Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 53


__ADS_3

Kabar Raya yang bunuh diri sudah diterima oleh Sora. Setelah memastikan seluruh anggota keluarganya ditangani, Sora pergi mengurus jenazah Raya agar bisa segera dikebumikan.


Sepeninggal Sora, Keyko memanggil Biru yang duduk menjaga Ichigo yang sudah tertidur. Sora memang meminta agar mereka dirawat dalam satu ruangan.


"Biru, sayang."


"Iya, Nek." Biru segera datang mendekat.


"Maaf karena anakku sudah mengirim musibah ke rumah kalian."


Biru terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Tapi keputusan Biru sudah bulat.


Biru meraih tangan Keyko. "Kami tahu, Ayah Jun tidak pernah sengaja melakukan ini. Pasti beliau juga tidak menyangka Hasan akan begitu nekat."


Biru menelan salivanya dengan kasar, rasanya sakit berusaha terlihat baik-baik saja. "Jujur saja, aku tidak tahu harus berkata apa, Nek." Buliran bening mulai mengalir. Ia tidak bisa menahan sesak di dadanya lebih lama lagi.


Akhirnya Biru menangis disisi Keyko, ia membenamkan wajahnya ke kasur. Melihat itu, Natsuki membekap mulutnya sendiri saat mulai menangis.


Keyko mengusap kepala Biru dengan berurai air mata. "Maafkan kami Biru. Maafkan kami Nak."


Hati Keyko hancur melihat punggung Biru yang berguncang-guncang.


Sementara itu, di tempat lain.


Pinggiran Kota Jakarta...


Paman Ben yang baru saja bangun sontak duduk setelah melihat beberapa orang di dalam kamar penginapan yang ia sewa.

__ADS_1


"Tu ... Tuan Andre!" Wajah pria tua itu pucat pasi.


"Halo Paman Ben. Nyenyak tidurnya?" Andre menyunggingkan senyuman sinis.


"Ba ... Bagaimana bisa?"


"Berkat keteledoranmu. Kami mengikuti saran Biru dan mulai mengawasi dirimu."


"Ta ... tapi, ka ... kapan ..."


"Kapan kami menyadarinya?" Potong Andre dan diangguli oleh Paman Ben.


"Sejak kepulangan Indira. Biru mengendus sesuatu yang aneh dari tatapan matamu." Jelas Andre. "Barang-barangmu sudah siap, ayo Paman. Pertanggung jawabkan kesalahanmu."


"Aku bisa menjelaskan."


Anak buah Andre membantu Ben berdiri dan membawa pria itu bersama barang-barangnya.


***


"Ben." Keyko menatap tak percaya, ia terluka. Begitu juga dengan Natsuki dan Sora.


"Maaf, Nyonya." Suara Ben terdengar begitu penuh penyesalan.


"Jelaskan." Pinta Sora. Meski marah, ia berusaha untuk mengendalikan diri agar bisa mendengar kebenaran dari mulut pengkhianat di dalam keluarga mereka.


Paman Ben menarik nafas dalam-dalam.

__ADS_1


"7 tahun yang lalu, Tuan Hasan mendatangi saya. Dia menawarkan sejumlah uang untuk ditukar dengan sertifikat tanah di kaki gunung."


"Saat itu Tuan Hasan tahu, saya memerlukan banyak uang untuk keperluan kemoterapi mendiang adik saya, satu-satunya. Jadi saya menyetujui."


"Satu tahun berjalan, tidak ada kemajuan. Tapi Tuan Jun mulai mencurigai perbuatan saya. Namun saat itu beliau belum punya bukti. Hingga kemudian beliau teledor dan saya melihat surat yang ia tulis untuk pria bernama Arman di kota Malang. Saya menberitahu itu pada Tuan Hasan."


Suara Paman Ben mulai berat, dan tak lama kemudian buliran air mata mulai menetes.


"Tuan Hasan langsung memberikan saya uang seperti yang dijanjikan. Namun percuma, adik saya ... adik saya ... dia meninggal."


Biru dan Arya yang mendengar cerita Paman Ben saling merangkul. Rasa sakit, kecewa, bercampur jadi satu. Membuat goresan luka yang besar di hati keduanya.


"Saya ingin mengembalikan uang Tuan Hasan. Tapi semua sudah terlambat. Tuan Hasan kembali dengan tangan kosong. Dan saya mendengar Tuan Jun berbicara dengan seseorang dan mengatakan sahabatnya di Malang sudah tewas dibunuh."


Paman Ben tiba-tiba berdiri dan bersimpuh di depan Arya dan Biru.


"Sungguh saya tidak tahu akan seperti itu. Saya benar-benar perlu uang untuk pengobatan kanker adik saya. Saya sudah terlampau malu sering meminjam uang di Nyonya Keyko."


Biru memeluk Arya dan menangis dalam pelukan Sang Kakak.


"Sejak saat itu saya tidak pernah lagi menerima tawaran Tuan Hasan. Saya tidak ingin mengkhianati majikan saya lagi. Adik saya meninggal karena diobati dengan uang haram."


Tangis Paman Ben semakin pilu. Ia bahkan bersujud di lantai dan menangis sejadi-jadinya.


Apapun alasannya, berkhianat bukanlah hal yang baik. Dan dari setiap perbuatan, pasti akan ada balasan yang akan diterima.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2