Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 20


__ADS_3

Biru menatap cermin dengan wajah kuyu. Ia terus saja menyesali keputusan bodoh yang sudah ia buat.


Dulu, karena terlalu cinta, ia salah memilih pasangan dan kehilangan keluarganya. Dan kini, karena masih dipenuhi dendam, ia menerima tawaran Sora, dan berakhir dengan pernikahan.


"Hahhh… Mengambil keputusan disaat emosi benar-benar sebuah bencana." Ujarnya lirih.


Biru kembali mengusap wajah dengan handuk dan memutuskan untuk keluar. Di dalam kamar, Sora sudah duduk di sofa, seperti sedang menunggu. Benar saja, begitu Biru muncul, pria itu langsung berdiri.


"Biru, mari kita bicara."


Biru menatap Sora sejenak kemudian mengangguk. Ia duduk di tepi ranjang, berhadapan dengan Sora.


Sora menarik nafas dalam-dalam. Ia menatap Biru yang terlihat tanpa ekspresi. Sora menjadi gugup, karena Biru benar-benar tidak terbaca. Bahkan sorot matanya pun tidak bisa membuat orang menerka apa yang tengah Biru rasakan.


"Maafkan aku." Ucap Sora setelah menenangkan diri.


"Tidak. Ini juga salah saya. Seandainya saja saya tidak menerima tawaran anda."


Sora tercenung, Biru kembali menggunakan kata "anda". Membuat Sora merasa di depak dari kehidupan Biru.


"Biru … "


"Tapi sudah terlanjur. Mau bagaimana lagi." Biru memotong ucapan Sora.


Tiba-tiba suasana menjadi hening. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sampai akhirnya terdengar helaan nafas Sora diikuti dengan hentakan kakinya. Biru terkejut dan mengangkat kepala. Sora mendekat sambil mengulurkan tangan.


"Mulai dari nol ya." Ucap Sora menirukan gaya bicara petugas pom bensin. "Hai. Namaku, Sora Kinomoto." Imbuhnya tanpa menarik tangan.


Biru mengerjap, ia ragu-ragu. Tapi tidak ada jalan untuk kembali. Mereka sudah mengucap janji di hadapan Tuhan dan para saksi. Janji sebenarnya, bukan janji palsu seperti saat di Malang.


Akhirnya Biru pasrah, ia tidak tahu apa yang akan terjadi kedepan. Ini adalah konsekuensi dari kesalahannya. Ia memantapkan hati, kemudian Biru menyambut uluran tangan Sora dan berdiri. "Halo. Saya, Biru Nawangsari Putri."


"Senang berkenalan denganmu, Biru."


"Senang berkenalan dengan anda juga, Tuan." Jawab Biru sambil menarik kembali tangannya.


Sia-sia saja, Sora tidak melepaskan tangan Biru sama sekali.


"No. Bukan Tuan tapi Abang." Koreksi Sora.


Biru menahan nafas, masih tidak mengerti dengan tujuan Sora. "Baiklah, Abang."


"Aku ingin kita memulai dari awal. Mulai dari berteman, mungkin." Tawar Sora.


"Teman?"


"Ya. Kita sudah terikat pernikahan yang sesungguhnya. Tapi hubungan kita masih seperti ini." Sora menunjuk tubuhnya sendiri dan Biru secara bergantian. "Jadi, ada baiknya kita memulai dari awal. Aku akan memenuhi janjiku untuk membahagiakanmu. Tapi bagaimana bisa aku memenuhi janji itu jika aku saja tidak mengenalmu." Jelas Sora sambil melepas tangan Biru.


Biru tersenyum tipis setelah mengetahui maksud Sora. Pria di depannya itu ingin mengubah terpaksa menjadi terbiasa. Sora sedang mengutarakan keinginannya untuk menjalani komitmen berumah tangga dengan sungguh-sungguh.


Biru kembali menarik tangan Sora dan menjabat tangan itu dengan hangat.


"Nama panggungku adalah Everest. Aku adalah petarung dunia bawah tanah di Hongkong."


Mata Sora membulat sempurna. "Petarung? Maksudmu, tarung bebas?"


Biru mengangguk.


"Bagaimana bisa?"


Biru melepas tangan Sora. "Setelah kejadian naas yang menimpaku. Mas Arya, kakakku satu-satunya, membawaku ke Hongkong. Belajar dari kesalahan sebelumnya, aku  minta untuk mempelajari semua jenis olahraga bela diri."


"Dan kakakmu mengijinkan itu?"


"Ya."


Sora menghela nafas. "Jadi, kau berkenalan dengan Andre dan Natsuki di Hongkong?"


"Ya, Kak Andre sering menonton pertandingan ku jika sedang berada di Hongkong. Kak Natsuki juga."

__ADS_1


"Natsuki saja, tidak usah pakai Kak. Sekarang kamu adalah istriku yang sah, jadi dia adik iparmu." Ujar Sora mengingatkan.


Wajah Biru langsung merona. Entah kenapa ia merasa tidak siap mendengar kalimat itu meluncur dari mulut Sora.


Dia semakin menggemaskan jika tersipu. Gumam Sora dalam hati saat menyadari perubahan mimik wajah Biru.


"Ehmm! Ya, itu maksudku." Biru menjadi salah tingkah.


"Tidak apa-apa. Lama-lama pasti terbiasa."


Tanpa sadar tangan Sora terulur untuk mengusap punca kepala Biru. Namun dengan cepat Biru menghindar.


"Maaf. Aku tidak akan menyentuhmu lagi jika kau tidak mengizinkan." Ujar Sora sambil menahan malu.


***


Satu minggu kemudian…


Perlahan-lahan Biru mulai mengikis pembatas yang ia bangun terhadap Sora. Meskipun begitu, hubungan mereka masih terlihat formal seperti bos dan staf di kantor. Bahkan Biru belum mau tidur ditempat tidur bersama Sora.


"Abang, apakah ini cukup?" Tanya Biru saat memeriksa kado yang akan ia bungkus.


"Iya, anak bayi sangat cepat berganti ukuran baju. Jadi bawa seperlunya saja." Jawab Sora sebagai seorang duda berpengalaman.


"Baiklah kalau begitu, aku akan membungkusnya."


"Biar pelayan yang melakukannya."


"Cuma membungkus kado saja, aku juga bisa."


Sora menatap Biru yang terlihat fokus membungkus kado. Sejak ia sakit dan menginap di paviliun, memandangi Biru secara diam-diam sudah menjadi hobi Sora.


Sora menghela nafas berat. Kapan aku bisa puas memandangnya secara terang-terangan?


"Sudah siap."


Suara Biru menarik paksa fokus Sora. Ia berdehem lalu berdiri.


Sora dan Biru akan mengantar Ichigo untuk mengunjungi adik Gloria yang baru lahir. Ketika mobil yang mereka tumpangi mulai bergerak, Indira menatap dari jauh dengan tangan mengepal.


"Arini bodoh. Mendapatkan Sora saja dia tidak bisa."


Indira mengambil ponsel dan menelepon seseorang.


"Halo, cepat hubungi kenalanmu itu."


"Romanov?"


"Ya."


"Baiklah."


Indira menutup telepon dan memijat pangkal hidungnya. "Lebih baik langsung menggunakan kekuatan penuh. Perempuan kecil itu tidak bisa disepelekan."


***


"Mama, adik Glo tadi lucu sekali. Ichi juga mau adik bayi seperti adiknya Glo."


Biru menelan ludahnya dengan kasar. Ia tak menyangka, kunjungan mereka berbuah permintaan berat dari Ichigo. Sedangkan Sora, ia hanya tersenyum penuh arti menatap Biru.


"Mama, bisa kan Mama membuatkan Ichi adik?" Tanya Ichigo dengan tatapan memelas.


"I … itu … "


"Iya sayang. Bisa, nanti Mama sama Papa buatkan adik untuk Ichi." Jawab Sora sambil mengusap kepala Ichigo yang duduk di antara mereka berdua.


"Abang!" Desis Biru dengan mata melotot.


Sora mendekatkan kepalanya ke arah Biru. "Kenapa, hmmm? Bukankah kita sudah memulai prosesnya dari minggu lalu?" Bisik Sora.

__ADS_1


Refleks Biru menarik telinga Sora.


"Aduh aduh." Keluh Sora.


Biru menatap ngeri sekaligus dongkol. Sora mengungkit kejadian itu dengan begitu santai.


"Papa kenapa?"


"Tidak sayang, tidak apa-apa." Jawab Sora sambil melirik Biru yang sudah menatap keluar jendela.


Ichigo tidak berhenti begitu saja, sepanjang perjalanan sampai ke rumah, ia terus membahas adik bayi. Ia bahkan membayangkan bagaimana hari-harinya jika sudah mempunyai seorang adik.


Biru mendengarkan celotehan Ichigo dengan hati teriris-iris. Inilah yang membuat dia tidak ingin menikah. Dan mimpi buruk itu ternyata datang lebih cepat dari yang ia duga.


"Biru." Panggil Sora ketika ia melihat Biru sedang melamun di balkon.


"Apa permintaan Ichigo begitu mengganggumu?" Tanya Sora sambil menatap Biru.


Biru menoleh sesaat melihat Sora, kemudian kembali menatap ke depan.


"Iya Bang. Maaf." Jawab Biru dengan suara yang lirih.


"Aku mengerti kalau kau belum siap. Tapi malam itu aku tidak memakai pengaman. Jadi … "


"Aku tidak akan hamil."


Sora mengernyit. "Kenapa? Apa kau memakai alat pencegah kehamilan?"


"Tidak." Jawab Biru diiringi dengan gelengan kepala.


"Lalu?"


Biru menarik nafas dalam-dalam.


"Akibat kekerasan yang aku alami, aku mengalami stres hebat hingga pendarahan. Entah bagaimana, aku juga sudah tidak terlalu mendengar penjelasan Dokter saat itu. Tapi beliau mengatakan, aku akan sulit memiliki keturunan di masa mendatang. Kemungkinannya hanya 2%."


Hati Sora mencelos. Ia menatap Biru dengan iba. Perempuan bertubuh mungil di depannya sudah melalui penderitaan besar di usianya yang masih belia.


"Maaf Bang." Suara Biru bergetar.


Sora mengepalkan kedua tangannya. Antara ingin memeluk Biru atau membiarkan istrinya itu menghadapi kesedihannya sendiri.


"Setelah ini kau boleh membenciku karena sudah menyentuhmu."


Setelah berkata demikian, Sora menarik Biru untuk masuk ke dalam pelukannya. Membuat air mata yang Biru tahan sejak tadi akhirnya tumpah.


Sora terdiam dengan rahang mengeras. Seketika itu ia menjadi begitu marah, ingin membunuh pria yang sudah menghancurkan hidup Biru.


Tangan Sora terulur dan mulai mengusap kepala Biru. Ia bahkan menyandarkan pipi di kepala istrinya.


Beberapa saat, setelah tenang, Biru mulai bergerak hendak melepaskan diri dari pelukan Sora. Sora yang menyadari itu hanya merenggangkan tangan agar leluasa menatap wajah Biru, tanpa melepaskan pelukannya.


"Sudah lebih tenang?" Sora mengusap air mata di pipi Biru.


Biru mengangguk dengan canggung.


"Maaf ya." Ucap Sora sambil menatap langsung ke manik mata Biru. "Permintaan Ichigo sudah mengorek kembali luka lamamu."


"Tidak apa-apa. Ini pasti akan terjadi. Aku hanya tidak menyangka secepat ini bahkan Ichigo jadi orang pertama yang memintanya."


"Jangan bersedih ya. Aku akan mencari cara agar Ichigo tidak mengatakannya lagi." Sora kembali menarik kepala Biru agar bersandar di dadanya yang bidang.


"Ab … Abang." Biru gelisah, jantungnya mulai bertalu. Dan ia takut jika Sora menyadari. Namun sesaat kemudian Biru mengernyit. Debaran dada Sora juga terdengar begitu cepat.


Sora melepaskan pelukannya dengan canggung.


"Ehmmm!" Ia berdehem sambil berdiri. "Aku akan mengambilkan air putih."


  

__ADS_1


...****************...


__ADS_2