
Natsuki akan kembali ke kamarnya saat tidak sengaja mendengar pembicaraan Arini dengan seorang pelayan.
"Awas ya, jangan sampai salah. Gelas sama teko ini ke kamarku, dan yang berisi obat tidur ke kamar paling ujung." Titah Arini pada Sang Pelayan.
Setelah pelayan itu pergi, terlihat Arini terus menyunggingkan senyum. Natsuki belum keluar dari persembunyiannya, ia masih memantau keadaan.
"Malam ini, aku akan memastikan kamu menanamkan benih di rahimku." Gumam Arini yang bisa didengar dengan jelas oleh Natsuki.
Kurang ajar! Dia memasukkan obat p3r4ngs4ng! Geram Natsuki dalam hati dengan tangan mengepal.
Tak lama kemudian Sang Pelayan kembali untuk mengambil upahnya. Dan kemudian Arini masuk ke dalam kamar untuk mulai menjalankan aksinya.
Kesempatan itu digunakan Natsuki untuk mencari Paman Ben.
Di kamar Ichigo, Biru sedang berbaring untuk menemani gadis kecil itu tidur. Setelah Biru melihat Ichigo sudah lelap, ia pun segera pergi menuju kamarnya.
Nenek Keyko yang bersikeras menyiapkan kamar tersendiri untuk Ichigo dan Farah. Agar Biru dan Sora bisa tidur bersama. Tentu saja Biru dan Sora tidak bisa membantah.
"Paman Ben, ada apa?" Biru mengernyit melihat Paman Ben ada di depan pintu kamarnya.
"Selamat malam, Nyonya. Saya hendak mengganti air minum di dalam kamar." Jawab Ben dengan jujur.
"Memangnya kenapa dengan air minum di dalam kamar?" Tanya Biru sambil membuka kunci.
"Tadi saya melihat gelas dan teko yang ada di kamar Nyonya Besar masih sedikit kotor. Jadi saya mengganti semua yang ada di kamar kita. Mungkin ada pelayan yang kurang teliti."
Biru mengangguk-anggukkan kepala tanpa curiga sedikitpun. Mereka masuk dan Biru membiarkan Paman Ben melakukan tugasnya.
"Saya permisi, Nyonya." Pamit pria paruh baya itu setelah melakukan tugasnya.
"Iya Paman."
Setelah pintu ditutup, Biru kembali menatap keluar jendela. Ingatannya kembali melayang pada kejadian beberapa saat lalu. Tepatnya ketika Sora menciumnya.
Tangan Biru terulur menyentuh bibirnya sendiri. Ia masih merasakan luma tan yang Sora lakukan. Hangat dan lembutnya ciuman Sora yang membuat Biru terbawa.
"Astaga, kenapa bisa seperti ini?" Tanya Biru pada dirinya sendiri.
Disisi lain, Arini berhasil membujuk Sora untuk datang ke kamarnya. Ia mengatakan ingin meminta maaf secara pribadi sekaligus berpamitan karena akan kembali ke London kemudian lanjut ke Paris. Sora menolak, namun karena Hasan ikut berbicara, akhirnya Sora menyetujui. Setelah berbincang dengan tamu, Sora akan segera datang menemui Arini.
Tok…Tok…Tok…
Terdengar suara pintu kamarnya diketuk. Arini menuju pintu dengan penuh semangat.
"Hai." Ucapnya dengan senyum mengembang sempurna. "Raya?" Senyum Arini pudar seketika.
"Kak, aku masuk ya. Aku mau cerita, penting." Ujar Raya.
"Apa?" Arini menatap ke dalam kamarnya yang sudah diatur untuk menyambut Sora. "Aku tidak bisa."
"Please kak, sebentar saja." Bujuk Raya lagi. "Kakak lagi sama siapa sih?"
"Sendiri."
"Kalau begitu aku masuk." Raya berusaha menerobos. Ia tidak tahu soal rencana Arini.
"Sudah, kita bicara di kamar kamu saja." Arini menutup kamar dan menarik Raya menjauh. Sementara itu ia mengirim pesan yang isinya meminta Sora untuk menunggu di kamar.
Ketika keduanya masuk, Natsuki yang kamarnya tepat di depan kamar Raya segera keluar.
"Bagus, susah payah aku dan Paman memikirkan cara agar Arini keluar. Ternyata dia keluar dengan sendirinya." Natsuki segera memanggil pelayan yang awalnya disewa oleh Arini. Natsuki dan Paman Ben sengaja menahan pemuda itu di dalam kamar Natsuki.
"Sudah dicampur 'kan, Paman?" Tanya Natsuki ketika melihat pelayan tersebut sudah memegang nampan berisi dua buah coklat hangat yang akan diantar ke dalam kamar Raya.
"Sudah Nona. Malam ini mereka akan tidur dengan sangat nyenyak." Jawab Paman Ben. Natsuki terkekeh dan segera kembali ke dalam kamarnya untuk menunggu Sora lewat.
***
Biru berdiri di depan kamar Arini dengan ragu. Beberapa saat yang lalu Paman Ben memanggilnya dan mengatakan kalau Arini ingin bertemu dan sudah menunggu. Sebenarnya ia enggan, apalagi tubuhnya terasa sangat lelah. Biru ingin segera beristirahat.
Setelah beberapa kali mengetuk, tidak ada jawaban. Namun karena Paman Bem mengatakan Arini memiliki hal penting yang ingin dibicarakan, maka Biru memberanikan diri untuk masuk.
"Arini." Panggil Biru setelah ia masuk. "Kok tidak ada orang."
Biru duduk di sebuah sofa dan menunggu, ia pikir mungkin Arini ada di kamar mandi. Biru menarik nafas dalam-dalam, ia merasa tak bertenaga saking lelahnya.
"Bau apa ini?" Biru mengernyit saat hidung menghirup sesuatu. "Astaga!!! Ini … afrodisiak!!!"
Biru menutup hidung dan mencari sumber aroma. Ia melihat sebuah diffuser sedang menyala. Biru melangkah cepat menuju ke benda yang berada di depannya.
Benar saja, aroma afrodisiak berasal dari sana. Tanpa pikir panjang, Biru segera mengulurkan tangan hendak menonaktifkan benda tersebut. Tanpa Biru sadari Sora sudah berada di belakangnya dalam keadaan basah kuyup.
__ADS_1
Biru masih sibuk mencari tombol off, tiba-tiba suara bariton milik Sora terdengar.
"Biru." Desis Sora.
Biru menoleh dengan cepat. Wajah Sora terlihat memerah dengan nafas memburu. Pria itu benar-benar basah. Sepertinya ia mengguyur tubuh tanpa membuka baju.
"Tolong aku." Sora langsung menerjang Biru.
"Abang! Lepas!" Dengan sekuat tenaga Biru meronta.
Namun sia-sia saja. Tenaga Sora jauh lebih kuat darinya. Dengan mudah Sora mengangkat tubuh kecil Biru dan membawanya ke tempat tidur.
"Abang!" Biru mulai menangis saat Sora merobek pakaiannya.
"Jangan meronta, aku akan melakukannya dengan lembut." Ucap Sora kemudian menggigit cuping telinga Biru dengan pelan.
Sora menepati ucapannya, ia memperlakukan Biru dengan lembut. Dan karena udara di dalam ruangan sudah dipenuhi afrodisiak, lambat laun h45rat Biru pun bangkit. Namun Biru masih berusaha untuk melawan.
Arini brengsek!!! Arini bajingan!!! Umpat Biru dalam hatinya.
"Aakkhhh!! Abaaaaang!!"
Sia-sia, Sora sudah mendapatkannya.
Jika pergumulan panas yang diiringi suara-suara menggiurkan terjadi di dalam kamar Arini. Maka hal sebaliknya terjadi di kamar Raya. Kamar itu begitu tenang, hanya terdengar suara dengkuran halus yang berasal dari Raya dan Arini.
***
Sora bangun dengan dahi berkerut. Ia terkejut karena berada dalam posisi memeluk seorang wanita tanpa sehelai benang pun yang membatasi kulit mereka berdua.
Sora duduk dan mengintip wanita yang tidur membelakanginya itu.
"Biru?" Sora terkesiap. Ia membuka selimut dan mendapati mereka berdua benar-benar polos. "Astaga, apa yang sedang terjadi? Ini … ini kan kamar Arini?"
Sora berdiri, ia lalu mencari bajunya. "Basah semua?"
Dengan kesal Sora menghempaskan baju dan mencari bathrobe lalu memakainya.
"Apa Biru menjebakku?" Gumam Sora pada dirinya sendiri. "Tapi kalau dia, kenapa harus di kamar Arini?"
Sora menggeleng. "Tidak, Biru tidak mungkin melakukan ini."
Sora kemudian mencari ponsel miliknya. Setelah mendapatkannya, ia segera membuka aplikasi untuk memindai ruangan, mencari kamera tersembunyi.
Ia berjalan menuju sebuah bunga yang tak jauh dari ranjang. Sebuah kamera kecil berada di antara bunga-bunga tersebut, bahkan masih merekam.
Sora segera menghentikan rekaman. Kemudian melihat hasil rekaman tersebut.
Awal video terlihat Arini yang masih berada di depan kamera. Tampaknya ia baru selesai mengatur kamera tersebut. Kemudian Arini menuangkan benda cair ke dalam tempat penampungan air untuk diffuser.
"Itu pasti afrodisiak cair." Gumam Sora. Ia lalu menatap benda berbentuk bulat itu. Ternyata benda tersebut sudah tidak mengeluarkan uap. Sora segera mendekat dan menonaktifkan diffuser.
Tak lama kemudian terlihat Arini berbicara dengan seseorang di pintu. Dari suara yang terdengar Sora bisa mengetahui jika Raya yang datang.
Setelah mereka berdua pergi, Sora melihat dirinya masuk ke kamar.
"Sialan!!! Arini menjebakku. Tapi kenapa bisa melibatkan Biru?" Sora menatap Biru yang masih terlelap.
Hingga akhirnya rekaman menunjukkan pertempuran panas mereka berdua. Sora menahan nafas. Ia tak menyangka benar-benar memangsa Biru.
Suara-suara rin ti han, le ngu han dan re nge kan manja Biru yang terdengar dari video membuat in ti tubuhnya kembali menggeliat. Sora menelan ludahnya dengan kasar. Apalagi tubuh Biru yang polos benar-benar terekspos.
Akhirnya sedikit demi sedikit Sora bisa mengingat kembali apa yang terjadi semalam.
"Aku bersyukur kalau semalam aku melakukannya denganmu." Ucap Sora sambil menatap Biru. "Ya ampun, bagaimana ini? Melihat rekaman tadi aku jadi ingin lagi." Sora mengacak-acak rambutnya. Apalagi saat ia mendengar suaranya sendiri ketika meracau menyatakan milik Biru begitu sempit.
Tak lama kemudian Biru menggeliat. Namun begitu membuka mata, ia langsung menarik selimut sampai ke leher.
"Selamat pagi." Sapa Sora dengan wajah tak berdosa.
Biru menatap tajam, seakan ingin menguliti pria yang berdiri di hadapannya.
"Jangan menatapku seperti itu. Kita berdua dijebak." Ujar Sora. Ia lalu menuangkan air putih ke dua buah gelas yang ada di meja dan memberikan salah satu pada Biru.
Tanpa mengatakan apa-apa, Biru menerima gelas dan meneguk air putih di dalamnya sampai habis. Biru merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Entah berapa kali Sora menerkamnya.
"Berdasarkan rekaman, sepertinya kita melakukannya lebih dari tiga kali." Ucap Sora seakan-akan ia bisa membaca pikiran Biru.
Dengan wajah memerah Biru meletakkan gelas di nakas yang berada di sampingnya. Malu dan marah bercampur menjadi satu.
"Maafkan aku." Sora berlutut di samping ranjang. Melihat itu Biru semakin menaikkan selimut dan memegangnya erat-erat.
__ADS_1
"Aku membencimu." Lirih Biru tanpa mau menatap Sora.
"Tapi, kenapa kamu bisa masuk ke dalam kamar Arini?" Tanya Sora setelah menghabiskan air minumnya.
"Paman Ben bilang Arini ingin berbicara denganku."
Sora terdiam, ia menatap Biru dengan kedua alis bertaut. "Itu aneh. Karena Arini memintaku datang karena ada yang dibicarakan."
Biru mengalihkan pandangannya dan menatap Sora. "Jadi, Abang juga dipanggil Arini?"
"Iya." Jawab Sora disertai anggukan.
"Apa yang terjadi? Siapa yang merencanakan semua ini?"
Pertanyaan Biru tak bisa Sora jawab. Karena ia pun bertanya-tanya. Siapa yang membuat mereka berdua menghabiskan malam bersama. Untuk beberapa menit mereka terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Biru, aku akan bertanggung jawab." Ucap Sora tiba-tiba.
"Apa?!"
"Semalam kita melakukannya berkali-kali dan aku tidak memakai pengaman. Jadi aku … "
"Hentikan!!!" Wajah Biru kembali memerah seperti udang rebus saat Sora mengungkit kejadian semalam. "Jangan katakan apapun dan … "
Biru tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat. Ia merasa panas dan g41r4hny4 kembali naik.
"Biru."
Biru menatap Sora yang juga terlihat gelisah.
Biru menatap ke arah diffuser. "Diffusernya sudah mati. Kenapa bisa … ?"
Sesaat kemudian Biru dan Sora saling menatap. "Air minumnya!" Seru keduanya bersamaan setelah menyadari sumber masalah mereka.
Biru duduk dan menarik semua selimut ke arahnya.
"Menjauh dariku!" Ucapnya sambil menatap Sora dengan tajam.
Namun Sora malah menyeringai dan menatap Biru dengan lapar.
"Tidak akan." Ucap Sora sambil bersedekap.
Biru menatap ke arah pintu.
"Aku sudah menguncinya." Sora tersenyum penuh kemenangan. "Namun jika kau ingin mencobanya, silahkan. Kita belum mencoba gaya di depan pintu."
"Abang!!!"
Sora tertawa, ia lalu memutar rekaman pergulatan mereka berdua dengan volume sedikit ditambah. Sora lalu meletakkan kamera di kaki Biru.
Wajah Biru semakin merah saat ia menyaksikan rekaman tersebut. Ia tidak menyangka akan memanggil Sora dengan rengekan manja.
Sontak Biru menendang kamera dan menutup telinga dengan kedua tangannya.
"Hentikan benda itu!" Teriaknya sambil menunduk. Ia benar-benar tak dapat lagi mengangkat wajah di depan Sora.
Tak lama kemudian Biru merasakan ranjangnya bergerak. Saat ia mengangkat wajah, Sora sudah berada di depannya dengan senyuman lebar.
"Tidak!" Biru meronta, hal itu membuat selimut yang menutup tubuhnya merosot.
"Kau bilang tidak tapi sambil memamerkan tubuh. Apa maksudmu?"
Biru tersadar, saat akan menarik selimut Sora segera menahan tangannya.
"Kita berdua tahu apa yang kita minum. Kau pasti ingat bagaimana kondisiku semalam. Aku sudah mengguyur tubuhku namun tidak berhasil." Sora menatap Biru dengan lembut. "Biarkan aku membantumu, dan kamu membantuku."
"Tapi … "
Sora menunduk dan langsung mengecup bibir Biru.
"Maafkan aku, Biru. Tapi jujur saja. Sepertinya aku sudah mulai kecanduan tubuhmu." Kata Sora sambil menatap Biru dalam-dalam.
Biru tak dapat berkata-kata lagi. Kabut di mata Sora tak terbantahkan. Dan sepertinya ia juga, karena mereka meminum obat yang sama.
Tangan Biru terulur mengusap rahang Sora dengan lembut. Membuat pria itu menggeram tertahan. Perlahan tangan Biru turun ke leher, dada, dan kemudian memainkan otot perut Sora.
"Biru!" Geram Sora.
"Lakukan Bang."
__ADS_1
...****************...