
Kara selalu bersikap tidak pernah ada
santunnya.
Karena yang ada dibenaknya, bahwa Nyonya yang ada di rumah itu hanyalah dirinya sendiri.
Jadi dia tidak pernah perduli tentang mertua nya itu
"Jadi kita makan berdua lagi nih?"kata Tuan Dimas sembari menatap hidangan yang sudah diambilkan oleh istrinya.
"Ya, begitu lah.
Bahkan menantu kita tidak pernah mau
makan bersama kita kalau Devan sedang tidak ada di rumah, sepertinya aku salah menilai anak itu.
Dulu saja, dia bersikap baik saat ingin mengambil hati anakku, sekarang mana mungkin begitu! tutur Nyonya Celia
kesal.
"Sudah lah, memang sudah nasibnya begini mau bagaimana lagi.
Mungkin dia kesal sama kita karena selalu menuntut soal cucu.
Baik atau buruknya menantu kita, tetap kita harus terima.
Karena itu adalah pilihan anak kita, ucap Tuan Dimas dengan santainya.
Ya semoga saja dia sadar, mungkin bisa jadi karena kita sudah tua, jadinya dia tidak mau ngurusin kita.
Tapi hatiku kalau sudah tidak suka, sampai kapanpun ya tidak suka.
Papa tau sendirikan sikapku seperti
apa? kata Nyonya Celia.
"Ya aku tau! Tapi aku harap sikapmu jangan terlihat oleh semua orang, cukup aku saja yang tau.
Dan kita juga jangan ikut campur dengan rumah tangga anak kita.
Kecuali kalau mereka berada di jalan yang salah, wajib kita nasehati,tutur Tuan Dimas.
"Baik lah kata Nyonya celia sembari mengambil air minum dalam gelas.
Mereka berdua langsung melanjutkan sarapannya.
Namun, mau tidak mau Nyonya Celia
harus mengajak sang menantu untuk sarapan.
Sejelek-jeleknya sikap Kara kepada orang tua Devan, tetap saja orang tua Devan
selalu bersikap baik terhadap menantunya.
"Bi! Tolong panggilkan Kara, suruh dia makan bersama kita, ujar Nyonya Celia kepada asisten rumah tangganya.
"Baik, Nyonya!" Asisten rumah tangga itu,
langsung melaksanakan perintah
majikannya.
Sesampainya di kamar Devan, asisten rumah tangga itu langsung mengetuk
pintu dengan sangat hati-hati.
Karena ia tahu, sikap Kara yang
tidak pernah ada sopan nya dan sangat kasar jika devan tidak ada , sampai-sampai membuat dirinya ketakutan.
Tok tok tok
suara pintu diketuk
__ADS_1
Kara yang masih tertidur pulas, tiba-tiba saja langsung terbangun karena suara ketukan pintu itu membuat telinganya
menjadi bising.
Dia pun segera membuka pintu dengan terpaksa dan seperti biasa, dengan rambut acak-acakan dan mata melotot,
dia memarahi asisten rumah tangganya itu.
"Apa!"'bentak Kara.
"Ma-maaf, No-Nona, Nyonya
Celia menyuruh Anda-"
"Bodoh amat! Aku tidak peduli! Pergi sanal!'ucap Kara sembari menutup pintunya lagi dengan sangat kencang.
Sontak saja asisten rumah tangga itu kaget dan kesal serta sakit hati akan sikapnya yang tidak punya etika itu'Kalau saja bukan karena uang, aku tidak
bakalan sudi bekerja di rumah ini!"
Asisten rumah tangga itu, segera memberitahukan kepada majikannya, bahwa Kara tidak ingin sarapan bersama.
Tidak hanya itu, asisten rumah tangga yang bernama Mira itu memberitahukan bahwa sikap Kara sangat menyakiti hatinya.
Dia sembari menangis dan mengadu kepada majikannya, bahwa sang menantu membuat dirinya sakit hati.
"Ya ampun, Bi. Sabar ya, saya jadi tidak enak hati kalau begini jadinya, kata Nyonya Celia sembari mengusap punggung Bi mira.
"Tidak apa-apa, Nyonya, saya nya saja yang cengeng, soalnya baru kali ini,saya dibentak bentak sama orang kata Bi
mira sesenggukan.
Dia menangis didepan majikannya dan
beberapa asisten rumah tangga lainnya.
"Lain kali, kalau dia bersikap begitu lagi, kalian bisa melawannya kok, jangan mau
kalah!'celetuk Tuan Dimassembari mengambil air dengan santainya.
"Tapi, Tuan-"
"Benar apa yang dikatakan
Suami saya, Bi. Kalau dia begitu
lagi, lawan saja, toh kita tidak melakukan kesalahan kan ? Kenapa harus
takut? kata Nyonya Celia.
"Kecuali kalau kitanya yang
salah, baru kita introspeksi diri
dan minta maaf,tapi kalau dalam
kebenaran tapi disalahkan,
kenapa tidak? Lawan saja jangan
diam terus, toh yang menggaji
kalian kan aku, bukan dia!"tukas
Tuan Dimas.
"Baik Tuan, terima kasih
banyak, saya benar-benar merasa
terharu mendengar kebaikan
Tuan dan Nyonya, terima kasih
__ADS_1
banyak, Tuan, Nyonya, kata Bi
mira sembari menyeka air
matanya.
"Ya sudah, sana kalian kembali bekerja
lagi, titah Tuan Dimas kepada para asisten rumah tangganya.
Dan mereka pun segera meninggalkan majikannya untuk melaksanakan kewajiban sesuai tugasnya masing masing.
****
Sementara itu di suatu tempat lain.
Devan dan Leah masih dalam perjalanan menuju kampung pare.
Mereka masih di area jalur kampung mentimun, karena perjalanan menuju
kampung tersebut butuh waktu yang lumayan lama.
Dan hal ini membuat Devan kelelahan menyetir.
"Leah , di depan sana ada tempat penginapan, kita istirahat sebentar ya. Soalnya aku tiba-tiba ngantuk.
Dan juga mau sekalian mandi, udah gerah banget nih 'ucap Devan yang masih fokus
menyetir.
"Okey! Lagian aku juga mau nyari makan, udah lapar lagi'ucap Leah dengan
senyumannya yang menawan.
"Okelah kalau begitu" Devan pun menancapkan gas mobilnya agar secepatnya sampai di tujuan. Setelah
beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampaí di *Morina hotel mentimun*.
Setelah berada di meja resepsionis dan
melakukan konfirmasi untuk reservasi, pihak staff hotel itu memberitahukan bahwa, hanya ada satu kamar yang tersisa.
Dan hal ini membuat Devan kebingungan. Namun, Leah tidak mempermasalahkannya, apapun keputusan Devan, Leah tetap menyetujuinya, karena yang ada
dalam pikiran Leah, dia tidak mau mengeluarkan uang sedikit pun.
Padahal, meskipun ada beberapa tempat yang kosong, pasti Devan yang akan membayarnya.
"Tak apalah satu kamar lagi dengan si pria ganjen ini, daripada harus ngeluarin uang sendiri, rugi aku!"'Kata Leah dalam hatinya.
Berhubung devan malas untuk
mencari hotel lain, akhirnya Devan memesan kamar itu, karena ia sudah tidak tahan lagi menahan rasa ngantuknya dan ingin segera beristirahat.
"Sekamar lagi dengan nya? Ya ampun apa ini yang dinamakan faedah jadi orang ganteng? ucap Devan dalam hatinya.
"Kamu yakin mau satu kamar lagi dengan aku?"tanya Devan sembari berjalan menuju lift.
"Memangnya kenapa kalau sekamar?
Kamarnya juga kan penuh, hanya
ada satu, jadi mau tidak mau, ya harus mau.
Daripada harus nyari- nyari hotel lagi, nanti waktunya habis di jalan, dan untuk bertemu dengan keluarga aku semakin
lambat!'kata Leah santai.
"lya juga ya! Tapi bagaimana kalau nanti aku khilaf dan ada bisikan setan masuk ke telinga aku, dan aku pun termakan bisikan itu terus menggerayangi
tubuhmu lagi, apa nanti kamu ikhlas dan pasrah saja?"kata Devan menyeringai.
*Jangan lupa Like Komen dan vote ya
__ADS_1
~note:jangan lupa baca karya kedua author ya .
ditunggu ya