
Sora menjadi bahan tontonan para karyawan mulai dari lantai 1 sampai di depan ruangannya. Bagaimana tidak, Sora terus saja tersenyum lebar hingga menampilkan giginya. Hal yang tidak pernah terjadi sejak kematian Utami, istri pertama Sora.
"Halo Zayn." Sapa Sora terlebih dahulu sebelum Zayn membuka mulut.
"Ha ... halo pak."
"Dasi yang bagus." Puji Sora sebelum masuk ke ruangannya.
Zayn mengerjap beberapa kali. Memastikan pendengarannya tidak bermasalah.
"Zayn!"
Teriakan dari dalam ruangan Sora membuat Zayn tersadar, ia bergegas masuk.
"Apa saja agendaku selain presentasi nanti?"
"Tidak ada pertemuan lain Tuan. Tapi ada beberapa laporan yang harus Tuan periksa."
Zayn segera meletakkan map yang ia bawa. Sora terlihat bersemangat, sedetik kemudian ia sudah tenggelam dalam laporan-laporan itu.
***
Braaakkkkk!!!!
"Brengsek! Brengsek! Brengsek!" Hasan membuang semua barang yang ada di mejanya.
"Bagaimana dia bisa membuat presentasi sebaik itu?! Ia bahkan membuat investor mempercayakan proyek kepadanya."
Hasan berang. Presentasi yang dilakukan Sora terbilang sangat bagus. Menjawab dan menyanggah, dilakukan Sora dengan begitu lancar. Sora membuktikan ia layak menduduki jabatannya.
Selama ini, Sora selalu berada di dalam bayang-bayang Hasan. Hingga dengan mudahnya Hasan menggiring opini bahwa Sora tidak layak menggantikan posisi Jun. Berbagai upaya ia lakukan untuk menjegal Sora. Termasuk mendoktrin Sora bahwa ia tidak mampu melakukan apa-apa tanpa campur tangan Hasan.
Tapi hari ini, Sora membuktikan ia layak dan bisa berdiri di kakinya sendiri. Ketakutan Hasan menjadi kenyataan, Sora adalah Jun berikutnya.
Suara ketukan di pintu membuat Hasan mengalihkan tatapannya.
"Masuk!" Serunya dengan kasar.
Choky, kaki tangannya masuk dan terkejut melihat ruangan itu. Namun ia tidak mungkin bertanya. Lagi pula Choky sudah tahu, pasti Sora yang sudah membuat Hasan begitu marah.
"Ada apa?!"
"Hasil penyelidikan sudah keluar. Perempuan itu adalah putri Arman." Jawab Choky sambil menyerahkan sebuah map berisi laporan yang diminta Hasan.
__ADS_1
Hasan tertawa terbahak-bahak setelah membaca laporan tersebut.
"Sora, memangnya kenapa kalau kau bisa membuktikan diri. Aku akan membuatmu merasakan sakitnya kehilangan untuk kedua kalinya."
Hasan lalu memerintahkan anak buahnya untuk mencari tahu keberadaan Biru. Tentunya mengandalkan mata-mata yang masih ada di dalam kediaman Keluarga Kinomoto.
Setelah mengonfirmasi keberadaan Biru, Hasan segera meninggalkan kantornya bersama Choky.
"Posisi Sora?" Tanya Hasan pada Choky.
"Menurut laporan, ia masih berada di dalam ruangannya, Tuan." Jawab Choky.
"Bagus." Hasan menyeringai. "Mari kunjungi anak istrinya."
***
Biru sedang menemani Ichigo makan es krim saat Hasan dan Choky datang menghampiri.
"Halo, Nyonya. Halo Ichigo."
"Halo kakek." Sahut Ichigo lalu kembali menikmati es krimnya.
Biru kemudian menjulurkan tangannya untuk membersihkan mulut Ichigo yang belepotan. Ia tak tertarik menyapa Hasan.
"Saya rasa, jika peristiwa naas itu tidak terjadi. Anak Nyonya pasti sudah seumuran dengan Ichigo." Ujar Hasan dengan wajah dibuat sedih. "Saya turut berduka, pasti menyakitkan kehilangan anak yang belum lahir."
"Tentu saja dari media. Saya sedang di Malang saat itu. Pantas saja saya merasa familiar dengan nama Nyonya. Ternyata Nyonya adalah korban pembunuhan yang selamat meski kehilangan anak dalam kandungan." Jawab Hasan dengan santai. "Kesempatan kedua tidak datang setiap saat. Jadi harus bijak dalam menjalani hidup."
Biru paham benar apa yang sedang dilakukan Hasan. Pria tua itu sedang mengancamnya.
"Akan saya ingat pesan anda. Tuan Hasan."
Hasan tersenyum. "Permisi, Nyonya. Hati-hati di jalan."
Saat Hasan berbalik, Biru segera mengetik pesan dan mengirim pada pengawal pribadinya.
"Bunuh di tempat. Dan tolong siapkan mobil baru."
Sebenarnya, sesaat sebelum kedatangan Hasan. Biru sudah mendapat pesan ada yang mendekati mobilnya. Namun ia belum sempat memberi instruksi.
"Farah, tolong jaga Ichigo sebentar. Saya akan segera kembali." Ucap Biru pada Farah.
"Iya Nyonya."
__ADS_1
"Ichi sama Sus Farah dulu ya."
Ichigo hanya mengangguk.
Biru segera keluar dari dalam kedai es krim dan masuk ke sebuah toko yang menjual mainan. Biru memasang headset di telinganya. Ia tertawa kecil mengingat pesan Hasan. Biru segera melakukan panggilan ke London.
"Halo dek."
"Mas sibuk?" Tanya Biru sambil berkeliling toko melihat-lihat mainan.
"Tidak, hanya akan masuk pesawat."
"Pulang Hongkong?"
"Ya. Ada apa?"
"Malam itu, Hasan ada di rumah."
"Apa?!" Suara Arya terdengar melengking. "Oh, i'm sorry." Imbuh Arya lagi.
Biru mengernyit mendengar permintaan maaf Arya. "Kenapa?"
"Mas membuat beberapa penumpang kaget. Mas sedang berada di dalam garbarata." Jawab Arya.
[Garbarata: jembatan berdinding yang menghubungkan terminal dengan pintu pesawat]
"Jimmy, kembali. Kita tidak akan pulang hari ini." Terdengar Arya berbicara pada Jimmy.
"Halo dek."
"Iya Mas."
"Mas tahu apa yang kamu mau. Sekarang juga Mas akan mencari wanita itu."
"Terima kasih Mas. Hati-hati."
"Iya, kamu juga."
Biru segera memutuskan sambungan telepon. Ia mengambil boneka Barbie terbaru dan membawanya ke kasir untuk membayar.
Selagi mengantri untuk membayar, ingatan Biru kembali ke 6 tahun lalu. Peristiwa sebelum dan sesudah kejadian, bisa Biru ingat dengan jelas.
Informasi kehamilan Biru dirahasiakan oleh pihak Keluarga Ramdan. Dengan bantuan salah satu anggota keluarga mereka yang berpangkat jenderal di kepolisian. Jadi tidak mungkin Hasan bisa mendengar berita tersebut dari media.
__ADS_1
Manusia bodoh, kau membongkar rahasiamu sendiri.
...****************...