
Biru yang duduk di samping Romanov tampak sibuk. Ia mengambil pistol yang tadinya ia sembunyikan dan menyimpan itu ke dalam tas.
Romanov yang sedang menyetir melirik sekilas dan tersenyum.
"Sudah persiapan?"
"Tentu, aku tidak ingin mati konyol." Jawab Biru dengan santainya.
Mobil yang dikendarai Romanov berhenti 1 blok dari salon milik Indira. Setelah mengucapkan terima kasih, Biru segera turun dan berjalan kaki menuju salon.
Sementara itu, di ruang kerjanya, Indira sedang menunggu kabar dalam cemas. Beberapa kali ia memeriksa ponsel.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Bos, ada yang mencari." Seorang pria yang seperti wanita menampakkan setengah dari tubuhnya.
Indira mengernyit. "Siapa?"
"Halo ibu mertua." Biru langsung mendorong pintu, membuat wanita pria di dekatnya mendelik tak suka.
"Biru!" Sontak Indira berdiri dari tempat duduknya.
"Ada apa? Bukankah ibu menyuruhku datang? Kenapa terkejut begitu?" Biru melangkah masuk dengan cepat dan membanting amplop coklat besar itu di meja Indira.
Indira mengepalkan kedua tangan, mencoba mengatasi keterkejutannya.
"Lala, kamu keluar dulu." Perintah Indira pada pria gemulai yang menjadi anak buahnya.
"Tapi bos..." Lala tak setuju.
"Ini perintah!" Bentak Indira.
Sambil menghentakkan kaki, Lala pergi menjauhi pintu.
Indira menarik nafas dalam-dalam. "Maaf Biru. Aku sedang tertekan karena masalah salon. Tadi hanya kaget saja. Karena kamu lama sekali." Indira menemukan alasan yang menurutnya masuk akal. "Ayo, duduk dulu."
"Tidak, terima kasih. Aku hanya mengerjakan tugasku saja. Permisi, ibu mertua." Biru segera berbalik untuk pergi.
Ia tidak ingin membahas masalah sebelumnya atau pun menyakiti Indira. Bagi Biru, jika bisa membunuh secara perlahan, untuk apa langsung menikamkan pisau?
"Biru!" Seru Indira membuat Biru menghentikan langkah.
"Apa semua baik-baik saja?"
Kedua alis Biru terangkat. "Seperti yang Ibu lihat." Biru merentangkan kedua tangannya kemudian berputar. "See?"
Biru tersenyum penuh arti dan keluar dari ruangan Indira.
"Sialan!" Desis Indira menahan amarah.
__ADS_1
***
Setelah keluar dari salon milik Indira, Biru segera menghentikan taksi dan menuju sebuah swalayan kemudian tempat pencucian mobil.
Tiba di tempat pencucian, Biru langsung masuk dan menuju ke gudang belakang. Kedatangan Biru tidak dihiraukan oleh para pekerja, mereka beraktifitas seperti biasa. Hanya yang kebetulan berpapasan dengan Biru yang akan menyapa.
"Nona." Seorang pria yang sedang memperbaiki mobil tua menghentikan pekerjaannya dan menyapa Biru.
"Halo Pak Tio." Sapa Biru.
"Mereka sudah menunggu dengan gelisah." Pak Tio menatap kandang besar di depan Biru sambil menahan senyum.
Biru hanya tersenyum tipis dan membuka kandang. Di dalam kandang terdapat 5 ekor anjing Pit Bull Terrier berwarna coklat gelap. Begitu Biru masuk dan menggerakkan jari, kelima ekor anjing itu segera mundur dan duduk.
Biru mengeluarkan beberapa potong daging mentah yang ia beli dari swalayan dan meletakkan itu di mangkuk makan para anjing. Kemudian Biru keluar dan menutup kandang. 5 ekor anjing yang berada di dalam kandang hanya terdiam menatap semua yang dilakukan Biru. Sampai akhirnya Biru mengeluarkan sebuah peluit khusus dan meniup benda tersebut. Anjing-anjing tersebut segera berdiri dan menuju tempat makan mereka masing-masing.
Biru menatap kelima ekor anjing itu dengan senyum puas. Kemudian pergi meninggalkan tempat pencucian mobil.
***
Biru tiba di rumah menjelang sore. Ia mengernyit saat tidak menemukan Ichigo. Jadi ia segera menelepon Farah.
"Halo, Nyonya."
"Farah, kalian dimana?"
"Baiklah kalau begitu." Biru menutup teleponnya sambil menggigit bibir.
Nenek masih marah padaku. Gumam Biru dalam hatinya. Wajar saja, siapa yang tidak akan marah jika ditipu.
Hhhhhhh
Biru menghela nafas kasar. Ia segera masuk ke dalam kamarnya dan Sora.
"Abang?" Biru mengernyit saat melihat Sora berbaring di sofa.
"Hai." Sapa Sora. Suaranya terdengar lemah.
"Tumben jam segini sudah pulang." Ujar Biru sambil meletakkan tas di nakas.
"Abang sakit kepala." Jawab Sora sambil memegangi kepalanya.
Mendengar itu Biru segera mendekat.
"Boleh?" Tanya Biru sambil mendekatkan telapak tangannya ke kepala Sora.
"Iya."
Biru segera meletakkan tangannya ke dahi Sora. "Tidak panas." Gumam Biru.
__ADS_1
"Aku tidak demam. Hanya sakit kepala saja."
"Karena pekerjaan?"
"Ya." Sora terlihat stres. Akhir-akhir ini, Hasan sering mempersulit Sora dengan cara yang halus. Tidak ada jalan lain, Sora harus menghadapi semua masalahnya agar tidak membuat Hasan merasa menang.
Biru memberanikan diri memijat kepala Sora. Ketika melihat Sora tidak menolak dan memejamkan mata, Biru terus melanjutkan pijatannya.
"Paman Ben bilang, kamu pergi mengantar berkas ibu. Apa ibu mempersulit mu?"
Biru menggeleng. "Sama sekali tidak, Bang." Jawab Biru jujur.
"Benar?" Sora tidak percaya.
"Iya Bang."
Sora tak ingin memaksa lagi. Namun jika kedepannya ia menemukan fakta Indira mengerjai Biru, maka Sora akan melakukan tugasnya sebagai suami yang melindungi istri.
"Biru." Panggil Sora.
Biru mengalihkan pandangannya dari kepala Sora ke wajah pria itu dan terkejut mendapati Sora sedang menatapnya dengan lembut.
"I ... iya Bang."
"Makasih ya."
Tanpa sadar Biru tersenyum begitu manis mendengar ungkapan terima kasih Sora yang terdengar tulus.
"Iya Bang."
"Senyum kamu manis sekali." Puji Sora. Tiba-tiba saja ia mendapatkan keberanian mengutarakan pujiannya.
"Jangan ngegombal deh Bang." Sahut Biru. Tak bisa dipungkiri, jantung Biru berdebar dan ia menjadi salah tingkah. Entah kenapa, pujian Sora membuatnya melambung.
"Apalagi kalau mukanya merah begitu. Makin manis aja." Goda Sora.
Biru menghentikan pijatannya dan bergegas menutup pipinya. "Ak ... aku mandi dulu."
Sora menangkap tangan Biru dengan cepat. "Mau kemana?"
"Man ... mandi."
"Nanti saja. Tolong pijat lagi. Aku berjanji tidak akan menggodamu."
Biru menelan ludahnya dengan kasar. Sejak hubungan mereka semakin baik, Sora jadi berani untuk mengganggunya. Dan hal itu sering membuat Biru salah tingkah.
Akhirnya Biru kembali ke tempatnya semula dan memijat kepala Sora.
...****************...
__ADS_1