Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 8


__ADS_3

Pagi ini Biru terlihat sibuk di dalam kamar Ichigo. Pasalnya, gadis kecil itu bangun dengan keadaan panas tinggi. Ditambah lagi Ichigo tidak ingin didekati Sora.


"38,9." Gumam Biru yang baru saja memeriksa termometer.


"Panas sekali." Sora tak kalah cemas. "Farah, cepat buat janji dengan Dokter anak, seperti biasa."


Ichigo menggeleng dan menarik tangan Biru. "Mau Mama saja."


"Tapi Ichi … "


"Nanti saya yang akan membujuknya, Tuan. Anda bersiap saja ke kantor. Bukankah pagi ini ada rapat penting?" Biru memotong ucapan Sora.


Sora mendesah kasar, ia menyugar rambutnya. Pria itu menatap Ichigo yang sedang membenamkan wajah di dada Biru. Mau tidak mau, Sora menuruti perkataan Biru.


"Ichi, minum obat penurun panas dulu ya sayang." Pinta Biru.


Ichigo menurut tanpa mengucapkan apapun. Ia menelan obatnya dengan patuh. Setelah itu kembali berbaring memeluk Biru.


"Mama."


"Iya sayang."


"Tadi malam Ichi lihat tante Alini cium-cium mulut Papa."


Biru mengerjap beberapa kali. Ia langsung menatap Farah yang terkejut sampai menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Mung … mungkin waktu sa … saya di kamar mandi, Nyonya." Farah berujar tanpa ditanya.


Biru mengusap kepala Ichigo dengan penuh kasih sayang. "Ichi lihatnya lama?"


"Tidak Mama. Ichi langsung kembali ke tempat tidul."


Hening, Biru bingung. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Ichigo.


"Mama, Ichi tidak suka Papa dengan Tante Alini cium-cium."


"Jadi Ichigo marah Papa karena hal itu?"


Ichigo menganggukkan kepalanya.


"Nanti Mama akan bicara sama Papa dan tante Arini. Tapi Ichigo harus mau ke Dokter ya. Biar cepat sembuh."


"Kalau Mama sudah bicala, Papa tidak akan cium-cium tante lagi?"


"Tidak juga. Tapi mereka tidak akan buat Ichi jadi sakit lagi."


Sebenarnya Ichigo kurang begitu paham dengan ucapan Biru. Tapi ia mengartikan kalimat "tidak akan buat sakit" berarti Papa Sora tidak akan dekat dengan Tante Arini lagi.


"Kalau begitu Ichi mau ke Doktel."


Biru mengecup kepala Ichigo beberapa kali lalu meminta Farah membuat janji dengan Dokter.


Beberapa saat kemudian, obat yang diminum Ichigo sudah bekerja hingga gadis itu tertidur. Biru keluar kamar untuk membersihkan diri dan mengisi perutnya.


Di depan kamar, ia bertemu Natsuki.


"Sudah baca berita infotainment?" Tanya Natsuki pada Biru.


"Belum, kenapa Kak?"


"Sebuah gosip tentang Arini yang mendekati pria beristri sudah tersebar luas dan menjadi viral." Jawab Natsuki dengan senyuman di wajahnya.


"Benarkah?"


Natsuki mengangguk-anggukkan kepala.


"Yang pasti bukan aku yang menyebarkannya." Ujar Biru.


"Aku pun."


Tiba-tiba terdengar teriakan di lantai 1. Biru dan Natsuki segera turun untuk melihat apa yang sedang terjadi. Rupanya Arini yang sedang marah-marah dan ditahan oleh Paman Ben dan beberapa pelayan.


"Ada apa ini?" Tanya Natsuki.


"Heh! Biru! Perempuan sialan! Pasti kamu kan yang mengatakan pada wartawan kalau aku mendekati Sora!" Tuduh Arini. "Dasar tidak tahu malu! Kamu yang sudah merebut Sora dariku!"


Biru tak menjawab apapun. Ia hanya berjalan mendekat. Dengan cepat tangannya berayun.


Plakkkk!!!


"Aaahhhh!!!" Sebuah tamparan mendarat di pipi Arini.


Semua yang menyaksikan itu terkejut.

__ADS_1


"Lain kali, jika kalian ingin berbuat mesum. Jangan di depan mata Putriku." Ucap Biru datar dengan aura mengintimidasi yang sangat kuat.


Arini terhenyak, tanpa sadar ia melangkah mundur.


"Apa maksudmu, Biru?" Tanya  Natsuki.


"Ichigo melihat mereka berdua bercumbu di depan kamarnya. Ichigo marah sampai ia sakit."


Emosi Natsuki mulai naik. "Jadi, Ichigo sakit karena perempuan gatal ini?!"


"Ja … jangan asal tuduh!" Seru Arini dengan panik.


"Aku masih menghargai Tuan Sora. Jadi pergilah. Namun jika terjadi sesuatu pada Putriku. Aku akan segera datang untuk membunuhmu." Biru mengatakan kalimat tersebut dengan tatapan wajah yang dingin dan datar. Benar-benar tidak memiliki ekspresi.


Mendengar itu, Arini segera pergi dengan panik. Sedangkan Natsuki, ia langsung menuju basement untuk melihat rekaman CCTV di ruang pusat keamanan.


Tak lama kemudian, Natsuki kembali membawa sebuah flashdisk. Ia meminta Paman Ben memutar rekaman di televisi yang tidak jauh dari ruang makan.


Biru hanya menatap sesaat ke arah kerumunan di depan televisi. Setelah itu ia kembali menyantap sarapannya. Ia membutuhkan tenaga untuk menjaga Ichigo.


***


Beberapa hari kemudian, kondisi Ichigo sudah lebih baik. Meski masih lemas, suhu badan Ichigo tidak tinggi lagi. Dan berkat Biru, Ichigo sudah tidak marah lagi pada Sora. Hati Sora menjadi lebih tenang, ia pergi ke kantor dengan perasaan lega.


Namun baru beberapa jam, Ichigo sudah menanyakan keberadaan Sora.


"Mama, Papa masih lama?"


Biru menarik nafas, entah sudah berapa kali Ichigo bertanya hal yang sama.


"Sabar ya, Mama tanya dulu."


Biru segera mengetik pesan dan mengirimkannya. Beberapa menit kemudian, terdengar suara notifikasi pesan masuk.


Biru segera membuka aplikasi pesan miliknya dan terkejut, Sora mengirim sebuah foto. Yang lebih mengejutkan, saat foto terbuka, ternyata itu adalah swafoto Arini dengan pose menjulurkan lidah.


Biru menarik nafas dalam-dalam. Ia menghampiri Ichigo yang sedang duduk menghadap ke jendela sambil memeluk bantal stroberi.


"Sayang, Papa belum bisa pulang sekarang. Papa sedang sibuk."


"Pasti sibuk dengan Tante Alini kan Ma."


Biru mengernyit. "Kenapa Ichigo bilang begitu?"


Rahang Biru mengeras mendengar penuturan Ichigo.


"Kata Tante, Papa tidak sayang Ichigo lagi."


Emosi Biru mulai naik. Namun dengan sekuat tenaga ia mengendalikannya, hingga pangkal lehernya terasa sangat sakit. Biru mengambil boneka barbie milik Ichigo.


"Sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk pesta teh." Ujar Biru sambil duduk di meja bulat tak jauh dari Ichigo dan menatap boneka di tempat duduk yang ada di sampingnya.


Mata Ichigo berbinar. "Yeayy, pesta teh." Ichigo segera beranjak mengambil set teko dan cangkir miliknya kemudian bergabung dengan Biru.


Sementara itu, di luar kamar, Natsuki mengusap air matanya dengan kasar. Rahangnya mengatup dengan sangat kuat. Menahan emosi yang bergejolak.


"Sudah cukup apa yang aku lihat dan aku dengar!" Desis Natsuki sambil menjauh dari kamar Ichigo.


Tidak ingin membuang waktu, Natsuki segera turun ke basement.


"Tolong antar aku ke kantor Sora." Pinta Natsuki pada supir yang duduk bersama petugas keamanan di ruang kendali.


"Baik Nona."


Natsuki memilih diantar supir. Ia tidak ingin mengambil resiko berkendara dalam keadaan emosi.


Setibanya di kantor Sora, ia segera masuk ke lift khusus pimpinan. Tidak ada yang berani menyapa Natsuki. Wajahnya yang dipenuhi kemarahan membuat para pegawai takut.


"Nona?" Zayn yang berada di ruangannya terkejut melihat kedatangan Natsuki.


Natsuki mencoba membuka pintu ruang kerja Sora. Tapi tidak bisa karena dikunci dari dalam.


"Nona, Tuan sedang ada tamu." Ucap Zayn dan langsung ditatap tajam oleh Natsuki.


Zayn terdiam, ia tidak tahu harus bagaimana.


Natsuki mundur sedikit dan memasang kuda-kuda.


"Hyatt!!!" Natsuki menendang pintu ruang kerja Sora.


Braakkkkkk!!!!!


"Aaakkhhh!!!" Terdengar teriakan seorang wanita.

__ADS_1


Dari luar, Natsuki melihat Arini sedang berdiri sambil merapikan bajunya. Sedangkan Sora yang masih duduk di sofa segera berdiri.


"Natsuki." Sora menatap Sang Adik kemudian beralih kepada pintu ruangannya.


"Jadi ini yang kau bilang sibuk saat Putrimu yang sakit minta ditemani?"


"Ada apa ini?"


"Ichigo ingin kau menemaninya. Tapi kau mengatakan pada Biru jika sedang sibuk! Sibuk bercumbu dengan wanita murahan ini?!" Natsuki tak lagi mengontrol suaranya.


Dengan sigap Zayn meminta semua pegawai untuk turun ke lantai 1 agar tidak mendengar pertengkaran di ruangan Sora.


"Apa maksudmu? Tidak ada satu pun yang menghubungiku?!"


Natsuko sudah menduga hal ini. Untung saja saat dalam perjalanan ia meminta Biru mengirim screenshoot chat-nya dengan Sora.


Sora menerima ponsel Natsuki, kemudian menatap Arini dengan tajam.


"Ma … maaf. Aku hanya ingin kau mendengar keluh kesahku." Ujar Arini.


"Mendengar keluh kesah?" Natsuki tertawa sumbang. "Bukankah kau juga mengatakan pada keponakanku kalau Sora lebih menyayangimu dari pada dia? Sora lebih memilihmu dari pada dia. Begitu kan?!" Desak Natsuki.


"Ti … tidak. It … itu tidak benar. Pasti Biru. Ya, pasti dia yang memfitnahku. Sora percayalah. Aku sangat menyayangi Ichigo."


"Sayang pantatmu?!" Cerca Natsuki.


"Apakah itu benar, Arini?" Tanya Sora pada kekasihnya.


Arini menggeleng dengan kuat. "Tidak, aku tidak mungkin mengatakan itu. Ichigo sudah aku anggap sebagai anakku sendiri."


"Hahhhaah!" Natsuki tertawa sumbang. "Kau sangat mengecewakan, Sora. Kau lebih memilih dia dari pada kami." Natsuki menatap Sora dengan sorot mata kecewa. Ia terluka dengan sikap Sora yang tidak tegas.


"Aku hanya tidak ingin mengambil keputusan berdasarkan ucapan sepihak." Ucap Sora membela diri.


Natsuki menatap Sora dengan mata berkaca-kaca. Tidak percaya dengan perkataan yang keluar dari mulut saudara kembarnya itu.


Dulu, hal ini jugalah yang membuat Natsuki pergi dari rumah. Tapi setelah mendengar ucapan Ichigo, Natsuki menyesal. Selama ia tidak di rumah, Ichigo pasti menderita akibat perbuatan Arini.


Natsuki berjalan dengan langkah gontai meninggalkan ruangan Sora. Sementara itu, dalam hatinya, Arini tersenyum. Ia merasa masih bisa mengendalikan Sora.


***


Sora melonggarkan dasinya. Ia baru saja pulang dari kantor. Peristiwa siang tadi membuat Sora semakin lelah. Saat menuju kamar Ichigo, Sora berhenti karena melihat Biru keluar dari kamar Putrinya.


Tadi Arini terus saja menyangkal perkataan Natsuki. Jadi tidak mungkin Arini mengatakan hal kejam pada Ichigo. Pasti Biru yang membohongi Natsuki.


"Mengapa kau mempengaruhi keluargaku untuk membenci Arini?" Tanya Sora pada Biru dengan suara pelan.


Biru menatap tepat di manik mata Sora. Ia bahkan melangkah lebih dekat lagi. "Saya tidak bodoh, Tuan. Rumah keluarga saya lebih berarti daripada sibuk mengurusi hubungan anda dengan Arini." Ucap Biru setengah berbisik.


Setelah mengatakan itu, Biru kemudian pergi meninggalkan Sora yang terdiam membisu.


Terdengar langkah kaki mendekat, ternyata itu adalah Natsuki. Ia menyerahkan ponselnya ke tangan Sora. Saat Sora menerimanya, di layar menampilkan video rekaman CCTV. Sora terkejut, itu adalah rekaman saat ia dan Arini bercumbu di depan kamar Ichigo.


Natsuki mengulurkan tangan dan mencubit layar hingga rekaman tersebut membesar. Betapa kagetnya Sora saat melihat siluet tubuh Ichigo di dekat pintu.


"Kau penyebab putrimu sakit. Kau egois, Sora." Natsuki merebut ponselnya dan pergi meninggalkan Sora yang semakin kacau.


Detik berikutnya, Sora mengejar Natsuki dan menarik tangan Sang Adik.


"Natsuki! Beri aku waktu tentang hubunganku dengan Arini. Aku tidak boleh gegabah." Kata Sora.


Kedua alis Natsuki bertaut. "Waktu? Untuk apa?"


"Menstabilkan perusahaan. Kau sendiri tahu, paman Arini berpengaruh besar dalam dewan direksi. Aku harus bisa mendapat kepercayaan penuh dari mereka."


"Sebenarnya hubungan kalian dipenuhi cinta atau hanya tentang perusahaan."


"Keduanya." Jawab Sora tegas. "Beri aku waktu. Mungkin saat aku bisa mendapat kepercayaan penuh dewan direksi, Arini juga akan berubah."


"Mungkin?" Natsuki tersenyum meremehkan. "Artinya kau juga tidak yakin dengan dia. Periksa hatimu Sora. Kau hanya kesepian dan kemudian Arini datang. Itu bukan cinta. Kau hanya haus akan kebutuhan biologis." Natsuki melepas tangan Sora di lengannya dan masuk ke dalam kamar.


Sora mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak tahu ada apa dengan dirinya. Sikap kasar Arini waktu di Malang jelas-jelas membuatnya kecewa. Atau dengan perbuatan Arini yang lain yang membuatnya menjadi marah.


Namun saat Arini datang dengan wajah memelas dan mulai menggodanya, Sora seakan lupa dengan perbuatan Arini yang mengecewakannya. Oleh sebab itu, Sora menganggap kalau ia benar-benar mencintai Arini dan sangat mempercayai pada wanita itu.


Sora menghela nafas kemudian berbalik dan menuju kamarnya.


...****************...


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2