
Biru tidak berani menatap Nenek Keyko yang duduk di depannya. Dengan kepala yang selalu menunduk, ia terus menunggu dalam diam. Sampai akhirnya terdengar helaan nafas dari Keyko.
"Jadi, jika aku terus berpura-pura membersihkan kuku sampai tahun depan, kau akan tetap diam?" Tanya Nenek Keyko dengan wajah kesal.
"Maaf Nek."
Hhhhhhhh
Nenek Keyko memijat pelipisnya.
"Setiap bertemu hanya kata maaf saja kau ucapkan. Tidak bosan?"
"Tidak Nek. Saya benar-benar minta maaf."
Tanpa Biru tahu, Keyko mengulum senyum menatap Biru. Ia sudah mencapai batasannya.
"Cukup."
Biru sontak mengangkat wajahnya.
"Sudah cukup, aku tidak bisa berpura-pura marah lagi." Imbuh Nenek Keyko sambil tersenyum.
"Nenek ... "
"Kami hanya ingin kau terus merasa bersalah hingga tidak akan berbohong lagi pada tetua." Amaya menambahkan.
"Ah, kau sudah datang rupanya. Ayo sini." Keyko memanggil Amaya agar segera duduk bersamanya.
"Maaf Nenek. Saya benar-benar menyesal." Biru menatap Keyko dan Amaya bergantian.
"Baiklah. Permintaan maafmu diterima. Cepat ke dapur, buatkan kami sup sarang burung walet." Sahut Amaya kemudian.
Biru tertawa kecil. "Siap bos."
Namun sebelum ke dapur, Biru sempat memeluk Keyko dan Amaya bersamaan.
__ADS_1
***
"Sepertinya ada yang sedang bahagia." Ujar Sora saat memasuki paviliun. Di depannya, terlihat Keyko, Amaya, Natsuki dan Biru sudah bercengkrama seperti sedia kala.
"Sora sudah pulang rupanya." Sahut Keyko.
Biru segera berdiri dan menghampiri Sora untuk mengambil tas kantor pria itu.
"Abang mau minum apa?"
"Minum kamu, boleh?" Jawab Sora seenaknya.
"Abang." Biru sampai terkejut, apalagi Sora tidak menurunkan volume suaranya.
"Jangan disini. Paviliun ini tidak kedap suara. Kau tega mengusir kami yang sudah renta ini keluar dari sini?" Tanya Keyko pada Sora.
"Ya, setidaknya kasihani Natsuki yang belum punya kekasih." Imbuh Amaya.
"Nenek!" Natsuki protes dengan wajah memerah.
Biru segera ke dapur menyiapkan teh hangat untuk Sora. Karena Sora tidak menjawab pertanyaannya dengan benar, ia tidak mau mengulanginya kembali. Sora harus minum apapun yang Biru suguhkan.
Sedangkan Natsuki, meski ia tertawa, dalam hatinya ia benar-benar gelisah. Beberapa kali ia memeriksa ponsel miliknya. Dan itu semua tidak lepas dari pengamatan Biru.
Hmmmm...benih-benih cinta sudah tumbuh dan mulai kuncup.
Biru menatap Natsuki penuh arti.
***
"Mama, malam ini tidur sama Ichi ya." Ichigo merengek di depan pintu kamar Sora dan Biru. Sedangkan Farah sudah bergerak gelisah di belakang Ichigo. Bahkan ia bisa merasakan tatapan membunuh Sora yang sudah duduk di tepi ranjang
"Iya, Mama akan temani Ichi."
"Ma ... maaf Nyonya. Sa ... saya ... "
__ADS_1
Biru mengangkat tangannya. "Tidak apa-apa Farah. Saya mengerti."
Farah berkali-kali menelan ludahnya dengan kasar. rasanya ia sudah hampir pingsan akibat tekanan berat dari dalam kamar.
"Abang, malam ini aku temani Ichi." Pamit Biru tanpa beban. Ia bahkan langsung keluar dan menutup pintu.
Mati aku, besok resmi jadi pengangguran. Ratap Farah dalam hatinya. Ia sudah menyadari kalau akhir-akhir ini Sora mulai bersikap lain pada Biru. Ia bahkan bisa berebutan makanan kecil yang dibuat Biru untuk Ichigo.
Sedangkan di dalam kamar, Sora memeluk guling sekuat tenaga untuk menyalurkan rasa kesalnya.
"Ichiiiiii." Sora benar-benar gemas. Ia mengambil ponsel dan mengirimnya ke nomor Farah.
5 menit berlalu ...
20 menit berlalu ...
40 menit berlalu ...
1 jam berlalu ...
Sora sudah tidak bisa menahan diri lagi. Ia segera keluar kamar menuju kamar Ichigo. Benar saja, Farah sedang berdiri menahan kantuk di depan kamar Ichigo sesuai perintahnya.
Melihat Sora datang, Farah segera berdiri tegak. Sora tidak berkata apa-apa, ia segera masuk ke kamar Ichigo. Beberapa saat kemudian ia keluar dengan membawa BIru dalam gendongannya.
"Malam ini tidur sama Ichi. Kalau besok pagi dia bangun dan cari Mamanya. Bilang Mama pijat Papanya sampai tertidur karena Papa terlalu capek kerja." Perintah Sora.
"Tap ... tapi Tuan. Itu kan artinya berbohong." Protes Farah.
"Ya, dan besok gaji kamu juga tidak akan bohong." Ancam Sora.
"Ja ... jangan Tuan. Ba ... baik, saya akan mengatakan itu pada Nona Ichi." Suara Farah terdengar pasrah. Ia paling tidak suka jika harus membohongi Ichigo.
Nyonya Biru, please bangun. Dia Farah dalam hatinya.
Namun sia-sia, karena Biru hanya menggeliat pelan dan menyandarkan wajah pada dada Sora. Tempat ternyaman nya saat ini. Dan hal itu membuat Sora bersorak girang dalam hatinya. Dengan berhati-hati ia kembali ke kamar dengan hasil jarahan dari kamar putrinya sendiri.
__ADS_1
"Dasar Tuan Muda. Tidak malu apa ya? Rebutan sama Nona Ichi. Sama anak 6 tahun juga tidak bisa mengalah." Farah menggeleng-gelengkan kepala dan masuk ke kamar Ichigo.
...****************...