
Hasan tertawa melihat Arya dan Sora yang menjadi gusar akibat ucapan Biru. Hal itu membangkitkan emosi Jimmy. Namun ketika Jimmy hendak maju untuk menghentikan tawa Hasan, Biru sudah maju lebih dulu.
Biru menyarangkan sebuah pukulan di wajah Hasan. Kemudian ia bergantian memukuli pria paruh baya itu dengan tangan kanan dan kirinya. Darah mulai mengucur dari wajah Hasan.
Arya segera menarik Biru dengan paksa. Biru sedang kalap, jika tidak dihentikan, Hasan akan mati di tangan Biru.
Sora terpukul, ia tidak pernah menyangka dokumen yang ia pegang saat ini membuat Arya dan Biru menjadi yatim piatu dalam waktu satu malam. Bahkan janin dalam kandungan Biru pun tidak sempat merasakan kasih sayang Sang Ibu.
Sora menatap nanar ke arah Biru yang masih meronta dalam pelukan Arya. Tak ada air mata yang mengalir. Wajah Biru diselimuti aura membunuh yang sangat kuat.
Rahang Sora mengetat saat melihat Hasan yang sudah terkapar mengatur nafas. Tak ingin terlambat, Sora segera menarik paksa Hasan.
"Tunjukkan dimana keluargaku!" Bentak Sora sambil menarik Hasan.
Keduanya menaiki tangga yang mengarah ke lantai dua. Setibanya di sana, terlihat Indira sedang berdiri menodongkan senjata ke kepala Keyko. Namun tangan Indira bergetar hebat hingga pistol bergerak tak tentu arah. Sedangkan Bibi Lun, Natsuki, Ichigo dan Farah berada di samping Keyko dengan tangan dan kaki terikat serta mulut diikat dengan kain.
"Ha ... Hasan. Sialan! Apa yang kau lakukan padanya?" Indira berteriak frustasi.
"Sora, lepaskan Hasan! Atau ... atau aku akan membunuh Nenekmu!" Ancam Indira.
"Apa kau mampu?" Tanya Sora dengan nada meremehkan.
"Membunuh Jun saja aku mampu, apalagi hanya seorang wanita tua." Indira menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan rasa gugupnya.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Tanya Sora dingin. Di saat yang sama, Biru, Arya serta Jimmy muncul.
"Akulah yang membunuh Jun. Aku yang mendorongnya di tangga. Dan perempuan tua sialan ini melihat semuanya." Indira mendorong kepala Keyko dengan ujung pistolnya.
"INDIRA!!!" Sora menggeram dengan suara yang dipenuhi kemarahan.
"Cepat lepaskan Hasan!" Indira balas berteriak. Mau tidak mau Sora melepas Hasan.
"Kau! Sampai kapan akan menelepon terus. Keluar!" Seru Indira sambil menoleh ke belakang.
Kening Arya dan Biru mengernyit, seseorang membuka pintu yang ada di belakang Indira.
"Bunuh mereka semua!" Perintah Indira lagi.
"Yes Ma'am." Jawab pria bertubuh besar dan berkulit gelap yang baru muncul itu. "Hmmm??? Mr. Arya?? Miss Everest??"
"Great to see you, Mr. Kilian." Arya melambaikan tangan.
"Hahahaha... Mr. Arya." Kilian menyimpan kembali senjatanya dan mendekati Arya kemudian berpelukan.
Indira dan Hasan menatap keduanya dengan tatapan tidak percaya.
Biru tak mampu lagi menahan tawa. "Pfftt! Hahahahaha! Berapa kali kalian akan menyewa orang yang kami kenal untuk membunuh kami?" Biru menatap Indira dengan tatapan sinis.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Indira balik bertanya.
"Romanov adalah rekan kami. Dan dia belum pernah menang melawanku." Jawab Biru disertai senyum sinis.
"Wanita ******!!!" Indira mengacungkan senjatanya.
Namun dengan cepat Jimmy menarik pelatuk. Sebuah peluru tajam melesat menembus pergelangan tangan Indira.
"Aaakkkhhhh!!!" Indira terjatuh sambil memegangi tangannya yang bercucuran darah.
Sora kemudian mendekati keluarganya dan melepaskan ikatan mereka. Arya dan Jimmy ikut membantu. Begitu juga dengan Biru, ia segera berlari ke arah Ichigo dan memeluk gadis kecil itu dengan erat.
"Mama!" Tangis Ichigo dalam pelukan Biru.
"Ringkus mereka." Perintah Arya pada Andre dan beberapa anak buah Arya yang menyusul naik ke lantai 2.
Kedua anak buah Arya segera melaksanakan tugasnya. Sedangkan Andre langsung berlari menuju Natsuki dan memeluk gadis itu.
"Mana yang sakit?" Tanya Andre pada Natsuki dengan wajah khawatir.
Natsuki tersenyum pelan. "Aku baik-baik saja."
Andre menghujani wajah Natsuki dengan ciuman. Di saat yang sama, tatapan Sora dan Biru saling bertemu. Namun keduanya segera sama-sama membuang muka.
__ADS_1
...****************...