
Keadaan Raya memasuki fase kritis. Setelah rahimnya dibersihkan, ia mengalami pendarahan. Hal itu membuat Indira terpukul dan menyesali perbuatannya. Hasan dengan setia menemani Indira. Tentu saja Hasan berani melakukan itu saat tidak ada satu pun anggota keluarga Kinomoto.
Sora sengaja tidak langsung ke kantor, ia menyempatkan diri untuk singgah di rumah sakit.
Begitu mendekati ruang perawatan intensif, Sora melihat Hasan sedang merangkul pundak Indira. Keduanya berdiri di depan dinding kaca yang memisahkan ruangan mereka dengan tempat perawatan Raya.
"Bagaimana kondisi Raya?"
Pertanyaan Sora yang tiba-tiba membuat Indira dan Hasan berbalik dengan sedikit melompat.
"So ... Sora." Indira terbata. Sedangkan Hasan mencoba bersikap biasa.
"Sora, tidak ke kantor?" Tanya Hasan.
"Aku dalam perjalanan ke kantor dan ingin melihat Raya dulu." Jawab Sora.
"Masih belum ada kemajuan. Tapi semua akan baik-baik saja." Hasan menanggapi.
Sora mengangguk-anggukkan kepala dan tersenyum. "Kalau begitu aku permisi."
"Oh, Sora, mengenai data yang kau minta. Nanti Choky yang akan mengaturnya." Ujar Hasan menghentikan langkah Sora.
"Tenang saja, Om. Aku mengerti. Om bisa fokus menjaga buah hati kalian." Jawab Sora kemudian melangkah pergi.
Kalimat terakhir Sora terasa seperti pukulan bagi Hasan dan Indira.
"Dia ... dia sudah tahu. Bagaimana ini Mas?" Indira panik.
Hasan mengepalkan kedua tangannya. "Kalau begitu akhiri sekarang." Hasan segera mengambil ponsel dan menelepon seseorang.
***
Biru yang mendapat telepon dari Arya segera datang menghampiri Kakaknya itu di apartemen milik Arya.
"Aku kira Mas kembali ke Hongkong." Ucap Biru setelah mengurai pelukannya dengan Arya.
Arya menggeleng pelan. "Tidak, ada sesuatu yang Mas ingin katakan." Ucapnya sambil menuntun Biru untuk duduk.
"O iya Mas. Ternyata adik perempuan Sora dari Indira, bukan anak mendiang ayah mertuaku." Biru sudah tak sabar ingin menceritakan itu pada Arya.
Arya terlihat kaget. "Kalau begitu, anak siapa?"
__ADS_1
"Tebak."
Arya terdiam sambil berpikir. Lalu ia tersenyum sinis. "Hasan?"
"Exactly."
Arya tertawa kecil, "Benar-benar keterlaluan." Desis Arya.
"Ya, dan itu artinya Indira berselingkuh dengan Hasan sejak awal pernikahan. Karena menurut cerita Natsuki, Ayah Jun menikahi Indira saat mereka berusia 6 tahun." Jelas Biru.
Arya hendak mengatakan sesuatu ketika Jimmy datang dan menginterupsi. "Telepon dari Tuan Kilian."
"Mas terima telepon dulu." Arya berpamitan.
"Iya Mas."
Biru menuju pantry untuk mencari kesibukan. Ia melihat buah-buahan di dalam lemari pendingin dan memutuskan membuat salad. Entah apa yang dibicarakan oleh Arya dan Kilian, hingga salad siap disantap, mereka belum juga selesai berbicara.
Biru mengambil piring kecil dan mulai menyantap salad yang ia buat. Tak lama kemudian Arya datang bergabung.
"Kilian ada di Jakarta." Ujar Arya tanpa ditanya. "Ia ingin bertemu setelah pekerjaannya selesai."
"Aku boleh ikut?"
"Baiklah."
Tiba-tiba ponsel Biru berdering. Biru segera mengangkat telepon itu.
"Halo Bang."
"Sayang, kamu dimana?"
"Di apartemen Mas Arya."
"Mas Arya ada?"
"Iya, ada."
"Jangan kemana-mana, tunggu Abang disana." Suara Sora terdengar agak panik. Biru tahu Sora sedang berusaha tenang.
"Iya Bang."
__ADS_1
Biru meletakkan ponsel di meja dengan kening berkerut.
"Kenapa dek?"
"Bang Sora kayak lagi panik Mas."
"Panik?"
Kedua tangan Biru bertaut, ia mulai merasakan perasaan yang membuatnya tidak nyaman.
"Jangan bilang kamu ketularan panik." Ledek Arya setelah melihat perubahan di wajah Biru.
"Entahlah Mas. Aku telepon Farah dulu."
Biru segera meraih ponselnya kemudian menelepon Farah. Namun setelah beberapa kali menelepon, tidak ada yang menjawab. Biru semakin gugup.
"Tidak diangkat, Farah kemana?" Gumam Biru.
"Mungkin masih mengurus Ichigo."
Jawaban Arya membuat Biru sedikit tenang. Arya segera berdiri dan mencari Jimmy. Begitu melihat Jimmy, Arya mendekat dengan cepat.
"Siapkan anak buahmu." Bisik Arya pada Jimmy.
Jimmy mengangguk dan masuk ke dalam sebuah ruangan.
Saat Arya akan kembali ke Biru, terdengar bel berbunyi. Arya segera membuka pintu setelah melihat wajah Sora.
"Mas." Sora menjabat tangan Arya dengan diiringi senyum.
Arya menyambut uluran tangan Sora. Kemudian meminta Sora mengikutinya menuju ke Biru.
"Abang."
Begitu melihat Biru, Sora tak dapat menahan diri lagi. Ia segera memeluk Biru dengan erat.
"Ada apa Bang?" Tanya Biru ditengah kebingungannya.
Sora menarik nafas dalam-dalam dan melepaskan Biru.
"Hasan menculik keluarga kita."
__ADS_1
...****************...