Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku
Bab. 35


__ADS_3

Indira menatap kekasihnya dengan nyalang. Ia begitu marah mendengar permintaan pria paruh baya itu.


"Apa kau gila? Bagaimana jika dia membunuhku di rumah?!" Teriak Indira dengan penuh kemarahan. "Dan apa yang harus aku katakan pada Sora? Tidak mungkin dia tidak tahu masalah kemarin!"


"Kemana otakmu yang biasa pinta itu? Jika Sora bertanya, cari saja alasan. Jika tidak, maka diam saja."


"Semudah itu?"


"Ya, semudah itu. Apalagi jika kau tenang dan bisa mengendalikan emosimu."


Indira menghentakkan kaki dan membalikkan badan. Ia benar-benar bisa meledak kapan saja. Belum hilang rasa takut setelah melihat mayat, kini ia harus kembali tinggal seatap bersama Biru. Rasanya semenjak kedatangan perempuan itu, ada saja yang tidak beres terjadi di sekitar Indira.


"Hhhhh." Pria itu menghembuskan nafas dengan kasar. "Sayangku, cintaku, pujaan hatiku. Berapa kali aku katakan, dia tidak akan membunuhmu. Aku akan pastikan itu. Apakah kau sudah tidak percaya lagi padaku?"


"Heh!" Indira mencibir. "Kau saja sibuk dengan pekerjaanmu, bagaimana mungkin kau akan melindungi ku."


"Sayang, sudah lama kita bersama. Dan selama kau berada di rumah, bukankah tidak ada hal buruk terjadi padamu?"


"Ya itu karena perempuan bernama Biru itu belum muncul. Suasana sekarang berbeda. Bukankah kau tahu sendiri pelayan-pelayan kepercayaanku menghilang satu per satu?"


Pria itu berdiri, ia memeluk Indira dari belakang. "Sayang, kalau kita ingin mengalahkan musuh, kita harus tahu kelemahannya. Bagaimana kita tahu kelemahannya jika kita tidak dekat dengan dia? Tempat teraman ada di sisi musuh."


Indira menghela nafas, meski berat, akhirnya ia menerima permintaan kekasihnya itu.


***


Indira pulang saat hari sudah sore. Ketika melewati ruang tengah, Biru tampak sedang berbicara dengan Paman Ben.


Biru tersenyum tipis melihat kedatangan Indira. "Selamat sore, Ibu."

__ADS_1


Indira tidak menjawab, ia hanya melirik sesaat kemudian melangkah menuju kamarnya. Biru pun tidak ambil pusing. Bukan hal baru Indira mengabaikannya. Lagipula Biru sudah cukup puas pernah melakukan tindak kekerasan pada Indira. Dan ia tidak sabar ingin mendapat kesempatan kedua untuk melakukannya lagi.


Biru fokus kembali melihat daftar bahan makanan.


"Jadi, Paman Ben, tolong tambah stok melon untuk paviliun. Akhir-akhir ini Nenek suka makan buah itu." Ujar Biru sambil menulis di daftar yang ia pegang. Namun saat mengangkat kepala, ia mendapati Paman Ben sedang menatap kepergian Indira.


"Paman Ben."


Tidak ada reaksi.


"Paman Ben." Biru mengeraskan volume suaranya.


Ben menjengit pelan. "I ... iya Nyonya."


Biru tersenyum penuh arti. "Saya bilang tolong tambah jumlah melon untuk paviliun."


Biru menyerahkan kertas yang ia pegang. "Sementara itu saja, Paman."


"Baik Nyonya, saya permisi dulu." Paman Ben menunduk memberi hormat kemudian berjalan pergi.


Sejenak, Biru menatap kepergian Paman Ben. Kemudian ia berdiri sambil tersenyum penuh arti.


***


London,


Arya berdiri menatap ke jalanan melalui jendela besar di apartemennya. Kadang dahinya terlihat berkerut, kadang matanya menyipit, atau kadang ia menghela nafas kasar. Yang jelas, tidak ada yang berani mengganggunya saat ini. Beberapa anak buahnya hanya diam tak bergerak di tempat masing-masing.


"Tuan." Jimmy datang dan segera menuju Arya. Tanpa Jimmy sadar, rekan-rekannya menarik nafas lega. Seolah-olah Jimmy membawa udara segar.

__ADS_1


Arya hanya menoleh sekilas. "Bagaimana?"


"Dia akan berada di Bottle Bar and Shop malam ini. Sesuai jadwal hariannya."


"Bagus, sudah reservasi?"


"Sudah, Tuan."


Arya tersenyum puas. "Siapkan suit terbaik untuk ku."


"Baik Tuan."


Baru beberapa langkah Jimmy berjalan, Arya sudah kembali memanggilnya.


"Jim."


"Iya Tuan."


"Jangan lupa hadiah spesialnya."


Jimmy mengangkat kedua alisnya. Tampaknya Tuan tidak ingin membuang waktu.


"Baik Tuan."


Jimmy segera berbalik dan menyiapkan permintaan Arya. Setelah mengirim orang untuk memantau pergerakan Arini. Bahkan menyogok untuk bisa mendapatkan jadwalnya dari manajemen. Akhirnya mereka akan bertemu. Dan pada pertemuan pertama, Arya akan langsung beraksi.


"Malam ini, aku harus tahu apa yang kau lakukan di sekitar rumahku." Gumam Arya dengan suara pelan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2