
"Nyonya Indira sedang sibuk!"
"Jangan membuat keributan disini!"
"Cepat panggil polisi!"
Suara-suara teriakan dari staf salon terdengar sahut menyahut. Indira yang tidak pernah mengalami kejadian seperti itu sebelumnya segera keluar dari ruang kerjanya untuk menegur anak buahnya.
"Aaakhhhh!!!" Teriak dua orang staf yang terhuyung dan jatuh di kaki Indira.
Indira menatap nyalang pada pelaku, namun emosinya berubah menjadi ketakutan. Tidak jauh di depannya, Biru menatapnya dengan emosi menyala.
Biasanya Biru menjadi orang yang tidak terbaca, namun kali ini, Biru membiarkan orang bisa melihat apa yang sedang ia rasakan.
Dalam sekejap Biru sudah berada di depan Indira. Pergerakan Biru sangat cepat hingga tidak ada yang menghentikannya. Staf Indira yang tadi jatuh sudah berdiri dan beringsut mundur.
"Kau ... Aaahhhhhh!!!"
Sebuah tamparan yang cukup kuat mendarat di pipi Indira. Wanita itu jatuh ke samping sambil memegangi pipinya yang terasa sakit. Bahkan penglihatan Indira berkunang dan telinganya berdengung.
Semua staf yang melihat hal itu segera menjengit.
"Telepon polisi, maka akan kupastikan kalian meregang nyawa bersama bos kalian!" Biru melayangkan tatapan penuh intimidasi.
Usai mengucapkan ancaman, Biru menginjak salah satu tangan Indira.
"Aaaaaa ... sakit!" Jerit Indira sambil memukul kaki Biru dengan tangannya yang bebas.
Biru menangkap tangan Indira dan mencengkram pergelangan tangan wanita itu dengan sangat kuat.
"Hassssssshhh!" Indira meringis. "Lepaskan! Wanita j4l4n6!"
"Kau mengirim orang untuk membunuhku. Tapi aku tidak membuat perhitungan denganmu. Dan sekarang kau semakin berani bahkan mengirim orang mencelakai kami, mencelakai Ichigo!" Biru menekan kakinya lagi.
"Aaaaahhh ampun ... ampun!" Jerit Indira.
"JANGAN PERNAH BERANI MENGUSIK ANAKKU!!!" Sentak Biru dengan penuh penekanan seraya melepas tangan Indira dan menendang perut wanita itu.
__ADS_1
"Aaaaahhhh!!!" Indira berguling memegangi perutnya.
"Dek!"
"Biru!"
Andre dan Arya muncul bersamaan. Arya segera menarik Biru dan membawa Sang Adik keluar dari sana.
"Tolong! Tolong! Dia mau membunuhku!" Indira menghiba menatap Andre.
"Jangan berlebihan Nyonya. Jika dia benar-benar ingin membunuh anda, saat ini anda pasti tidak bisa meminta tolong kepada saya." Sahut Andre dengan dingin. Ia pun menyusul Arya dan Biru.
"Aaarrggghhh!!! Br3ngs3k!!! Biru Br3ngs3k!!!!" Indira masih di lantai dan berteriak histeris.
***
Malam sudah sangat larut ketika Biru, Arya dan Andre kembali ke apartemen Arya. Natsuki dan Sora yang sudah menunggu dengan cemas segera memeluk Biru.
"Mana Ichi?" Tanya Biru pada Sora.
"Farah?"
"Sudah tidur juga, tadi dokter sudah datang dan menyuntik obat penenang." Jawab Sora lagi.
Tangan Biru mengepal kuat. Ia kembali marah mendengar kondisi baby sitter Ichigo. Melihat itu Sora kembali memeluk Biru. Sedangkan Arya memberi kode pada Natsuki dan Andre agar mengikutinya meninggalkan suami istri itu sendiri.
"Kendalikan emosimu. Ichi akan ketakutan jika melihatmu seperti ini."
Sora mengusap kepala Biru dengan lembut. Akhir-akhir ini, Biru tidak lagi menyembunyikan emosinya. Bahagia dan marah, Sora bisa melihatnya dengan jelas di wajah Biru. Itu menjadi sebuah kelegaan tersendiri bagi Sora. Artinya Biru sudah bisa menerima kehadirannya. Dan tidak melihat Sora sebagai orang asing.
"Dia keterlaluan!" Desis Biru dalam pelukan Sora.
"Aku tahu. Dan aku tidak akan menyalahkan mu atas apa yang kau perbuat kepadanya." Sahut Sora.
Sesaat kemudian Sora mengendurkan pelukannya agar bisa melihat wajah Biru.
"Tapi tolong, simpan aura membunuhmu itu jika ada Ichigo."
__ADS_1
"Tsskkk!!!" Biru melengos.
"Hahaha." Sora tertawa kecil dan kembali memeluk Biru. "Malam ini kita semua akan tidur disini. Paman Ben sudah mengirim baju kita. Besok baru kita kembali ke medan pertempuran."
"Medan pertempuran?" Biru tidak mengerti.
"Rumah 'kan sudah menjadi medan pertempuran antara kita dan ibu." Jelas Sora.
"Cckkk! Kau memang anak berbakti. Sudah sejauh ini masih menyebutnya ibu." Ucap Biru sinis.
Di tempat lain, pada sebuah apartemen mewah. Indira berbaring setelah luka-lukanya dirawat oleh seorang pria paruh baya.
"Kau gegabah sayang." Ucap pria itu lagi.
Indira menatap kesal. "Ya ya ya. Jadi, kapan kau akan membunuh Biru si4l4n itu?"
Pria itu tersenyum. "Tenang saja. Tidak lama lagi."
Indira menghela nafas kesal. Sikap santai yang ditunjukkan pria di depannya membuat emosinya mulai menggelegak.
"Kalau kau tidak bisa mengendalikan emosimu, kau akan berakhir seperti orang yang kau suruh menyelidiki pria yang bersama menantumu."
"Apa maksudmu?" Alis Indira bertaut.
"Orang itu sudah mati. Baru beberapa saat yang lalu aku menerima kabar."
"Apa?" Indira syok.
Selama beberapa menit ia diam. Ingatannya kembali pada saat ia berada di kantor Sora.
"Ada apa?" Tanya pria yang masih setia duduk di sampig Indira.
"Kedua anak Jun dan Andre mengenali pria dalam video itu. Bahkan Sora mengatakan jika terus mencari tahu, aku yang akan dibunuh." Jawab Indira.
"Kalau begitu kita harus berhati-hati dalam bertindak. Simpan dulu dendam mu itu. Jangan sampai terbunuh sebelum membalasnya."
...****************...
__ADS_1