Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 24


__ADS_3

Keesokan harinya...


Arya dan Jimmy sudah tiba di bandara Soekarno Hatta. Namun mereka tidak segera keluar dari area bandara, melainkan hanya berganti terminal untuk melanjutkan perjalanan domestik.


"Apakah kita tidak perlu memberitahu Nona Biru, Tuan?" Tanya Jimmy setelah mereka boarding.


"Tidak, pulang dari Berau saja baru kita menemuinya." Jawab Jimmy dengan tenang. "Kalau sekelas Romanov saja menolak, kau pikir akan ada orang lain yang berani mengambil kontrak tersebut?"


"Mungkin ... "


"Elang keparat itu?" Arya melirik Jimmy.


"Iya Tuan." Jawab Jimmy takut-takut.


"Tidak, mereka tidak akan berani bertindak di luar Hongkong maupun Cina daratan. Kecuali penyewa dengan banyak uang."


Jimmy menghembuskan nafas, pasrah. Ia hanya bisa berharap Biru akan baik-baik saja. Jimmy melihat dengan mata kepala sendiri saat Biru berjuang antara hidup dan mati. Bagaimana Biru melanjutkan hidupnya setelah terpuruk. Jadi dalam hatinya, Jimmy berjanji, akan terus mengupayakan yang terbaik untuk keselamatan Biru.


***


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Arya pada seorang mandor di perusahaan tambang batu bara miliknya.


"Dia baik-baik saja, Tuan. Tapi dia selalu mengatakan hal yang sama setiap mengigau dalam tidurnya."


Arya memijat pangkal hidungnya.


"Pernah satu kali ia terkena malaria. Ia menyebut 'Biru' terus menerus. Dokter yang memeriksanya mengatakan sepertinya harus melakukan pemeriksaan kejiwaan pada pemuda itu." Imbuh Sang Mandor.


Arya menghela nafas dengan kasar. "Dimana dia?"


"Sudah menunggu di kantor, Tuan. Begitu anda menghubungi tadi, saya segera memanggilnya."


"Terima kasih."


Arya, Jimmy dan Sang Mandor segera menuju ruangan yang disebut Mandor. Begitu membuka pintu, Mandor paruh baya itu segera pergi.

__ADS_1


"Lama tidak berjumpa, Ramdan." Sapa Arya setelah masuk dan Jimmy mengunci pintu.


Seorang pria dengan tubuh kurus dan berpenampilan acak-acakan berdiri dengan cepat.


"Mas, Mas Arya. Mas, tolong Mas. Aku tidak membunuh Biru. Mas, percaya aku Mas." Ucap Ramdan.


"Sudah 6 tahun, Ramdan. Dan kamu selalu mengatakan hal yang sama. Apa tidak bosan?" Arya menatap Ramdan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Penampilan Ramdan saat ini berbeda jauh dengan Ramdan 6 tahun yang lalu yang dikenal Arya.


Kulitnya yang putih sudah berubah gelap. Tangannya kasar, banyak bekas luka di wajah akibat penganiayaan yang dilakukan Arya 6 tahun lalu.


"Maaf Mas." Ramdan menunduk ketakutan.


Arya menarik nafas dalam-dalam. Menahan sesak di dadanya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk berusaha memaafkan Ramdan. Toh, ia pun bukan orang suci yang tidak pernah membunuh orang lain. Dan dendam tidak bisa membawa kembali kedua orang tuanya.


Namun masih ada nyeri yang muncul saat menatap Ramdan. Arya hanya bisa pasrah, karena nyatanya proses mengampuni tidak semudah membalik telapak tangan.


Sebenarnya sudah beberapa kali Arya membebaskan Ramdan. Ia bahkan memberikan uang tiket agar pemuda itu bisa pulang ke Malang. Namun Ramdan menolak, ia mengatakan orang tuanya sudah tidak menganggap dirinya sebagai anak. Hingga Ramdan tidak lagi memiliki keinginan untuk pulang.


"Duduklah." Ujar Arya setelah ia dan Jimmy duduk.


Ramdan patuh, ia duduk di kursi di depan Arya. Kemudian Arya mengeluarkan beberapa foto terbaru Biru saat ulang tahun Ichigo.


Netra Ramdan membulat sempurna. Dengan tangan bergetar ia mengambil foto yang diletakkan Arya di meja.


"Bi ... Biru." Suara Ramdan tercekat. Ia mengusap wajah Biru. "Maaf." Bersamaan dengan itu, air mata Ramdan luruh.


Arya dan Jimmy terdiam. Mereka membiarkan Ramdan menumpahkan semua penyesalannya.


Beberapa menit kemudian Ramdan mulai tenang. Ia menatap satu per satu foto Biru.


"Wajahnya tidak berubah, tetap seperti anak kecil." Ramdan tersenyum kecut. Rasa menyesal semakin saja menumpuk.


Saat ia menatap foto lain, mata Ramdan melebar sempurna.


"Ada apa?" Tanya Jimmy.

__ADS_1


"Sepertinya saya pernah melihat perempuan ini." Ramdan meletakkan foto di meja dan menunjuk seseorang yang berdiri di belakang Biru.


"Dimana?" Tanya Arya antusias.


"Sepertinya di Malang." Ramdan kembali menatap wajah perempuan itu sambil berusaha mengingat.


"Namanya Arini, seorang model. Mungkin kau melihatnya di televisi." Ujar Arya.


"Tidak Mas. Saya ingat melihat secara langsung." Kata Ramdan yakin.


Arya tak lagi menyahut, ia dan Jimmy saling menatap. Lewat tatapan mereka sepakat memberi waktu pada Ramdan untuk mengingat.


"Di dekat rumah!" Seru Ramdan tiba-tiba. "Iya benar. Di dekat rumah kalian Mas."


Arya mengernyit. "Kapan?"


"Malam ... malam naas itu Mas. Saya pergi setelah Biru pingsan. Tidak jauh dari rumah saya melihat perempuan ini. Saya tidak salah ingat Mas." Wajah Ramdan terlihat penuh keyakinan.


"Ceritakan." Pinta Arya. Ia juga memberi kode pada Jimmy untuk membuka salinan soft file berita acara pemeriksaan Ramdan yang disimpan di dalam ipad Jimmy.


"Saat saya keluar dari gerbang dam masuk ke mobil, saya tidak langsung pergi. Tak lama kemudian sebuah mobil datang dan seorang perempuan turun. Namun setelah itu polisi tidak melanjutkan penyelidikan." Kata Ramdan.


Arya tersenyum tipis. Untuk kalimat terakhir itu tentu saja Arya tahu dengan jelas. Karena ia menggunakan uang dan koneksi yang dimilikinya untuk menekan polisi dan menyerahkan Ramdan kepadanya.


Arya menatap Jimmy, dan Jimmy mengangguk. Menandakan apa yang diceritakan Ramdan sudah sesuai dengan yang tertera di berita acara.


Arya mengangguk-angguk kemudian berdiri.


"Pulanglah ke kamp dan kemasi barangmu. Ikut ke Jakarta."


Ramdan terkejut. "Ap ... Apa Mas? Tidak Mas! Saya tidak mau pulang." Tolak Ramdan mentah-mentah.


"Bukankah kau selalu ingin meminta maaf secara langsung pada Biru?"


Mendengar pertanyaan itu membuat Ramdan terdiam. Ini adalah hal yang sudah lama ia tunggu. Dan andai kata saat bertemu Biru langsung membunuhnya, Ramdan tidak keberatan. Asalkan ia sempat meminta maaf secara langsung pada mantan calon istrinya itu.

__ADS_1


"Baik Mas, saya akan bersiap."


...****************...


__ADS_2