HASRAT CEO BERISTRI

HASRAT CEO BERISTRI
DITOLAK


__ADS_3

"Oke tenang aja Grey ,apapun yang kamu mau aku pasti akan turuti kecuali kalau kamu ingin meminjam uang ,kalau itu aku mesti mikir tiga kali karena aku juga punya banyak cicilan".


Mereka berdua pun asik tertawa


riang. seketika itu pula, beban yang dipikul Leah sedikit demi sedikit terasa ringan. Dan Kevin akan berusaha untuk tidak membuat Leah murung dan bersedih lagi.


Sementara itu di tempat lain...


"Sayang, tunggu dulu!" panggil


Nyonya Celia sembari menghampiri anaknya yang akan segera keluar dari kediaman. Devan hanya bisa menoleh kepada mamanya tanpa ada ekspresi sama sekali.


Tatapannya masih begitu kosong


dan begitu hampa. Sehingga, semua orang yang ada di dalam rumah itu berfikir jika Devan benarbenar bersedih karena Kara yang masih dirawat di rumah sakit.


Padahal, kenyataannya, Devan bersedih bukan karena istrinya itu, melainkan karena Leah yang sudah marah besar kepada dirinya atas ketidak jujurannya dan kurang terbuka kepada Leah


selama ini.


"Kamu mau kemana lagi? Ayo sarapan dulu, papa juga sedang menunggu kamu di ruang makan," ajak Nyonya Celia kepada anaknya.


"Tidak ahh, Mah. Aku sedang tidak ***** makan. Titip salam saja sama papa, soalnya aku buru-buru mau ke kantor," ucap Devan sembari mencium tangan mamanya dan segera pamit.


"Tapi Sayang, Kamu baik-baik saja kan? Jangan pergi bekerja kalau mood kamu sedang tidak baik," tutur Nyonya Celia begitu mencemaskan anaknya.


"Aku baik-baik saja, Mam.


Nanti sarapannya di kantor saja, mama tidak usah khawatir ya, aku pergi dulu," ucap Devan sembari melangkahkan kakinya menuju ke luar rumah.


Dan kedua bodyguardnya pun turut serta mengikuti Devan keluar rumah. Atas kehendak anak semata wayangnya, Nyonya Celia pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. la hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anaknya. Agar masalah yang sedang menimpa anaknya itu, secepatnya terselesaikan dengan baik.


"Beni, sebelum pergi ke kantor,

__ADS_1


aku mau pergi ke kosannya leah


dulu," pinta Devan dengan pelan.


"Baik, Bos Devan laksanakan !"


Beni dan Tio hanya bisa saling melirik satu sama lainnya. Mereka berdua sadar, jika Bosnya sedang dalam situasi yang tidak menentu. Biasanya, mereka bertigs saling bercanda atau meledek satu sama lainnya, akan tetapi hari ini mereka tidak berani sedikit pun bersuara. Dan hanya keheningan lah yang terjadi saat di dalam mobil itu.


Sesampainya di kosannya Leah, Devan terus-terusan mengetuk pintunya. Namun, tak ada jawaban sama sekali. Sehingga, tetangga yang dekat kamar Leah, keluar dan memberitahukan bahwa Leah sedang tidak ada di rumah.


Sontak saja, mendengar hal itu Devan sangat kaget, karena yang ia tahu, saat di pagi hari Leah tidak akan pernah kemana mana kecuali bekerja, itu pun jika bekerja berangkatnya di sore hari.


Dan disaat itu pula, Anggi datang dengan mata yang berbinar-binar seolah menemukan emas berlian yang sudah hampir digenggamnya.


"Bang Devan!" sapa Anggi sembari menghampiri Devan. Padahal, Devan dan kedua bodyguardnya akan segera melangkah meninggalkan kamar kos-annya Leah.


Devan pun menoleh ke arah anggi tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.


"Abang, mau menemui Leah kan?" tanya anggi dengan nada centil.


"Tapi aku tahu dia ada dimana, bang. Dan kebetulan juga sekarang aku mau menyusul dia ke sana? Bang Devan mau ikut bareng sama aku atau tidak?" tawar anggi dengan tersenyum manis. la tidak mau melewatkan kesempatannya untuk meraih cintanya Devan.


"Benarkah? Kamu tahu dia ada dimana?" tanya Devan mengernyitkan dahinya.


"Abang tidak percaya sama aku?" Ucap Anggi dengan tatapan mata yang menggoda.


"Baik lah, beritahu saja, dia ada di mana. Soalnya aku sudah tidak punya banyak waktu lagi," ucap Devan yang sedikit malas menghadapi wanita seperti itu.


Kalau memang Anggi tahu, seharusnya ia langsung memberitahukan saja kepada Devan dimana Leah berada tanpa harus basa-basi terlebih dahulu. Sebab, Devan tidak suka dengan perempuan yang banyak omong kosong seperti anggi.


"Kenapa aku harus memberitahukan pada mu, sementara aku juga ingin menemui Leah. Apa tidak sebaiknya kita berangkat bersama-sama?" Ucap Anggi dengan santainya.


"Wanita ini benar-benar menyebalkan! Kenapa tidak langsung katakan saja padaku dia ada dimana!" Ucap Devan dalam hatinya.

__ADS_1


Anggi benar-benar tidak ada urat malunya , sepertinya urat malunya sudah putus. Ia terus mendesak Devan agar dirinya ikut menumpang di mobilnya Devan untuk menemui Leah. Padahal, Anggi juga tidak tahu Leah ada dimana, yang ada dalam pikirannya hanyalah bisa jalan bareng bersama orang yang sangat didambakannya itu.


Berhubung Devan adalah seorang laki laki yang sangat keras kepala dan tidak pernah menyukai wanita agresif, ia pun menolak ajakan anggi dengan begitu tegas dan sopan. Karena, bagi Devan, dirinya tidak akan pernah peduli lagi pada perempuan manapun kecuali pada Leah. Sehingga, anggi yang sudah berusaha total untuk mendekatinya pun dibuat kesal oleh dirinya.


"Sialan! Laki-laki ini benar benar sulit untuk aku taklukkan!" ucap Anggi dalam hatinya.


"Oh, terserah anda, bang. Aku pastikan dia sedang bersama pria lain, sekarang" ucap Anggi menyeringai.


"Terima kasih atas infonya,


Nona, Kalau begitu kami pamit dulu ya," ucap Devan dengan senyuman manisnya.


Devan pamit kepada Anggi dengan begitu halus. Sehingga membuat Anggi semakin kesal dan semakin emosi. Lalu ia dan kedua bodyguardnya segera bergegas meninggalkan tempat kosan itu.


Sementara, anggi hanya bisa terdiam melihat mereka yang sudah jauh dari pandangannya dengan penuh dendam dan kekesalan akibat ditolak tawarannya oleh Devan.


Rasa kesal dan malu sudah pasti dirasakan oleh anggi sekarang, sehingga sebagian orang-orang yang menyapanya pun tidak ia hiraukan. Dan ketika itu pula, seseorang datang dari arah belakang seakan mengagetkan anggi.


"Memangnya dia siapanya Leah sih, ngi?" tanys seorang wanita paruh baya yang suka dipanggil dengan sebutan Ibu Kos.


"Eh, Ibu. Aku pikir siapa!" Anggi begitu tercengang saat mendengar suara ibu kostnya itu mendekat ke telinga nya.


"Kalau tidak salah, sepertinya


orang itu yang sering kemari


deh?"celetuk ibu kost itu.


"Memang iya, Bu. Dia itu pacar gelapnya Leah, makanya sering kesini terus. Kalau ibu tidak percaya, ibu bisa lihat di sosial media, kalau laki-laki itu orang kaya dan sudah menikah. Entah Leah ngasih ramuan apa, sehingga laki-laki itu jadi ngejar-ngejar dia terus," ucap Anggi yang auranya masih kesal terhadap Devan, sehingga dengan mudahnya ia berbicara seperti itu kepada ibu kostnya sendiri.


Seakan kata-kata itu membuat pikiran ibu kost menjadi negatif tentang leah karena kena hasutan mulut anggi.


***so , jangan Lupa Like,Vote,dan komen yang menyemangati author ya

__ADS_1


#Chayo***


__ADS_2