
Devan sungguh tidak menyangka jika Leah masih dalam pengaruh obat perangsang itu. Entah apa yang harus ia lakukan, karena selama ini ia tidak pernah melakukan hubungan intim dengan menggunakan obat perangsang, walaupun itu dengan istrinya sendiri.
"Bantu aku, Devan. Ini benar benar membuat aku tersiksa,"lirih Leah.
"Oke-oke, kamu tenang saja, aku akan panggilkan dokter pribadiku ke sini," ucap Devan yang terlihat seperti cemas dan panik. Ia pun segera mengambil ponselnya di atas meja, untuk menghubungi temannya yang berprofesi sebagai dokter. Akan tetapi, Leah malah melarangnya dengan cepat.
"Devan, tunggu! Kemarilah!"teriak Leah dengan keras. Devan pun menoleh ke arah belakang dan bertanya,"Kenapa? Apa ada sesuatu yang kau butuhkan?"
"Kemarilah, aku ingin bicara dulu sama kamu," ucap Leah dengan manjanya.
Tanpa berpikir panjang lagi, Devan pun segera menghampiri Leah lagi."Kenapa? Aku mau menelpon temanku dulu, biar kamu tidak tersiksa seperti itu. Aku khawatir kalau kamu-"
Belum juga Devan selesai bicara, tiba-tiba saja Leah menarik lengannya Devan sehingga ia duduk kembali di dekatnya. Wanita itu langsung menyelanya dengan cepat, Tidak!"
"Loh, kenapa? Temanku itu dokter yang hebat loh, Leah!"balas Devan menyunggingkan bibirnya.
"Tidak, aku bilang tidak, ya tidak. Sehebat apapun temanmu itu, aku tidak sudi berhubungan badan dengan laki-laki yang tidak aku kenal. Kamu pikir aku ini wanita apaan!"ucap Leah dengan kesal. la benar-benar geram kepada Devan karena ia tidak ingin ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya kecuali Devan dan kedua bodyguard-nya.
Devan yang mendengar hal itu, langsung tertawa terbahak bahak. Karena, apa yang Leah pikirkan, sungguh sangat di luar dugaannya. Lagi pula, mana mungkin ia menyerahkan wanitanya kepada orang lain, meskipun itu temannya sendiri.
"Kenapa tertawa? Tidak lucu tahu!"kata Leah kesal.
"Tentu saja lucu, pikiranmu benar-benar tidak waras. Mana mungkin juga aku menyuruh temanku untuk menyentuh tubuhmu itu secara gratis!"kata Devan menyunggingkan bibirnya.
"Jadi, kamu ingin tubuhku di sentuh oleh temanmu itu, agar kamu mendapatkan bayaran yang lebih tinggi? Begitu?"kata Leah yang semakin geram."Tega banget sih kamu mentang mentang aku sedang dalam keadaan begini."
Devan semakin tertawa lepas. Bahkan laki-laki tampan itu sesekali memegang perutnya yang sudah merasa kegeliannya lagi. Rasanya sungguh membuat Devan bahagia setengah mati.
Bagaimana tidak, perkataan Leah sungguh membuat dirinya semakin terpingkal-pingkal. Leah pikir, Devan akan memanfaatkan situasi ini, agar dirinya bisa dapat bayaran yang mahal dari temannya itu. Akan tetapi, semua yang ada di dalam benaknya Leah sungguh sangat salah besar. Justru Devan ingin membantu meredakan sesuatu yang sedang dirasakan oleh Leah, melalui temannya itu. Karena ia yakin, temannya itu dokter yang sangat handal.
Lagi pula, mana mungkin seorang Devan punya niatan seperti itu, sementara dirinya saja punya segudang uang yang tidak akan pernah habis walau sampai tujuh turunan.
"Dasar bodoh! Sudah lah, cepat berendam lagi, aku akan memanggil temanku untuk-"
Lagi-lagi Leah menyelangnya,"Sudah kukatakan aku tidak butuh teman kamu itu, yang aku butuhkan hanyalah kamu! Paham tidak sih?"
__ADS_1
Leah mendengus kesal dan bahkan ia hampir saja meledakkan amarahnya kepada laki-laki tampan itu. Sehingga, Devan yang mendengarnya pun mendadak terdiam sembari menatap Leah dengan tajam.
"Kalau kamu tidak bisa membantu aku, lebih baik kamu antarkan saja aku pulang ke rumah, atau ke rumahnya kevin saja!"ucap Leah dengan ketus.
"Whoaa... jangan marah gitu
dong Sayang. Aku melakukan begini juga demi kesembuhan kamu. Dan aku tidak mau kamu tersiksa seperti ini terus," ucap Devan berusaha untuk menenangkan Leah.
"Demi kesembuhan? Demi kesembuhan apa? Memangnya aku ini sedang sakit? Hah!"sentak Leah. "Aku ini sedang dalam pengaruh obat perangsang, Devan! Harusnya kamu sebagai laki-laki peka dong, jangan pura pura bego gitu!"
"Santai dong Sayang, aku hanya tidak ingin melukai perasaan kamu. Aku juga tidak ingin melakukannya kalau kamu masih dalam pengaruh obat perangsang itu. Aku ingin kita melakukannya, benar-benar dalam keadaan sadar. Apa kamu paham sampai di sini?"ucap Devan sembari mengusap rambutnya Leah yang sudah basah sedari tadi.
"Tidak! Aku tidak peduli dengan apa yang sudah kamu katakan itu! Yang aku mau sekarang ini, kamu harus melayaniku sampai aku benar benar puas! Mengerti?"tegas Leah yang semakin emosi.
"Sayang, bukankah kata kata ini yang seharusnya aku ucapkan? Tapi tidak apa-apa lah aku sangat memahaminya," kata Devan menyengir. Ia benar-benar geli atas apa yang telah Leah ucapkan itu.
"Diam! Tidak usah cengengesan! Kamu sebenarnya mau atau tidak? Jangan sampai tawaran ini aku lontarkan sampai ke dua kalinya," ancam Leah dengan ketusnya.
Sejenak Devan terdiam menatap Leah dengan penuh kebimbangan. Andai saja ia tidak punya hati, mungkin wanita yang sangat dicintainya itu sudah ia tiduri sedari tadi.
"Sayang, aku bisa saja melakukannya, tapi... aku masih bisa menahan diri, karena kita belum menjadi suami istri. Ditambah lagi aku masih berstatus suami orang, bukankah kamu sudah tahu dan tidak suka dengan hal itu?"tegas Devan dengan serius.
Tentu saja hal ini membuat Devan semakin terguncang hebat dan tidak bisa berkedip sekalipun saat melihat tubuhnya Leah tepat berada di depannya. Dengan tubuh yang basah, ia langsung melangkah ke luar kamar mandi dan mencari pakaiannya kembali.
"Sayang! Kamu mau kemana?"
Namun, Leah tidak menghiraukannya, Devan pun mengikutinya dari belakang. Dan tentu saja matanya terus menatap seluruh tubuhnya Leah dengan sangat jelas sekali.
Apalagi dari belakang, punggung dan pan*****a Leah begitu sangat menggoda.
"Ya ampun, wanita ini benar benar membuat aku tidak tahan!"kata Devan dalam hatinya.
Devan segera mengambil handuk dan segera menutup tubuhnya Leah dari belakang.
"Sayang, jangan marah dong!"ucap Devan dengan lembut.
__ADS_1
"Aku tidak marah, aku hanya ingin mengambil pakaianku,"jawab Leah ketus.
"Lepaskan ini !"
"Kamu masih marah, aku tidak akan melepaskan pelukanku!"tegas Devan semakin mempererat pelukannya. Ia benar-benar merasa bersalah karena tidak menjamah tubuh Leah yang sudah terlihat sangat tersiksa sekali.
"Aku sangat tersiksa sekali, Devan. Aku ingin mencari kepuasan, aku benar-benar sudah tidak tahan," kata Leah dengan lirih.
"Baiklah-baiklah, aku akan menuruti semua keinginan kamu. Tapi jangan salahkan aku jika apa yang telah aku lakukan semua ini, akan membuat kamu menyesal," ucap Devan yang semakin erat memeluk Leah.
Leah hanya bisa menatap Devan dari balik kaca yang terletak tepat di depan dirinya. Dalam hatinya, ia benar-benar malu atas perilakunya kepada Devan. Tapi ia benar-benar sangat menginginkan Devan malam ini juga.
"Berhubung aku tidak ingin menyesal, lebih baik antarkan aku pulang saja," kata Leah sembari berusaha melepaskan pelukannya Devan. "Itu tidak akan mungkin terjadi. Kamu sudah ada di dalam genggamanku, maka aku tidak akan melepaskan kamu sampai kapan pun,"ucap Devan yang semakin memeluk Leah dengan erat.
"Lalu, kenapa kamu tidak ingin
menyentuhku? Kamu senang aku tersiksa seperti ini?"tanya Leah sinis."Oh iya, kamu kan sudah punya istri, mana mungkin seorang Devan mau menyentuh perempuan seperti aku ini.Sungguh memalukan sekali!"sambung nya lagi.
"Kenapa kamu berkata seperti
itu?"
"Kenyataannya seperti itu
bukan?" balas Leah sinis.
"Lupakan saja, aku tidak mau berdebat soal itu apalagi mengenai soal istriku. Di tempat ini, hanya ada aku dan kamu. Jadi, bahas lah hanya kita berdua saja. Kamu boleh marah padaku, membenciku atau apapun itu, karena kamu belum tahu, apa sebenarnya dibalik semua yang terjadi saat ini," ucap Devan dengan serius.
"Terus, sekarang apa yang kamu inginkan? Menyiksaku? Menertawakanku?" tanya Leah.
"Tidak! Mana mungkin aku punya niat seperti itu, Leah! Berhenti lah bersikap dingin padaku. Dan tolong, jangan sekali-kali ingin pergi jauh dariku lagi, aku benar-benar sangat membutuhkan kamu, Leah," ucap
Devan lirih.
"Tapi kamu...."
__ADS_1
Belum juga Leah selesai bicara, tiba-tiba saja Devan langsung menyelangnya, "Biar kamu tidak menyesal, menikahlah denganku, dan jadilah istriku yang baik dan penurut. Bagaimana?"tanya Devan yang masih mendekap Leah dengan erat.
#jangan lupa LIKE,Vote dan favorite kan ya gusy 💞📖🍫