
"Benar lah, masa bohong. Itu untuk kalian berdua, silahkan ambil sepuasnya. Dan jika urusannya sudah selesai, nanti tolong dikembalikan lagi,"kata Devan sembari duduk kembali di dekat mereka."Oh iya, tadi belanja pakai uang siapa? Ambil saja gantinya pakai ATM itu."
"Baik, Bos. Terimakasih banyak," semangat Tio dengan tersenyum lebar.
Begitu juga dengan Beni, mereka benar-benar sangat bahagia, apalagi dibarengi dengan adanya sebuah kartu ATM. Tidak lama kemudian, Leah pun memanggil mereka untuk makan siang bersama, karena makanan yang ia masak sudah dihidangkan di atas meja makan.
Mereka pun segera menyantap makanan yang sangat menggugah selera itu. Dan rasanya benar-benar sangat nikmat dan luar biasa. Baru kali ini, mereka makan dengan sangat lahap seperti orang yang kelaparan saja. Bahkan, mereka sudah habiskan sampai tidak tersisa.
Bahkan, Devan sesekali sendawa, namun ia masih saja menyantap makanan itu. Ia tidak ingin makanan yang dimasak oleh Leah habis dimakan mereka berdua, sehingga mereka saling rebutan. Benar-benar menggelikan.
Setelah semuanya selesai, mereka pun segera membereskan peralatan yang sudah kotor. Raut wajah mereka benar benar terlihat puas dan bahagia.
"Biar aku saja, yang membersihkannya, Leah,"ucap Devan dengan sangat antusias.
"Kita bantu lah, Bos, biar cepat selesai.Tio pun dengan sigap turut membantu Devan. Begitu juga dengan Beni, mereka bertiga lalu membersihkan semua peralatan yang sudah kotor.
"Oh iya, setelah ini, bolehkah aku pulang ke-"
Dengan cepat Devan menyelangnya perkataannya Leah, Tidak boleh!"
Tentu saja hal ini membuat kedua alisnya Leah terangkat ke atas seolah tidka mengerti kenapa Devan melarangnya untuk pulang. "Kenapa tidak boleh? Aku
pulang hanya ke kontrakan aku. Lagi pula apa kata orang nanti, kalau aku berlama-lama di tempat ini. Pasti urusannya tambah kacau. Dan aku juga ingin menemui sahabat aku, sudah lama tidak bertemu rasanya kangen sekali, tukas Leah.
__ADS_1
"Bos, lebih baik ceritakan saja dari awal, biar Leah tidak bingung usul Beni. Devan mengangguk, ia lalu memberhentikan aksi bersih-bersihnya dan mengajak Leah
untuk berbicara.
"Duduklah, aku ingin bicara sama kamu mengenai masalah yang sedang terjadi saat ini," ucal Devan sembari menuntun Leah dengan lembut.
Leah mengangguk dan menuruti perintah dari Devan. Dengan raut wajah yang serius, wanita itu mendengarkan ucapan dari sang kekasihnya itu.
Devan tidak tanggung tanggung memperlihatkan sebuah berita yang ada di sosial media, bahwa dirinya dan juga Ria serta anggi sedang berada dalam masalah besar. Itu karena adanya kesalahpahaman, sehingga berita yang diunggah oleh orang-orang pada saat itu, meyakini bahwa anggi adalah seorang perebut suami orang.
Setelah Devan menjelaskan secara rinci mengenai anggi, akhirnya Leah bisa bernapas dengan lega. Sebab, ia tidak perlu repot-repot membalas perbuatannya, karena temannya memang benar-benar licik dan bermuka dua. Ia tidak menyangka mempunyai sahabat seperti anggi. la percaya karma pasti ada .
"Berarti aku tidak perlu repot repot untuk membalas kelicikan dia. Tadinya aku ingin menemuinya, dan melabrak dia karena sudah menghasut ibu kos dan beberapa orang yang ada di sekitar kosan, tapi setelah melihat kabar itu, lebih baik aku diam saja, dan membiarkan mereka yang mencelanya," ucal Leah tersenyum manis.
"Terus kapan kita akan menikah? Kita akan menemui bapak kan?"tanya Leah manja.
"Secepatnya, aku sedang mengurus semuanya. Kamu yang sabar dulu ya, aku yakin semua berjalan dengan lancar,"yakinkan Devan sembari menatap wajahnya Leah.
"Baik lah, aku serahkan semuanya sama kamu. Tapi... kamu harus membayar aku tiap hari, karena sudah membuat aku kehilangan pekerjaan,"perintah Leah dengan pedenya.
"Loh, kenapa bisa begitu? Apa ini tidak terbalik?"Devan terperanjat kaget.
"Bisa lah, ini peraturan aku, itu pun kalau kamu memang benar benar ingin bersamaku. Kamu tahu kan aku tidak ingin sakit hati yang kedua kalinya, apalagi kita belum ada ikatan pernikahan, belum tentu juga kita akan berjodoh," ucap Leah tersenyum lebar.
__ADS_1
"Ya sudah deh, tidak apa-apa. Yang penting kamu harus tetap di sini bersamaku, dan tidak boleh kemana-mana. Tapi... apa iya bayarnya harus tiap hari?"tanya Devan menyunggingkan bibirnya.
"Itu belum seberapa, belum lagi nanti ada tambahan tambahan lainnya. Bisa saja kan kamu tiba-tiba saja mencium bibir atau memeluk aku dari belakang," ucap Leah menyeringai.
"Itu juga harus bayar?"Tanya Devan membelalakkan matanya.
"Tentu saja, kamu pikir tubuhku ini bisa kamu sentuh dengan gratis? Yang benar saja,"Leah menyunggingkan bibirnya.
"Baik lah, baik lah, aku mengerti. Aku paham, tapi... bagaimana kalau kita melakukan pembuahan sebelum adanya pernikahan? Berapa banyak biaya yang kamu inginkan?"tukas Devan tersenyum licik.
Mendengar hal itu, Leah tidak bisa berkutik lagi dan malah langsung berlari menuju ke arah kedua bodyguardnya Devan. la pun berbisik kepada mereka,"
Bos kalian sedang tidak waras!"
Hari berganti dengan cepat, bahkan hampir saja akan berganti dengan bulan yang baru lagi. Sesuai janji yang Devan katakan pada Leah untuk menikahinya, maka hari yang dinanti-nanti itu pun akan segera tiba. Apalagi, surat cerai yang ditunggu-tunggu sudah ada di tangannya Devan. Tinggal memberikannya pada Kara untuk di tanda tangani. Namun, ia masih punya hati karena Kara masih berada di rumah sakit.
Dokter yang menangani Kara mengatakan bahwa, kemungkinan akan koma untuk beberapa Minggu atau sekitar dua bulan lamanya. Dan hal ini membuat Devan belum bisa memberikannya surat cerainya langsung. Hal itu juga dimaklumi oleh Leah, karena biar bagaimanapun juga, ia tidak akan memaksa Devan untuk melakukan hal itu. Yang Leah inginkan hanyalah perpisahan yang damai dan tidak membuat Kara mendendam.
Sebelum hari yang dinanti nantikan itu tiba, mereka akan menemui ayahnya Leah terlebih dahulu untuk meminta restu agar pernikahannya berjalan dengan lancar. Berhubung Pak Hasan, ayahnya Leah belum bisa pulang dari rumah sakit, dan Dio masih melanjutkan pendidikannya di luar kota, akhirnya mereka memutuskan akan menikah dengan wali yang diwakili oleh juru nikah.
Kedua orang saksi, yakni kedua bodyguardnya Devan dan beberapa orang yang dipercaya oleh Devan akan turut hadir untuk menjadi saksi pernikahan yang kedua kalinya. Dengan catatan, tidak boleh memberitahukan kepada publik, jika dirinya telah menikah lagi.
Pernikahan yang tertutup akan segera dimulai. Di sana hanya ada wali nikah dan beberapa orang saksi yang sudah hadir sedari tadi. Bahkan suasananya pun jauh dari kata kemewahan. Sehingga, acaranya pun sangat singkat, padat dan jelas.
__ADS_1
Semuanya terlihat begitu gembira, begitu juga dengan kedua mempelai, mereka tidak henti-hentinya menebarkan senyuman yang sangat manis. Apalagi dipadu dengan baju pengantin sederhana dan riasan minimalis, membuat keduanya tampak serasi.