Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 28


__ADS_3

"Maaf kakak ipar, saya kira anda orang asing." Ucap Sora sambil membungkukkan badan.


Arya tersenyum simpul dan mengulurkan tangan. Kejadian barusan membuat hati Arya tenang. Menurutnya, Biru menikah dengan orang yang tepat, meski diawali dengan rencana konyol.


"Arya Lesmana Putra, kakaknya Biru." Ucap Arya dengan penuh wibawa.


Sora cepat-cepat mengulurkan tangannya. "Sora Kinomoto. Senang bertemu dengan anda, Kak eumm Mas."


Arya terkekeh pelan. "Panggil Mas Arya saja. Seperti Biru memanggil."


"Baik Mas. Dan sekali lagi maaf sudah memukul Mas. Saya benar-benar tidak tahu."


Arya melambaikan tangannya. "Sudahlah. Maaf juga anak buahku sudah memukulmu."


Sora menatap Jimmy sekilas. "Sudah tugasnya."


"Namanya Jimmy Lin. Orang kepercayaanku. Jangan salah paham lagi jika suatu saat kau melihat dia berbicara dengan Biru."


Jimmy mengangguk hormat pada Sora.


"Iya Mas, aku tahu."


"Sedang apa Abang disini?" Tanya Biru setelah mereka semua kembali duduk di meja untuk makan.


"Ini restoran milik Nenek Amaya. Nenek memintaku untuk melakukan pemeriksaan mendadak."


Biru mengangguk-angguk mendengar ucapan Sora. Akhirnya mereka berempat menikmati makan siang bersama. Sora dan Arya yang lebih banyak berbincang, untuk mengenal lebih dalam antara satu sama lain.


"Jadi apa pekerjaan Mas di Hongkong?" Tanya Sora setelah ia menjawab semua pertanyaan Arya tentang pekerjaannya.


"Aku seorang Dragon Head salah satu Triad." Jawab Arya dengan santai.


*Dragon Head: istilah untuk pemimpin organisasi kriminal Triad (mafia)


Sora terkekeh pelan mendengar itu, ia menyangka Arya bercanda. Namun saat melihat raut wajah Arya yang datar, dan Biru yang geleng-geleng kepala, senyum Sora memudar.


"Mas tidak main-main?"

__ADS_1


"Menurutmu? Bagaimana adikku yang cantik ini bisa mengenal dunia bawah tanah disana?" Arya balas bertanya.


Sora menatap Biru beberapa saat. "Aku percaya." Ucap Sora sambil tersenyum tipis. Membuat dada Biru bergemuruh. Biru lantas menunduk melihat makanannya untuk menghindari tatapan maut Sora.


"Langit Biru." Gumam Arya kemudian setelah menatap Sora dan Biru secara bergantian.


"Maaf?" Sora tidak mengerti.


"Nama kalian berdua, langit biru. Bukankah arti Sora adalah langit?" Jelas Arya.


"Iya Mas, benar."


"Langit memang tidak selamanya berwarna biru akan ada warna lain disaat-saat tertentu. Tapi keduanya tetaplah suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Dan apapun yang terjadi, langit akan kembali berwarna biru." Arya meneguk air putihnya.


"Mas harap kalian berdua sama seperti itu. Tidak akan terpisah, sampai selamanya. Meski ada masalah, selesaikan dengan baik dan kembali seperti sedia kala." Imbuh Arya.


Biru menatap Arya dengan perasaan haru. Ia kembali menunduk menyembunyikan genangan di pelupuk matanya.


***


"Panggil dia kemari." Perintahnya pada Jimmy.


Jimmy segera keluar dari ruang VIP tersebut. Dan sementara menunggu kedatangan Jimmy, Arya menatap kedua tangannya.


"Tuan." Suara Jimmy membuat Arya mengalihkan pandangannya.


"Masuk dan duduk." Sahut Arya.


Setelah kedua pria itu duduk, Arya langsung memfokuskan tatapannnya pada orang yang dibawa Jimmy.


"Sudah makan?"


"Su ... sudah Mas."


Hhhhhhhhh ... Arya menghela nafas, keputusannya sudah bulat. "Ramdan, kau boleh pergi. Aku membebaskanmu." Bersamaan dengan itu, Arya mengeluarkan sebuah buku tabungan dan kartu debit. "Ini adalah gajimu selama ini."


Ramdan tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Namun bukan ekspresi senang yang dilihat Arya dan Jimmy, melainkan sedih.

__ADS_1


"Terima kasih Mas. Tapi aku belum menebus kesalahanku pada Mas dan Biru. Aku pantas mati."


Arya tertawa sumbang. "Ramdan, tanganku lebih kotor dari tanganmu. Lebih banyak nyawa yang ku lenyapkan dengan kedua tangan ini." Arya mengangkat kedua tangannya.


"Lagipula aku percaya bukan kau yang membantai keluargaku. Aku akan lebih berdosa jika membalas ke orang yang salah. Berdasarkan pengakuanmu, jika malam itu kau tidak datang ke rumahku, orang tuaku akan tetap mati. Biru akan tetap keguguran."


Begitu mendengar kata 'keguguran', Ramdan sontak menangis pilu.


"Anakku ... Anakku."


Arya mengepalkan tangannya mendengar Ramdan terisak sambil berkata seperti itu. Nyatanya, bukan hanya Biru yang tersiksa akibat kejadian naas dulu. Ramdan pun selalu dihantui rasa bersalah. Pantas saja beberapa kali ia mencoba bunuh diri. Membuat mandor dan beberapa pekerja yang diperintahkan Arya untuk mengawasi Ramdan kewalahan.


Arya menelan ludahnya dengan kasar. "Ramdan, semuanya sudah berlalu. Lihat, Biru sudah hidup menjalani lembaran baru."


Ramdan mengusap air matanya dengan kasar. "Ya ... Ya Mas. Aku sudah melihatnya sendiri." Ramdan tersenyum kecut.


"Sekarang, mulailah lembaran baru hidupmu." Arya kembali mendorong buku tabungan ke arah Ramdan.


Ramdan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menarik nafas memantapkan niatnya. "Aku mohon, bawa aku bersama Mas. Aku akan bekerja pada Mas Arya. Karena keluargaku sudah tidak menerimaku lagi." Pinta Ramdan.


Arta memijat pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut. "Tapi Ramdan, pekerjaanku tidak ada yang halal."


"Bukankah di pertambangan itu halal?"


"Ya, memang." Jawab Arya ragu.


"Kalau Mas tidak mau membawaku ke Hongkong, setidaknya izinkan aku kembali ke Kalimantan dan bekerja di tambang."


Arya menatap Ramdan sedikit lebih lama.


Hhhhhhhhh


"Baiklah, kau bisa kembali ke Kalimantan. Jimmy, siapkan tiket untuknya. Dan kau Ramdan, simpan ini, uang itu adalah hakmu."


Senyuman Ramdan terbit. "Terima kasih, Mas."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2