Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 27


__ADS_3

Belasan menit berlalu, Biru masih tetap diam. Suasana hening membuat Arya bergerak-gerak gelisah.


"Biru." Panggil Arya dengan suara lirih.


Perlahan Biru menatap tepat ke manik mata Arya. Dan tatapan kekecewaan itu sukses membuat jantung Arya seperti hilang dari tempatnya.


"Mas ... Mas percaya begitu saja?" Tanya Biru dengan bibir bergetar. Air matanya perlahan luruh. "Mas ... kamu jahat."


Biru hendak pergi namun Jimmy menghalangi dan Arya segera menangkap lengan Biru.


"Dengerin Mas dulu Dek." Ucap Arya tanpa melepas tangannya.


"Mas sudah menyelidiki semuanya Dek. Makanya Mas berani melakukan ini meski beresiko akan dibenci kamu." Imbuh Arya lagi.


Tangis Biru pecah, Arya segera membalik tubuh Biru dan memeluknya.


"Dia membunuh janinku, Mas." Ucap Biru disela-sela tangisnya. "Dia membuatku tidak bisa memiliki anak lagi."


Arya diam, ia memberi kesempatan pada Biru untuk mencurahkan semua kesedihannya. Setelah itu baru ia akan menjelaskan pada Biru.


"Kurang ajar! Berani membuat istriku menangis!"


Suara berat penuh emosi membuat semua terkejut. Namun reaksi mereka kurang cepat. Karena tiba-tiba saja tubuh Arya sudah ditarik dengan kasar.


Bughh!!!


Sebuah pukulan mendarat ke pipi Arya.


"Tuan!"


"Mas!"


Pekik Biru dan Jimmy bersamaan. Arya yang tanpa persiapan, tidak sempat menangkis serangan tersebut. Ia terhuyung beberapa langkah. Jimmy bergerak menuju penyerang, namun ia kalah telak. Sebuah tendangan mendarat di perutnya.


"Uhhhuukkk!!!" Jimmy terjungkal sambil memegangi perutnya.


Mata Biru membulat sempurna setelah menyadari siapa yang menumbangkan Arya dan Jimmy.


"Abang."

__ADS_1


Sora menatap Biru dengan cemas kemudian memeluk Biru.


Sora melonggarkan pelukannya dan menatap tubuh Biru dengan teliti. "Kamu tidak apa-apa sayang? Mana yang sakit?"


Biru terdiam mendengar pertanyaan-pertanyaan Sora. Ia terlalu kaget dengan panggilan yang Sora sematkan untuknya.


"Sayang, katakan mana yang sakit?" Wajah Sora terlihat begitu khawatir. Ia segera menatap tajam pada Arya. "Brengsek! Tangan mana yang kau gunakan untuk menyakiti istriku?!"


Bersamaan dengan itu, petugas keamanan restoran datang mendekat. Namun Jimmy mengangkat tangannya agar para petugas itu tidak ikut campur.


"Jawab!" Bentak Sora lagi.


"Abang." Biru meletakkan tangannya di pipi Sora. "Dia Mas Arya, kakak kandungku."


Sora mengerjap. "Ap ... apa?"


Sora menatap Arya dan Biru bergantian. "Ja ... jadi ... Dia ... tadi ..."


Bughh!!!


Sebuah pukulan mendarat di pangkal leher bagian belakang, membuat Sora jatuh pingsan seketika itu juga.


"Maaf, ini perintah." Ujar Jimmy sambil menatap Arya sekilas. Ia pun pergi dan meminta pihak restoran untuk menyiapkan ruang VIP.


Mereka pindah tempat dibantu beberapa pelayan yang membopong tubuh Sora.


Setelah duduk dengan tenang dan memastikan Sora baik-baik saja, Biru menatap Arya sambil bersedekap.


"Jelaskan."


Arya menghela nafas dalam-dalam dan mulai bercerita. Tidak ada yang Arya tutupi, bagaimana ia mengambil Ramdan dari penjara sampai akhirnya Ramdan berakhir di pertambangan miliknya.


"Jadi, alibi Ramdan semuanya cocok? Setelah aku jatuh ia langsung pulang?" Tanya Biru sekali lagi.


"Ya, dan ia bahkan mengatakan masih ingat dengan jelas. Ayah dan Ibu masih hidup saat ia pergi." Jawab Arya dengan penuh keyakinan.


"Jadi, siapa yang membunuh orang tua kita?" Tanya Biru dengan suara lirih. Ia memijat pangkal hidungnya.


Arya mengeluarkan selembar foto. Foto tersebut diambil saat ulang tahun Ichigo. Biru sendiri yang mengirim foto itu pada Arya.

__ADS_1


"Perempuan ini." Arya menunjuk sosok Arini yang berdiri di belakang Biru.


"Arini Prawira." Jawab Biru.


"Mas mau ketemu dia. Bukannya dia juga duri dalam daging pernikahan kalian?"


"Dia sudah ke London. Dan jangan berkata seolah-olah pernikahan kami normal." Ucap Biru dengan nada sebal.


Arya hanya tersenyum tipis.


"Kenapa mencari Arini?" Tanya Biru lagi.


"Ramdan melihatnya ada di dekat rumah saat Ramdan akan pergi."


"Apa?!" Biru benar-benar terkejut. "Apakah Ramdan yakin?"


"100%." Jawab Arya dengan tegas.


"Tapi, dia bertingkah seolah-olah tidak mengenalku." Kata Biru setelah beberapa saat berpikir.


"Kalau begitu Mas akan segera menyelidikinya. Secepatnya Mas akan pergi ke London."


"Jika tidak ada di London, coba di Paris." Biru mengingatkan.


Arya mengangguk-anggukkan kepala. "Baiklah."


Sora, di bawah pengawasan Jimmy, mulai sadar. Ia melenguh pelan dan mengernyit.


"Sepertinya, Sora sudah mulai mencintaimu, Dek." Arya menatap Sora yang sebentar lagi akan sadar.


"Sok tahu." Cibir Biru, ia beranjak untuk melihat Sora yang berbaring di sebuah sofa.


"Dan Mas yakin, kamu juga mulai cinta sama suamimu itu." Imbuh Arya. Jimmy yang mendengar hal itu ikut mengulum senyum.


"Jangan sok tahu deh Mas." Ucap Biru kesal.


Namun dalam hati, ia kembali mengingat bagaimana wajah Sora yang begitu khawatir. Sora bahkan memanggilnya 'sayang'. Ingatan tentang peristiwa itu membuat pipi Biru merona.


Dugaan Tuan tidak salah. Gumam Jimmy yang berada di dekat Biru dan Sora.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2