Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 29


__ADS_3

Suasana canggung sangat terasa didalam mobil. Hingga sampai di rumah, tidak ada satu pun kata terucap dari mulut Biru dan Sora. Dan selama hampir 2 jam perjalanan itu, Biru selalu menatap keluar jendela.


Aduh, leherku pegal. Keluh Biru dalam hati.


Tiba-tiba tangan Sora menyentuh pipi Biru.


"Eh!" Biru refleks menatap Sora.


"Ada semut." Sora menunjukkan seekor semut hitam yang ia ambil dari pipi Biru. "Mungkin karena kamu terlalu manis, makanya semut nempel di kamu."


Abang Sora kenapa jadi tukang gombal begini? Tapi ini terlalu dekat.


Biru menahan nafas, jaraknya dan Sora begitu dekat. Wajahnya pun mulai terasa panas.


"Te ... terima kasih." Biru bergegas keluar, hingga ia lupa melepas sabuk pengamannya.


"Kenapa gugup sekali?" Goda Sora. Ia membuka sabuk pengaman Biru tanpa memundurkan tubuhnya. Hingga aroma maskulin yang menguar dari tubuh Sora tercium hidung Biru.


Rona pipi Biru sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Biru berulang kali menggigit bibirnya. Hingga kemudian Sora mengusap bibir bawah Biru.


"Jangan digigit terus, nanti berdarah." Ucap Sora dengan lembut. Biru terpaku, demikian juga Sora.


Perlahan Sora semakin mendekatkan wajahnya, dan Biru pun tidak berpaling. Ia ikut hanyut dalam suasana di dalam mobil.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Papa! Mama!" Ichigo menggedor kaca pintu Sora.


Sora dan Biru terkejut bukan main. Sontak Biru mendorong Sora dan keluar dari mobil. Sora sampai memegang dadanya untuk mengatasi keterkejutannya. Setelah berdehem ia membuka pintu mobil dan memasang senyum terbaiknya.


"Hai sayang." Sapa Sora pada Ichigo.


"Papa, Mama kenapa? Mama sakit? Mukanya merah sekali." Tanya Ichigo yang terheran-heran dengan Biru yang berlari masuk ke dalam rumah.


Sementara itu, Farah sudah berdiri ketakutan. Ia merasa bersalah tidak bisa menghentikan Ichigo yang mengganggu orang tuanya.


"Mama hanya kebelet." Jawab Sora asal kemudian menggendong Ichigo. "Anak Papa sudah makan?" Tanya Sora setelah mengecup pipi Ichigo.


"Sudah Papa."


Saat melewati Farah, Sora berhenti sejenak.


"Ma ... Maaf Tuan ... " Meski Farah tidak bisa melihat ke dalam mobil, tapi ia cukup paham apalagi majikannya tidak langsung keluar mobil.


"Sudah, tidak apa-apa. Apa jadwal Ichigo sore ini?"


"Oh itu." Farah masih terkejut karena ternyata Sora tidak marah. "Nona harus pergi les balet sore ini."


Sora hanya mengangguk kemudian masuk ke dalam rumah.


Sementara itu, di dalam kamar mandi, Biru beberapa kali membasuh wajahnya dengan air. Debaran di dadanya tak kunjung reda. Kilatan kejadian di dalam mobil kembali melintas.


"Biruuuuu," Biru menepuk pipinya sendiri, "apa yang kamu pikirkan?"

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Biru keluar dari kamar, ia mencari Ichigo. Tepat disaat yang sama Sora keluar dari ruang kerjanya.


Melihat Biru, Sora segera mendekat. "Aku kembali ke kantor dulu." Pamit Sora pada Biru.


"I ... iya Bang."


Sora tersenyum dan mengusap kepala Biru. Setelah itu ia pergi. Satu perlakuan sederhana bagi Sora. Tapi mampu menjungkir balikkan hati Biru.


***


Natsuki, Sora dam Andre sedang berbincang saat tiba-tiba Zayn mengetuk pintu ruang kerja Sora.


"Masuklah Zayn." Ujar Sora karena pintu ruangannya memang terbuka.


"Tuan, Nyonya Indira datang." Lapor Zayn diikuti dengan kemunculan Indira.


"Jadi sekarang kalau mau ketemu kamu Ibu harus lapor dulu ya." Ujar Indira dan menatap Zayn dengan sinis.


"Iya, kan orang asing." Jawab Natsuki.


"Natsuki." Tegur Sora, membuat Natsuki melipat bibirnya karena kesal.


Indira tersenyum manis, namun di dalam hati ia terus mengutuk Natsuki.


"Masuklah Ibu. Ada perlu apa?" Tanya Sora tanpa basa basi.


"Apakah kehadiran Ibu mengganggumu, Sora?" Indira memasang wajah sedih. "Padahal Ibu hanya mau bertemu putra Ibu."


"Pffftttt!" Natsuki menahan tawa.


"Maaf." Natsuki mengulum senyum.


"Ibu tahu, saya harus bisa menjalankan perusahaan sebaik mungkin seperti Ayah. Bukankah Ibu juga akan sedih jika perusahaan diambil alih Paman Hasan?" Jelas Sora. "Jadi jika ada waktu luang saya gunakan untuk belajar."


Kedua alis Natsuki terangkat. Sora menyindir Indira dengan sangat halus.


Kedekatan Hasan dan Indira sudah lama diketahui Sora dan Natsuki. Tapi hanya sebatas itu yang mereka tahu. Dan Sora tidak suka jika Indira dekat dengan Hasan. Karena gelagat buruk sudah mulai terlihat dari pria paruh baya itu.


"Oh ... itu." Indira menjadi canggung. "Ya, bagus jika kamu bekerja keras."


Indira berdehem kecil dan segera duduk di sofa bersama Natsuki.


"Sebenarnya kedatangan Ibu untuk memberi tahu kamu Sora. Ibu sangat sedih dan tidak terima. Disaat kamu bekerja keras, Biru malah asyik bersama pria lain." Kata Indira dengan raut wajah sedih.


"Apa maksud anda, Nyonya?" Andre tidak suka dengan ucapan Indira.


Indira mengangkat kedua alisnya. "Oh, Sekarang Tuan Muda Ciputra juga tertarik dengan masalah Biru?"


"Tentu saja. Karena Kakak kandung Biru memberi Andre mandat untuk menjaga adik perempuannya." Bela Natsuki.


"Benarkah?" Indira memasang senyum curiga. "Kenapa Ibu tidak pernah bertemu kakaknya Biru?"


"Karena Mas Arya terlalu tampan untuk perempuan gatal seperti Raya. Nanti Raya merengek minta dinikahi." Ujar Natsuki dengan ketus.

__ADS_1


"Natsuki." Tegur Sora lagi. Ia sampai memijat pelipisnya. "Cukup."


"Ibu tidak terima Raya dihina." Nada bicara Indira meninggi.


"Tapi Nyonya bisa menghina Biru." Balik Andre.


"Kalian ..."


"CUKUP!" Bentak Sora. Pria itu sampai berdiri. Membuat Natsuki menjengit saking kagetnya.


Sora menyugar rambutnya dengan kasar. "Mana bukti kalau istriku bersenang-senang dengan pria lain, Ibu?"


Wajah marah Indira berubah menjadi tenang. Ia bersemangat mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Kemudian Indira menyerahkan ponsel dengan tampilan awal sebuah video kepada Sora.


"Lihatlah, ini buktinya." Indira tersenyum semanis mungkin.


Natsuki dan Andre segera beranjak ke belakang Sora untuk melihat video yang dimaksud Indira.


"Kelihatannya saja baik, padahal tukang selingkuh. Ibu tidak terima kamu dikhianati." Ujar Indira memanas-manasi.


"Pfffttt!!!" Kembali Natsuki menahan tawa. Sedangkan Andre tersenyum lebar sambil geleng-geleng kepala.


Sora menyerahkan ponsel Indira yang masih memutar rekaman Biru yang sedang dipeluk Arya saat di restoran. Ia mengatur nafas untuk menahan kesal.


"Ibu, terima kasih sudah memata-matai istri saya. Tapi saya rasa, Ibu tidak perlu melakukannya lagi. Dia bukan perempuan yang mudah jatuh ke pelukan laki-laki lain." Ujar Sora dengan tegas.


"Sora, kamu masih percaya saja meski sudah melihat rekaman ini?" Indira menatap tak percaya.


"Ya, karena saya begitu mencintai Biru. Saya percaya, dia tidak akan mengkhianati kepercayaan yang saya berikan. Dan tidak mungkin mengkhianati pernikahan kami." Jawab Sora tegas.


"Kamu jangan terhasut oleh Biru." Indira tetap kekeuh. "Kamu jangan mudah dibodohi dia."


"Kakak bukan pria bodoh yang sembarang memungut sampah!" Sambar Natsuki dengan emosi menggebu-gebu. "Karena lelaki yang memeluk Biru adalah ... "


"Natsuki!" Sora dan Andre segera menegur untuk menghentikan kata yang akan meluncur keluar dari mulut Natsuki.


Natsuki menatap kedua pria di sampingnya bergantian. Andre menggeleng pelan dan mengusap punggung Natsuki.


"Siapa lelaki itu?" Indira tidak menyerah.


"Seseorang yang bisa membunuh tanpa berkedip jika identitasnya disebarkan begitu saja." Jawab Andre.


"Oh, jadi kau takut dibunuh, Sora? Makanya membiarkan Biru selingkuh." Tanya Indira dengan sinis.


Sora menggeleng. "Bukan itu yang saya takutkan jika memberi tahu Ibu. Karena jika kami bicara, yang akan dibunuh adalah Ibu."


Indira membulatkan kedua matanya. Ia segera mengambil barang-barangnya dan pergi dengan emosi yang menggunung.


"Dia tidak akan berhenti." Ujar Andre begitu pintu ditutup dengan kasar.


"Maka hari kematian orang yang disewa untuk menyelidiki sudah dekat." Sahut Sora.


Mereka tahu benar, berurusan dengan Head Dragon sebuah Triad sama dengan mengantar nyawa.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2