
Sementara itu ditempat lain , Kara telah
sampai di depan rumah orang tuanya.
Dia langsung melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah.
Dan tidak lama kemudian,ibunya yang bernama Lina itu datang menghampirinya
dan langsung menyambut Kara dengan gembira.
"Kara!" teriak Bu Lina
sembari menghampiri puterinya itu.
"Mamah!l" balas Kara dengan sumringah.
Mereka berdua saling berpelukan dan saling menanyakan kabar.
Keduanya juga terlihat sangat kompak
dalam segala apapun, termasuk barang kesukaannya.
Tidak hanya dengan ibunya saja, Kara
juga akrab dengan saudara laki-laki nya yang kini masih kuliah di luar negeri.
"Papa mana, Mah? Belum pulang kah?" tanya Kara sembari melepaskan sepatunya.
"Belum, kamu tahu sendiri lah, papa kamu itu pekerja keras.
Pulangnya juga selalu malam terus, jawab Bu Lina.
"Oh iya , mama tuh mau ngasih tahu kamu, kalau sekarang ini ada berlian bagus keluaran terbaru edisi terbatas. Untungnya kamu datang duluan, jadi gak perlu repot-repot menghubungi kamu lagi!" ujar Bu Lina lagi.
"Benarkah?"ucap Kara dengan mata yang berbinar-binar.
"lya, Ayo kita beli, jangan sampai ada orang yang beli mendahului kita karena berlian ini tuh edisi terbatas, tutur Bu Lina
dengan semangatnya.
"Tentu saja! Ya udah kalau begitu pesan saja dari sekarang, Mah ! , tutur Kara
sembari duduk di samping Bu Lina.
"Oke, kalau soal itu sih gampang. Mama mau hubungi teman mama dulu biar cepat- cepat dipesankan, kata Bu Lina
dengan begitu senangnya.
Sesuai intruksi anaknya, Bu Lina langsung menghubungi teman nya itu, untuk
memesan dua kalung berlian yang harganya lebih dari 300 juta- an.
Bagi mereka berdua, uang segitu itu tidak ada nilainya.
Yang terpenting adalah, bisa hidup
enak tanpa harus bekerja keras.
Mereka juga selalu menghambur-hamburkan uang dengan membeli apa saja yang membuat diri mereka senang. Bahkan tidak pernah ingat sedikitpun
untuk bersedekah kepada orang yang sedang membutuhkan.
__ADS_1
Setelah memesan kalung berlian itu, mereka berdua saling bercengkrama dengan cerita apa saja yang sedang terjadi saat ini.
Lalu, lama-kelamaan Kara bercerita tentang rumah tangga nya yang semakin hari, semakin tidak harmonis.
Bahkan, Kara menginginkan kebebasan
dari perkawinannya, karena masih ingin main-main seperti layaknya anak remaja.
"Mah, aku sudah benar-benar bosan tinggal di rumah itu, tiap hari aku diceramahi terus sama orang tua nya Devan.
Apalagi mengenai soal anak, aku
semakin kesal sama mereka, Mah! Selalu dituntut anak terus; ucap Kara sembari cemberut.
"Ah kamu, tiap pulang pasti bilangnya bosan, bosan dan bosan terus. Mama jengah dengarnya, bikin mama malas
Kenapa tidak kau hilangkan kan saja sih kedua orangtua nya itu, biar
kamu bebas!" saran Bu Lina dengan geram.
"lya juga, kenapa dari dulu, gak kepikiran soal itu ya! Mama juga, kenapa baru bilangnya sekarang?" ucap Kara sembari
menatap ke wajah ibunya.
"Kamu nya saja yang bodoh. Kalau mama jadi kamu, mama sudah melenyap kan mereka semua, biar harta warisannya jadi
milik mama seutuhnya, kata Bu Lina sembari membuka majalah kesukaannya dan melihat-lihat isi nya.
"Kalau aku melenyapkan Devan, kayaknya tidak mungkin deh, Mah. Aku sangat mencintai dia! Kecuali orang tuanya, aku pasti akan melakukan sesuatu kepada
mereka berdua, kata Kara dengan serius.
"Kalau kamu memang cinta, kenapa tidak mau mengandung anak dari dia? Dasar kamu aneh!" ucap Bu Lina menyunggingkan bibirnya.
Tapi aku tidak mau mengandung, aku takut gendut, dan pasti hal ini aku akan jadi jelek ,nanti Devan tidak lagi mencintai ku karena aku jelek!" kata Kara yang tidak mau kalah dari kata-kata ibunya.
"Ya sudah, terserah kamu saja.
Pokoknya ingat siapapun menghambat kebahagiaan kamu, lenyap kan saja tanpa ampun tutur Bu Lina dengan serius.
"Harus itu, Mah! Pokoknya aku akan melenyapkan orangtu Devan saja, karena
mereka terlalu merepotkan!" umpat Kara.
"Bagus lah kalau begitu, kamu beri saja mereka racun, atau kamu sewa pembunuh bayaran, biar hidupmu tenang tanpa mereka.
Pokoknya, jalankan apa yang akan kamu rencankan itu, jangan sampai ada cacat atau bukti yang mengarah padamu sedikitpun.
Karena mama malas dengar kamu bosan, bosan, dan bosan terus disana" kata Bu Lina dengan serius.
"Baik, Ma. Soal itu sih gampang! Aku akan menyusun rencana itu sebaik mungkin, biar mereka mati tanpa harus ada
campur tangan dari kita, ucap Kara sumringah.
"Oke lah. Terserah kamu saja, yang penting uang bulanan untuk mama jangan sampai berkurang, kata Bu Lina
sembari membuka majalahnya lagi dan lagi.
"Kalau soal itu sih, mama tidak perlu khawatir, aku akan selalu mengantarkan uang untuk mama setiap harinya, kata Kara tersenyum manis.
"Hmm, baguslah kalau begitu"
__ADS_1
saat sesekali menatap wajah anaknya itu, Bu Lina malah terkejut dan keheranan .
Dan tanpa basa-basi lagi, ia pun langsung bertanya ,
"Eh, Ra Mama lihat, kamu kok
seperti agak gendutan ya?"
"Masa sih, Mah?" tanya Kara kaget.
Kara pun segera menghampiri cermin untuk melihat tubuhnya yang dibilang
gendut oleh ibunya sendiri.
Dan nampaknya benar, mulai dari
wajah, dan juga perut terlihat agak membesar.
"Waduh, bahaya ini, Ma! Aku harus cepat-cepat pergi menemui bidan, aku mau konsultasi dulu sama bidan langganan aku" kata Kara yang masih berlenggak
lenggok di depan cermin.
"Kenapa mesti harus ke bidan Memangnya kamu hamil?" kata Bu Lina yang semakin keheranan.
"Tidak lah, Ma. Mana mungkin aku hamil, sementara aku masih pakai alat kontrasepsi kata Kara dengan santainya. "Kan aku sudah bilang, aku tidak mau
hamil! Aku geli liat berntuk wanita hamil seperti itu.
" Aku gak mau nanti tubuhku jadi kendur dan kumal!"
"Terus kenapa harus ke bidan? Dokter yang bagus banyak bukan?" kata Bu Lina
keheranan.
"Ma, kalau aku niat ke dokter, udah dari dulu kali Ma! Masalah nya, setiap aku datang ke dokter, mereka tidak mau melayani aku untuk suntik KB. Pernah, pas pertama kali ke dokter untuk
suntik KB, dan kedua kalinya malah dia gak mau lagi.
"Kan aku jadi heran Ma ucap, Kara kesal.
"Kok gitu sih? Jangan-jangan mereka bersekongkol dengan suami kamu!" celetuk Bu Lina.
"Kalau ketahuan, mana mungkin Devan diam saja. Pasti dia akan marah, buktinya sampai sekarang dia tidak bilang apa-apa
sama aku. Berarti itu tandanya masih
aman dong, Ma!" ucap kara tersenyum.
"Yah, kalau pun ketahuan, kamu lenyapkan saja biar semua hartanya menjadi milik kita " kata Bu Lina menyeringai.
Mendengar hal itu, Kara dan Bu Lina tertawa terbahak-bahak seolah apa yang mereka lakukan adalah yang paling benar. Tidak ada rasa bersalah sedikit pun, kalau
mereka dulu pernah mendapat
bantuan dari orang tua Devan, karena selalu kesulitan dalam masalah ekonomi.
Tapi pada kenyataannya, sungguh sangat
disayangkan mereka seperti tidak tau terimakasih dan malah ingin merebut semua harta keluarga Devan.
Jangan lupa klik Like ,vote dan kasih tips serta saran untuk cerita ini ya
__ADS_1