
Keesokan harinya...
Di sebuah rumah tua di tengah hutan, tepat tengah hari seperti waktu yang diminta Hasan.
Sora dan Biru datang membawa semua berkas kepemilikan harta benda keluarga Kinomoto. Mereka memasuki ruangan besar yang berada di lantai dasar. Dimana-mana terlihat penjaga bersenjata lengkap sedang berjaga. Terlihat tato burung elang di leher mereka.
"Selamat datang." Sambut Hasan yang duduk di tengah ruangan.
"Dimana keluargaku?" Tanya Sora tanpa basa basi.
"Mereka aman. Kau bisa menyelamatkannya jika sudah memberi apa yang aku mau."
Tanpa berpikir panjang Sora melempar berkas yang ada di tangannya ke kaki Hasan. Dengan senang hati Hasan mengambilnya. Tak lama kemudian Choky serta beberapa orang mendekat dan menodongkan senjata ke kepala Sora dan Biru.
"Aku tidak ingin mengambil resiko. Sabuk hitam karate dengan level tertinggi dan juga ... entahlah denganmu. Tapi yang aku tahu kau bisa bela diri." Ujar Hasan sambil menatap Biru.
Hasan memeriksa semua berkas satu per satu. Dia bahkan sudah memiliki catatan tersendiri untuk setiap daftar harta benda yang Keluarga Kinomoto miliki.
"Kemana sertifikat ... " Kalimat Hasan terhenti ketika Choky tumbang.
__ADS_1
"Hhhhggg!!!"
Puluhan anak buah Hasan yang ada di luar dan di dalam tewas secara bersamaan dengan luka tembak di bagian kepala. Cipratan darah ada dimana-mana termasuk di tubuh Biru dan Sora.
Saat kepanikan melanda, Biru bergerak dengan lincah mengeluarkan jarum perak. Dalam satu gerakan Biru melempar jarum-jarum tersebut dan menumbangkan anak buah Hasan yang masih tersisa.
Hasan terkejut bukan main. Ia mundur beberapa langkah saat Biru mengeluarkan pistol dari belakang kemejanya. Tak lama kemudian segerombolan orang bersenjata lengkap menyerbu masuk. Mereka menembak kepala para korban jarum perak Biru untuk memastikan kematian anak buah Hasan itu. Sedangkan yang lain bergerak menyisir musuh yang sekiranya masih hidup. Perintah Arya sangat jelas. Bunuh, jangan sisakan, tidak ada tawanan.
"Wah, berantakan sekali tempat ini." Ujar Arya yang baru saja masuk bersama Jimmy.
Jimmy memberikan sebuah handuk pada Sora dan Biru agar keduanya bisa membersihkan darah musuh di tubuh mereka. Sedangkan Hasan, ia sudah terjatuh dengan tubuh bergetar hebat.
"Ar ... Arman? Tidak mungkin! Harusnya kau sudah mati! Sama seperti perempuan brengsek itu!" Hasan terbata, namun masih dipenuhi amarah.
Biru mendekat. "Kau ada di rumah kami malam itu. Apa maumu?"
"Biru." Arya mencegah Biru bertanya.
"Sertifikat tanah milik Jun yang ada di ayahmu." Jawab Hasan, ia merasa tak ada gunanya berbohong.
__ADS_1
"Kau ... yang membantai orang tuaku?" Tanya Biru lagi.
Hasan tertawa sumbang. "Salah sendiri mereka terlalu loyal. Ibumu berkata sertifikat itu sudah tidak ada lagi pada mereka. Tapi informanku tidak akan berbohong."
"Apa maksud semua ini?" Sora tidak mengerti arah pembicaraan Hasan dengan Arya dan Biru.
"Ibu berkata jujur. Sertifikat itu ada padaku." Arya mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat. Bahkan masih lengkap dengan bukti pengiriman paket dokumen di bagian depan.
Kedua netra Hasan membulat sempurna, sertifikat yang ia cari selama beberapa tahun ini, kini ada di depan matanya.
Arya memberikan amplop itu kepada Sora.
"Itu adalah sertifikat tanah di kaki gunung, yang begitu diidam-idamkan bajingan tua ini."
"Dan itu adalah penyebab ayah, ibu dan anak ku tewas." Sambung Biru dengan nada dingin. Hatinya hancur. Karena harta orang lain, keluarganya menderita.
"Tanah itu, membuat orang tuaku terbunuh." Gumam Biru dengan suara lirih.
"Biru." Arya semakin tidak nyaman. Yang ia takutkan menjadi kenyataan.
__ADS_1
"Hartamu menghancurkan keluargaku."
...****************...