
"Akhirnya, aku bisa mempersunting wanitaku. Semoga, ini langkah yang baik selama sisa hidupku, walau tidak semeriah saat pernikahan pertamaku, tapi aku yakin, aku akan jauh lebih bahagia dengan dia,"ucap Devan dalam hatinya.
Setelah pernikahannya selesai, keduanya kembali lagi ke apartemennya dengan hati yang gembira. Tidak ada seorang pun yang tahu, jika mereka sudah berstatus suami-istri, kecuali kedua bodyguardnya.
"Kami berdua pamit ya, Bos. Dan selamat menempuh hidup baru untuk kalian berdua. Semoga kalian tetap bahagia," ujar Beni senang.
"Terimakasih ya, berkat kalian semuanya berjalan dengan lancar," ucap Devan tersenyum manis.
"Itu sudah menjadi kewajiban kami, Bos. Membantu dan melindungi Bosnya sendiri," balas Tio dengan penuh canda tawa.
Leah tersenyum manis menanggapinya, dan tidak lama kemudian, mereka pun pamit untuk pulang ke rumah. Mereka berjanji akan segera menemuinya lagi, jika Devan membutuhkan bantuan mereka.
Kini, hanya ada sepasang pengantin baru yang ada di apartemen itu. Devan pun tersenyum lebar karena malam ini, ia akan seterusnya tidur bersama Leah.
"Ayo kita istirahat, kamu pasti sudah lelah," ajak Devan pada Leah tersenyum manis.
"Hem, baik lah. Tapi... kapan kita akan melakukannya, Sayang? Jam berapa? Aku akan mempersiapkan terlebih dahulu, biar kita tidak-"
Belum juga Leah selesai bicara, Devan langsung menggendongnya menuju ke kamar keaukaannya.
"A-apa yang kamu lakukan?"tanya Leah gugup.
"Mari kita melakukan pembuahan malam ini juga, dan kita harus benar-benar serius mengerjakannya," ucap Devan dengan serius.
"Memangnya kamu sudah siap?"tanya Leah yang semakin dag dig dug tidak karuan.
"Tentu saja, kapanpun aku siap," jawab Devan menyengir.
"Apa kamu memiliki gaya variasi yang indah untuk melakukannya malam ini?"tanya Leah dengan polosnya.
__ADS_1
******
Setelah beberapa bulan lamanya menjalani kehidupan baru menjadi Nyonya Di apartemennya Devan, kehidupan Leah berubah drastis. Ia menjadi seorang istri yang matre. Akan tetapi, meskipun Leah menjadi seorang istri yang matre, ia tidak pernah absen untuk mengirim bantuan kepada anak yatim,kepada panti jompo, dan orang lain yang benar-benar membutuhkan bantuannya.
Hal ini lah yang membuat Devan semakin menyukainya karena berbeda dengan perempuan mana pun. Jalinan asmara mereka berdua pun semakin lengket. Sampai-sampai suami-istri ini tambah begitu mesra bagaikan seluruh dunia serasa milik mereka berdua.
Di sisi lain, Kata-Kata Anggi yang dulu terus saja terngiang-ngiang di telinga Leah, bahwa agar dirinya menjadi wanita yang matre. Walaupun keduanya sudah renggang dan belum pernah bertemu lagi, tapi kata kata itu sudah menempel dalam benak Leah. Setiap Leah pergi berbelanja, ia pasti meminta Devan untuk membayarnya dengan kontan. Padahal, bisa saja Devan memberikan kartu ATM kepada Leah, hanya saja Devan lebih memilih memberikan uangnya secara langsung, agar setiap kali ia meminta sesuatu bisa membuat Leah tambah semangat.
Bukan berniat untuk memerasnya, tetapi semua itu mereka lakukan karena memang sesuatu yang membuat keduanya merasa lebih bahagia, dan penuh keharmonisan.
Lagi pula, Leah tidak pernah foya-foya. Ia tidak pernah membelanjakan uangnya demi keuntungan pribadi. Melainkan, demi kebutuhan mereka berdua dan Leah juga tidak lupa untuk memasukkannya ke dalam tabungannya sendiri. Dan itu sudah jelas Devan pun mengetahuinya. Sebab Leah secara langsung memperlihatkan jumlah isi tabungannya kepada Devan.
"Sepertinya, semakin hari, kamu malah semakin tambah cantik saja. Apalagi dibarengi dengan adanya uang, pasti kamu semakin senang. Bahkan sorot matamu juga terlihat semakin bersinar," puji Devan sembari menatap Leah yang sedang membereskan beberapa baju ke dalam lemari.
"Itu wajib dong. Cantik adalah kodratnya seorang perempuan. Dan aku tidak boleh bersedih. Bukannya kamu sudah berjanji untuk membahagiakan aku?" ucap Leah yang masih sibuk beres-beres.
"Iya, aku tahu, tapi harus seimbang juga lah. Ibarat pepatah mengatakan, ada barang, ada uang. Jadi-"
"Merah!" jawab Devan dengan penuh semangat.
Devan sangat kegirangan. la bahkan segera bersiap-siap untuk melakukan sesuatu yang membuatnya bisa terbang melayang jauh ke angkasa.
Tidak lama kemudian, Leah pun sudah beres memakai baju yang dipilih oleh Devan. Tanpa malu-malu, ia pun langsung menghampiri Devan yang sudah siap sedari tadi.
"Ayo kita bertempur lagi, kamu mau gaya seperti apa? Hari ini aku akan memuaskanmu di atas ranjang," ucap Devan sembari merangkul tubuh Leah dan mengecup bibirnya dengan lembut.
"Asalkan pelan-pelan, aku pasti siap," balas Leah pelan.
"Baiklah, rasakan saja variasi sensasinya dariku. Aku jamin kamu pasti suka," ucap Devan sembari membopong tubuh Leah menuju ke atas ranjang.
__ADS_1
Setiap lekuk tubuhnya Leah membuat Devan semakin tergoda. Dan mereka melakukannya terus dan terus, tanpa ada yang berani mengganggu.
Kring kring kring....
Ponsel Leah berdering sedari tadi, namun ia tak kunjung mengangkatnya karena masih berada di dalam kamar mandi.
Tidak lama kemudian, Leah keluar dari kamar mandi, dengan cepatnya wanita itu mengambil ponselnya, setelah apa yang dilihatnya, ternyata yang menelepon adalah adik kesayangannya itu. Ia pun secepatnya menelepon balik karena sudah beberapa Minggu ia belum menghubunginya lagi.
"Hallo! Aldio! Gimana kabarnya? Maaf kakak baru bisa menghubungi kamu, soalnya akhir-akhir ini kakak sibuk, ucap Leah saat menelpon adik kesayangannya itu.
"Iya Kak, tidak apa-apa. Oh iya, aku baru saja pulang Kak, tapi sekarang sedang berada di rumah sakit antar bapak kontrol kesehatan. Kondisi bapak sudah semakin membaik, kak! Kata dokter besok sudah tidak perlu kontrol ke dokter lagi."
"Serius! syukurlah dek! Terima kasih ya, sudah mengurus bapak dengan baik. Maafkan kakak, belum bisa berkunjung ke sana."
"Jangan berterima kasih sama aku, Kak! Tapi berterima kasih lah sama Kak Devan. Kak Devan kan yang sudah mengurus semuanya, sampai-sampai mengirim orang untuk mengurus bapak, kan akunya kuliah, Kak. Jadi tidak bisa selalu bersama bapak terus."
"Ya ampun! Aku hampir saja lupa sama Devan yang sudah membantuku !" batin Leah.
"Ya sudah, teleponnya kakak tutup dulu, nanti kakak telepon lagi," ucap Leah dengan hati yang begitu riang.
"Oke!"
Akhirnya percakapan dalam telepon kakak beradik itu berakhir dengan begitu gembira. Dan disaat itu pula, Devan datang mengetuk pintu kamarnya dengan hati hati. Leah langsung membukanya dengan begitu semangat sekali.
"Sayang!" ucap Leah sembari memeluk Devan yang sedang membawa sekantong makanan untuk Leah.
"Ish, ish, ish, ada apa nih? Tumben-tumbennya panggil aku Sayang? Biasanya manggil aku si pria gak jelas!" ucap Devan menyunggingkan bibirnya.
"He he he, pria gak jelas!" ucap Leah yang masih memeluk Devab dengan erat.
__ADS_1
Devan langsung menyimpan kantong makanan ke atas meja, lalu ia segera memeluk Leah balik dengan penuh kasih sayang dan sesekali ia mengecup kening gadis itu dengan penuh cinta.