
Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya Kevin pun mengantarkan Leah sampai di depan kos-annya. Leah sangat
berterima kasih kepada Kevin karena sudah mengantarkannya pulang dengan selamat karena kalau Kevin bawa mobil itu suka ngebut-ngebut tapi kalau dengan Leah dia tidak begitu.
Kevin juga tidak lupa untuk meminta nomor kontak milik Leah, dengan alasan agar bisa saling bersilaturahmi sesama warga dari kampung pare, yang saat ini sedang berada di Jakarta.
Berhubung, di depan gerbang kos-annya Leah ada beberapa orang yang masih nongkrong, maka Leah pun meminta Kevin untuk tidak keluar dari mobilnya. Sebab, Leah tidak mau kalau dirinya
menjadi bahan gosipannya mereka.
"Baik lah, Nona Leah yang cantik dan baik hati, aku akan menuruti semua perkataan
kamu. Yang penting aku sudah tahu dimana kamu tinggal, ucap Kevin tersenyum manis.
"Baik, Vin. Terima kasih ya. Sampai ketemu lagi di lain waktu, ucap Leah dengan suara yang sangat pelan. la sudah tidak ada rasa semangat seperti hari-hari biasanya.
"Siap! Oh iya, kalau ada apa-apa, kamu boleh cerita sama aku, jika itu akan membuat kamu lega, ucap Kevin lagi dengan penuh harap agar bisa berdekatan lagi seperti waktu dulu dengan Leah.
"Kenapa dia bilang begitu ya? Pasti dugaan ku benar nih, dia pasti tahu kalau aku itu sedang bersedih ucap Leah dalam hatinya.
Leah hanya bisa terdiam sembari duduk dan menundukkan kepalanya. Entah harus bagaimana lagi, karena pada
dasarnya memang benar, rasanya ingin
sekali ia bercerita banyak tentang
dirinya yang begitu rapuh.
"Loh, kenapa melamun lagi? Jadi penasaran deh, apa yang sebenarnya terjadi sama kamu?" ucap kevin yang membuat Leah menjadi kaget dan gelagapan.
"Oh, ti-tidak ada Vin. Hehe, ya sudahlah kalau begitu aku pamit dulu ya, tukas Leah dengan gugup. la pun langsung turun dari mobil.
Sementara, orang-orang yang sedang nongkrong di depan gerbang kos-annya itu, baik ibu-ibu atau yang masih
seumuran dengan Leah, masih memperhatikannya. Sebab, ia
tidak menyangka, jika yang turun dari mobil itu adalah Leah.
"Oh, ternyata Leah yang turun dari mobil itu, kirain siapa ya, bisik salah seorang ibu-ibu yang sedang memperhatikan Leah.
Dan Leah pun berjalan dan melewati mereka dengan sopan tanpa memedulikan apa yang sedang dibicarakan para ibu-ibu penggosip itu, yang penting ia saat ini hanya ingin masuk ke dalam kamar kos-annya sesegera mungkin.
__ADS_1
"Eh, tapi ngomong-ngomonng perasaan orang yang suka nganter Leah pulang, mobilnya bukan yang begini deh ucap yang lainnya.
Oh iya kah? Aku tidak tahu, baru lihat sekarang tuh aku jarang memperhatikan nya".
Ketika sedang asyik-asyiknya mengobrol, tiba-tiba saja Anggi datang menghampiri mereka. la pun ikutan nimbrung dengan
obrolannya mereka. Dan hal ini membuat Anggi panas hati seolah tidak ikhlas jika Leah mempunyai pacar yang tampan dan kaya raya.
"Aku harus segera bertindak, dia tidak boleh mengambil apa yang sudah sangat aku inginkan!" ucap Anggi dalam hatinya.
***********
Hidup memang selalu memberikan sebuah pilihan. Dan terkadang pilihan itu sering menuju pada dua pilihan yang sulit. Pada dua pilihan itu, tentu saja
masing-masing pilihan memiliki resikonya sendiri-sendiri.
Semakin sulit untuk memutuskan sesuatu, maka semakin besar pula keraguan yang ada dalam hati. Hal itu sudah pasti yang sekarang sedang dirasakan oleh Devan yang terlihat bimbang dan tidak bersemangat lagi.
Raut wajahnya sudah tidak
ada cahaya kegembiraan lagi, dan bahkan selama di perjalanan ia hanya bisa terdiam dengan tatapan yang kosong. Kedua orangtuanya pun tidak berani
Sesampainya di rumah, Devan langsung menuju ke kamarnya tanpa memedulikan orang-orang yang ada disekitarnya. la berlalu dengan melangkahkan kakinya
dengan begitu cepat. Dan setelah
sampai di kamarnya, terlihat kamar itu sudah rapi kembali karena telah dibereskan lagi oleh para asisten rumah tangganya. Rasa sedih masih menyelimuti hati Devan, apalagi saat
mengingat-ingat lagi wanita yang masih menjadi istrinya itu, sedang menangis di sudut ruangan dengan begitu pilu
atas keegoisannya sendiri. Rasa penyesalan semakin tidak terkendalikan lagi. Dan kini, sosok itu hanyalah bayangan semata, yang tersirat dalam
pikirannya.
Ketika akan menutup pintu kamarnya, tiba-tiba salah satu asisten rumah tangga yang telah membersihkan kamarnya itu,
langsung memanggil Devan dan menghampirinya dengan tergesa-gesa.
Tuan! Tunggu dulu!' teriaknya sembari berlari kecil menghampiri Devan.
"lya, Bi Ada apa ya?" "Maaf Bibi tidak sengaja menemukan kertas ini di atas
__ADS_1
laci, Bibi kira kertas yang sudah tidak terpakai, tapi ternyata dari Nona Kara" ucap asisten rumah tangga itu sembari menyodorkan secarik kertas itu kepada Devan. "Dan bibi juga minta maaf karena sudah lancang membuka isi surat itu".
"Oh, ya sudah Bi, tidak apa-apa terima kasih banyak ya Bi" ucap Devan yang masih keheranan.
"Sama-sama, Tuan. Setelah asisten rumah tangganya sudah pergi, Devan
langsung saja membaca isi dari secarik kertas itu. Betapa kagetnya ia, setelah tau isinya, hati Devan semakin sesak dan hatinya penuh dilema yang bertubi-tubi.
"Devan... aku mencintaimu dengan setulus hatiku. Meski kamu tetap akan menceraikan aku, rasa cinta ini tak akan
pernah pudar. Dan Disaat aku merindukanmu terlalu dalam, tidak banyak yang bisa aku lakukan selain mendoakanmu dan berharap semua yg terbaik untukmu. Kamu boleh bahagia
dengan wanita lain, tapi kamu harus ingat, apapun yang aku lakukan, itu semua karena dirimu(^.^;.
Jantung Devan seakan berhenti berdetak, entah apa yang harus ia lakukan, karena saat ini hatinya begitu bimbang dan rasa
bersalah kepada Kara yang begitu sangat menyiksa hatinya.
"Ya Tuhan! Cobaanku kenapa seberat ini ? Apa ini tandanya aku tidak bisa meninggalkan Kara? Kenapa dia Setega itu sama aku? Terus bagaimana dengan Leah?" ucap Devan dalam hatinya.
"Leah!" ucap Devan terperanjat kaget. "Ya ampun, hampir saja aku melupakannya"
Seketika Devan langsung pergi dan berlari kecil hanya untuk menemui Leah, tanpa
mengetahui adanya pesan dari Leah yang telah dikirimkannya sedari tadi.
la benar-benar tidak ingat sama sekali pada ponselnya sendiri.
"Devan!l"' teriak Nyonya Celia. Tapi Devan tetap saja tidak menghiraukan panggilan dari mamanya itu. la terus berjalan
menghampiri mobil dan segera mengemudikan nya dengan cepat.
Ya ampun, dia mau kemana sih buru-buru begitu?" kata Nyonya Celia kesal.
#Nah ayo jangan lupa Like
Vote
Kasih hadiah ya
makasih dari author yang manis ini 💞💞😘
__ADS_1