
Biru turun dari ranjang Ichigo dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin membuat Ichigo yang baru saja tertidur pulas merasa terganggu. Sebelum meninggalkan Ichigo, Biru mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Ichigo dengan penuh kasih. Tidak bisa dipungkiri, Biru sudah terlanjur sayang pada Ichigo. Hal ini juga yang membuat Biru risau. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi saat kontrak diantara dia dan Sora berakhir.
Biru yang akan masuk ke dalam kamar tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia merasa lapar. Makan malam tadi Biru tidak bisa menikmati makanannya karena tingkah Nyonya Indira yang membuatnya kehilangan selera makan.
Akhirnya Biru menuju pantry dan mengeluarkan sebungkus mie instan. Tidak lupa beberapa buah sosis, pentolan dan sayur sawi. Ketika sudah dipindahkan ke mangkuk saji, Biru menambahkan perasan jeruk nipis.
Biru tersenyum senang, air liurnya sudah sangat banyak tertampung di mulutnya. Namun saat akan menyantap mie tersebut, lamat-lamat Biru mendengar suara Ichigo. Akhirnya Biru meninggalkan makanannya dan kembali ke kamar Ichigo. Benar saja, Ichigo sudah dalam posisi duduk di ranjangnya sambil mengusap mata. Biru bergegas mendekat dan kembali menambi Ichigo untuk tidur.
Biru memerlukan waktu sedikit lebih lama dari yang ia perkirakan saat menidurkan Ichigo. Ia menjadi gelisah karena mie miliknya pasti sudah mengembang dan dingin. Oleh sebab itu setelah Ichigo terlelap, Biru buru-buru kembali ke pantry. Alangkah terkejutnya ia mendapati di dalam mangkuk mie miliknya hanya menyisakan sedikit kuah.
"Ha … bis …" Pundak Biru merosot. Ia menatap tajam ke arah ruang kerja Sora yang tertutup rapat.
"Hahhh … sudahlah." Biru mencuci mangkuk mie tersebut dan kembali ke kamar.
Sementara itu, di dalam ruang kerja, Sora mengusap perutnya yang terasa penuh setelah menghabiskan mie yang dibuat Biru.
"Sepertinya aku harus menambah waktu olahragaku." Gumam Sora pada dirinya sendiri. Kemudian matanya tertuju pada toples berisi sistik yang ada di mejanya.
"Sudah hampir habis?" Sore terdiam, mengingat kembali bagaimana ia tidak bisa berhenti mengunyah cemilan itu.
"Sepertinya aku harus mencari cara agar Biru mau membuatnya lagi untukku."
Keesokan harinya, Sora mendekati Biru yang sedang bersiap mengantar Ichigo ke sekolah.
"Biru."
"Ya?"
"Ichigo ingin dibuatkan cemilan lagi. Miliknya sudah hampir habis." Ucap Sora dengan tenang.
Biru mengernyit. "Benarkah?"
"Ya. Tanya saja pada Ichigo kalau tidak percaya." Setelah berkata demikian, Sora pergi.
Biru menatap Sora dengan satu helaan nafas. Tidak mungkin ia akan mengkonfirmasi hal itu pada Ichigo. Oleh sebab itu Biru memasukkan kegiatan membuat cemilan di jadwalnya hari ini. Namun Biru tidak merasa itu sebagai hal yang membebaninya. Karena ia jadi punya kegiatan di waktu luang.
***
Beberapa hari kemudian, sekolah Ichigo mengadakan kegiatan yang melibatkan orang tua. Biasanya, Natsuki yang akan menemani Sora. Namun kali ini, Ichigo ingin Biru ikut serta.
Biru berusaha menolak dengan berbagai alasan. Akan tetapi ucapannya hanya membuahkan kekesalan di wajah Sora karena Ichigo yang hampir menangis. Dengan berat hati Biru mengikuti keinginan Ichigo. Bahkan ia dan Sora memakai baju yang senada tanpa Biru sadari.
Di sepanjang perjalanan menuju sekolah, Biru tidak bisa fokus mendengar Ichigo bercerita. Kepala Biru dipenuhi dengan pertanyaan "bagaimana saat mereka berpisah nanti?"
Hal itu tidak lepas dari pengamatan Sora. Pria itu pun memikirkan hal yang sama. Saat menawari Biru dengan kesepakatan itu, Sora tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan seperti ini.
***
Halaman sekolah dipenuhi dengan orang tua serta anak murid. Gelak tawa terdengar dimana-mana. Kali ini sedang berlangsung lomba memindahkan bola dari keranjang di garis start, ke keranjang yang dipegang oleh para ibu. Sedangkan para ayah bertugas menggendong anak masing-masing sambil berlari mengantar anak mereka yang memegang bola.
"Ayo Papaaa!" Pekik Ichigo yang berada di punggung Sora ketika melihat ada temannya yang sejajar dengan mereka.
__ADS_1
Sora berlari sekuat tenaga dari garis start menuju Biru yang berdiri sekitar 20 meter dari garis start.
"Yeayyy!!" Ichigo bersorak gembira setelah berhasil memasukkan bola pertama ke dalam keranjang yang dipegang Biru.
Sora segera berlari kembali ke garis start. Mereka hanya diberi waktu 5 menit untuk memindahkan bola sebanyak-banyaknya. Dalam hati Sora merasa beruntung karena terbiasa berolahraga, jadi ia tidak merasa kesulitan. Pasalnya setiap anak hanya bisa memindahkan 1 buah bola, jadi para ayah harus mengerahkan seluruh tenaga agar bisa berlari kencang meski sedang menggendong anak.
"Ayo!!! Ayo!!! Ayo!!!" Terdengar para guru dan keluarga lain memberi semangat kepada peserta lomba.
Semua terlihat bersenang-senang. Begitu pun dengan Biru. Ia terbawa suasana hingga tawa di bibirnya tidak pernah luntur.
"Abaaaaaang!!! Cepetaaaannnn!!!" Tanpa sadar Biru berteriak setelah melihat ada pasangan ayah dan anak lain yang sejajar dengan mereka saat waktu tinggal hitungan detik.
Sora yang mendengar itu menjadi makin semangat. Tawa Biru dan Ichigo seperti tambahan energi buatnya.
Begitu Ichigo meletakkan bola, terdengar peluit ditiup tanda permainan berakhir.
"Yeayyy, bola Ichi banyak!" Ichigo bertepuk tangan di punggung Sora.
Biru bergegas meletakkan keranjang dan mengambil Ichigo dari punggung Sora. Karena ia tahu pasti Sora kelelahan.
"Mama! Bola kita banyak."
"Iya, anak Mama pintar sekali pegang bolanya." Biru menarik hidung Ichigo dengan pelan, membuat Ichigo tertawa lepas.
Sora yang tersengal-sengal mengatur nafas ikut tertawa melihat kebahagiaan keduanya.
Langit yang cerah membuat sinar matahari di jam 10 pagi seperti jam 1 siang. Akan tetapi panas terik tidak menjadi halangan, perlombaan terus berlanjut. Para orang tua dan murid masih tetap antusias.
Sora terpana, Biru selalu terlihat sangat cantik ketika tersenyum dan tertawa. Sayangnya Biru tidak pernah melakukan itu di depan Sora. Dada Sora berdetak lebih cepat, hatinya menghangat. Apalagi saat Ichigo masuk ke dalam pelukan Biru dan mereka tertawa bersama. Sora benar-benar tersentuh.
Ichigo terlihat begitu bahagia bersama Biru. Bertolak belakang dengan situasi jika ada Arini diantara Sora dan Ichigo. Gadis kecil itu akan lebih banyak diam dengan wajah ditekuk.
Suara seorang guru terdengar melalui pengeras suara. Mereka diminta untuk berkumpul karena akan mendengarkan pengumuman pemenang dari setiap lomba.
"Untuk juara pertama lomba memindahkan bola adalah …. Ichigo Kinomoto dan orangtua."
Begitu mendengar kalimat tersebut. Mereka bertiga langsung bersorak gembira. Bahkan saking bahagianya, saat Ichigo meminta Sora menggendongnya, Sora segera mengangkat Ichigo dan kemudian memeluk Biru dengan tangan kirinya yang bebas.
Namun Sora segera tersadar. Ia kemudian melepas Biru yang sudah terlihat kebingungan.
"Maaf." Ucap Sora hanya dengan gerakan bibirnya. Sora takut jika Ichigo mendengarnya meminta maaf, putri kecilnya itu akan bertanya.
Biru hanya mengangguk ketika melihat gerakan bibir Sora.
"Anak Papa hebat." Ucap Sora lalu mengecup pipi Ichigo berkali-kali. Ichigo tertawa dan menggeliat dalam gendongan Sora.
Namun tiba-tiba …
"Papa, cium Mama juga." Pinta Ichigo.
"Eh?" Biru terkesiap.
__ADS_1
"Kenapa sayang?" Tanya Sora dengan alis bertaut.
"Mama juga kan hebat, Pa. Ayo Paaa, cium." Ichigo memaksa.
"Nanti saja ya, malu banyak orang." Biru beralasan.
"Tidak! Harus sekarang." Tegas Ichigo.
Saat Biru hendak kembali beralasan, Sora dengan cepat mencium kening Biru. Bahkan ia tidak langsung melepasnya. Sora sengaja menahan beberapa detik. Membuat Ichigo bertepuk tangan.
"Yeayyyy!!!" Ichigo senang. Biru hanya tersenyum tipis, sedangkan Sora semakin berdebar.
Dari jauh, Natsuki dan Andre yang baru saja datang tersenyum melihat pemandangan tersebut.
"Mereka terlihat sangat bahagia." Gumam Natsuki.
Mendengar itu, Andre kemudian beralih menatap Natsuki. "Sora sudah bahagia. Bagaimana dengan kita? Apa jawabanmu atas lamaranku, Natsuki?"
Mata Natsuki membola, ia menggigit bibirnya untuk sesaat.
"Maaf Andre. Aku belum bisa menerima lamaran ini. Sora belum sepenuhnya mencintai Biru. Dan lihatlah, Biru masih begitu dingin pada kakakku." Jawab Natsuki.
Andre menghela nafas. "Baiklah. Aku akam tetap menunggumu."
"Andre … "
"Tidak ada penolakan untuk yang satu ini." Ucap Andre memotong kalimat Natsuki. "Ayo, kita temui mereka." Andre meraih tangan Natsuki dan mendekati Sora.
"Paman Andre!" Seru Ichigo yang lebih dulu melihat kedatangan mereka berdua.
Sora dan Biru segera berbalik.
"Sudah mau berangkat?" Tanya Sora.
Natsuki dan Andre pun mengangguk. Biru yang tidak mengerti menatap Natsuki dan Andre dengan kening berkerut.
Natsuki yang mengerti kebingungan Biru tertawa kecil. "Ada sedikit pekerjaan di London." Kata Natsuki pada Biru. "Tapi tidak lama kok. Kakak ipar tenang saja, jika Onee-chan menindasmu, aku akan menghajarnya saat kembali nanti."
Biru tersenyum simpul, sedangkan Sora melipat dada dan menatap Natsuki.
"Dia tidak memerlukanmu untuk memukulku."
"Perlu, karena dia pasti sungkan dengan Nenek. Kalau aku kan tidak." Ujar Natsuki.
"Sudah … sudah. Kalian pergi sana, nanti ketinggalan pesawat. Andre, jaga Natsuki baik-baik." Kata Sora dengan tangan melambai untuk mengusir.
Natsuki menipiskan bibir. Ia lalu memeluk Biru dan mencium Ichigo sebelum pergi.
...****************...
__ADS_1