dalam selimut dan bersiap tidur.
"Selamat tidur, Abang."
Sora terkekeh pelan. "Selamat tidur, istriku."
"Abang!" Biru menatap kesal.
"Kenapa?" Sora memasang wajah tak bersalah.
"Berhenti mengganggu."
"Aku hanya mengucapkan yang sebenarnya kok. Is ... tri ... ku." Ucap Sora penuh penekanan.
Biru mengulurkan tangannya dan memukul pinggang Sora. "Abang!"
"Aduh! Kamu berani sekali pukul disitu."
__ADS_1
"Kenapa tidak berani?" Biru menjulurkan lidah.
Sora menyipit, tak lama kemudian ia ikut masuk ke dalam selimut.
"Eh! Abang!"
Tanpa aba-aba Sora segera menyerang pinggamg Biru dengan jemarinya. Hingga Biru tertawa terpingkal-pingkal akibat ulah Sora.
"Ab ... Abang ... hahahaaa."
"Rasakan." Sora terus menggelitik Biru sambil tertawa. Ia tidak peduli Biru meronta dan menedang hingga selimut yang mereka pakai sudah jatuh ke bawah.
"Abang ... Abang ... hahahaha ... "
Sora menulikan telinganya, ia tidak peduli. Sora begitu menikmati menggelitik Biru. Tawa keduanya memenuhi kamar.
"Abang ... Abang ... sudah ... sudah." Biru tak bisa menahan geli lebih lama lagi. Nafasnya terengah-engah.
Sora menghentikan tangannya dan tertawa. Dengan tangan kanan menopang kepala, Sora menatap Biru yang masih mengatur nafas.
"Seperti anak kecil saja." Ejek Biru.
"Memang kamu anak kecil."
"Umurku sudah 24 tahun." Sahut Biru tidak terima.
"Dengan wajah seperti ini," Sora mengulurkan tangannya membelai pipi Biru, "siapa yang akan percaya?"
Biru tak lagi menanggapi, ia tertegun menatap Sora yang sudah berani membelai pipinya. Lebih herannya lagi, ia tidak ada niat menepis tangan suaminya ini.
"Ab ... Abang."
Sora mengerjap.
"Ehmmm!!" Ia segera menjauhkan diri dari Biru. "Maaf. Selamat tidur."
Biru tersenyum malu dan membalikkan tubuh membelakangi Sora.
Sementara itu, di Hongkong....
Seorang pria memasuki ruang kerja Arya dengan terburu-buru.
"Tuan." Pemuda itu membungkuk memberi hormat.
"Ada masalah apa, Jimmy?"
"Romanov ingin bertemu." Jawab tangan kanan Arya itu.
"Biasanya dia akan menelepon jika ada perlu." Arya mengernyit. "Suruh dia masuk."
__ADS_1
"Baik Tuan."
...****************...