Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 47


__ADS_3

London...


Meski Jimmy sudah memukul Arini dengan kuat, namun Arya maupun Antonio tidak mengeluarkan Jimmy dari ruangan tersebut. Hingga Arini yang sudah sadar selalu menatap takut ke arah Jimmy.


Arya dan Antonio berpandangan dan tersenyum puas. Jimmy menimbulkan rasa takut di hati Arini.


"Jadi, bisakah kau memberitahu informasi yang diinginkan para bos ku, Nona Arini?" Tanya Jimmy dengan dingin.


"Ka ... kau banci!" Umpat Arini. "Be ... berani memukul wanita." Ternyata meski takut, Arini masih memiliki sedikit keberanian untuk memarahi Jimmy.


Tak disangka, Jimmy tertawa. Jenis tertawa yang membuat bulu kuduk meremang.


"Aku tak masalah dengan itu. Menguliti dirimu pun aku sanggup." Sahut Jimmy.


"Jangan memancingnya, Arini." Arya memperingatkan.


Wajah Arini bak mayat hidup. Ia begitu pucat, seakan tak ada pembuluh darah di balik kulitnya.


"Katakan, sebenarnya apa yang kalian lakukan di Malang 6 tahun lalu. Selain membunuh Utami." Arya kini berdiri sambil memasukkan kedua tangan ke saku celananya.


"Pukul saja! Ak ... aku tidak akan mengatakannya."

__ADS_1


Jimmy tersenyum, ia sudah menduga Arini tidak akan semudah itu mengkhianati Hasan. Oleh sebab itu Arya kembali duduk, dan giliran Antonio yang berdiri sambil membawa sebuah kotak kayu yang penuh dengan ukiran.


Antonio membuka kotak tersebut dan memperlihatkan isinya pada Arini.


"Anda pasti tahu kegunaan jarum ini." Ujar Antonio sambil menyunggingkan senyumannya yang menawan.


Demi apapun juga, Arini terpukau. Jika saat ini posisinya bukan sebagai tawanan, pasti ia akan menjadikan Antonio sebagai target.


"Aku begitu menyukai akupuntur. Bagiku, akupuntur adalah sebuah seni." Antonio mengambil sebuah jarum.


Ia menatap dalam pada manik mata Arini hingga wanita itu balas menatap dan terhanyut. Antonio menggunakan kesempatan itu untuk menusukkan sebuah jarum di titik vital pada tangan Arini.


"Aaaaaaa... sakiiiittttt!!! Lepaskan jarum itu. Aaaaaaaaaaaa!!!" Teriakan Arini memekakkan telinga.


Antonio segera mencabut jarum yang ia tancapkan. Namun Antonio tidak berhenti. Secepat mungkin ia kembali menusuk ke bagian lain di dekat leher.


Arini tak lagi bersuara, tapi rahangnya tidak bisa mengatup. Arini berusaha sekuat tenaga menutup mulutnya, sayangnya tidak berhasil. Hanya bola mata Arini saja yang berputar kesana kemari.


Antonio tersenyum dan bergerak sedikit menjauh.


"Apakah hasil karyaku bagus, Arya?" Tanya Antonio sambil menoleh sejenak.

__ADS_1


"Bagus, tapi lebih bagus lagi kalau bisa menarik lidahnya agar keluar." Jawab Arya dengan santainya. Ia begitu menikmati penyiksaan yang dilakukan Antonio.


Pria berdarah Italia itu kembali mengambil sebuah jarum dari kotaknya. Kemudian menusuk jarum tersebut di area punggung Arini. Tak lama kemudian Arini merasakan sensasi bagai digigit ribuan semut di bagian belakang tubuhnya.


Arini mulai menangis, tidak terdengar suara tapi air matanya berderai. Melihat itu Antonio mencabut jarum yang sudah ia tancapkan ke tubuh Arini.


Begitu jarum dicabut, Arini segera menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan rasa sakit. Tapi wanita itu tidak berhenti menangis.


"Diam atau kami akan lebih lagi menyakitimu." Ancam Antonio.


Arini menurut, ia berusaha sekuat tenaga menghentikan tangisnya.


"Kau sudah lihat, kami bukan laki-laki yang pemilih. Meski kau adalah wanita, tapi kalau kau tidak memberikan apa yang kami mau, maka kami tidak akan segan kepadamu." Ucap Arya.


"Bunuh saja aku!"


"Maaf sayang, aku tidak akan membiarkanmu mati. Membiarkanmu merasakan sakit tanpa batas waktu sepertinya sangat menyenangkan." Antonio menanggapi permintaan Arini.


Arini menghela nafas dengan kasar, ia tidak punya pilihan lain.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2