
Leah langsung membaca pesan yang dikirim itu walau matanya masih berair dan terlihat sembab.
Setelah membaca pesan itu, isinya sungguh membuat Leah sangat syok. Bagaimana tidak syok, soalnya Dio memberitahukan kepada leah bahwa bapaknya dikampung sekarang sedang sakit parah, dan butuh biaya besar untuk
pengobatannya.
Sedangkan Dio, Minggu depan harus
membayar uang untuk biaya masuk kuliah ke Universitas swasta
Kedokteran.
"Ya Tuhan! Kenapa cobaan ini datangnya berbarengan? Dan aku harus mencari uang kemana lagi? Sedangkan gaji kerja di bar saja tidak cukup." Tangisan Leah
mulai terdengar lagi air mata nya tidak tertahankan lagi untuk jatuh. Beban yang
dipikulnya semakin berat, dan rasanya ia ingin mengakhiri hidupnya saja sekarang agar bisa terbang dengan bebas tanpa merasakan penderitaan ini.
Leah menangis sesenggukan sembari memeluk lututnya dengan begitu pilu. Akan tetapi,tiba-tiba saja Leah teringat
dengan perkataan Anggi yang kemarin-kemarin, "Zaman sekarang cewek mesti harus matre, kalau gak matre, ya gak bakalan hidup enak!"
Mengingat kata-kata itu, Leah pun bangkit dan segera mengusap air matanya. la
berjanji, uang yang adiknya butuhkan akan secepatnya dikirim walau entah darimana datangnya uang itu, yang penting keinginan hati Leah untuk
membahagiakan ayah dan adiknya harus terwujud.
"Baik lah, aku akan berusaha mendapatkan uang yang banyak demi
mereka berdua, tapi ... apa iya aku harus ikutan matre seperti kata Anggi? Caranya bagaimana ya? tanya Leah dalam hatinya.
Leah terus-menerus memikirkan sesuatu yang membuat dirinya tidak bisa tidur.
Bahkan, ia tidak sadar bahwa waktu sudah menjelang dini hari. Sehingga waktu yang ia gunakan untuk istirahat pun terbuang dengan begitu saja.
Penyesalan Leah begitu mendalam. Tapi ia tidak bisa menyalahkan sepenuhnya
kepada Devan karena hal ini sendiri karena akibat dirinya juga yang sangat
ceroboh terhadap seseorang yang baru dikenalnya.
Karena pertemuan yang singkat itu, membuat Leah menjadi buta dan tidak pernah mencari tahu siapa itu Devan.
Andai saja ia tidak begitu dekat dengan Devan, pasti rasanya tidak akan sesakit ini. Dan ia juga menyesal telah membiarkan Devan masuk ke dalam
keluarganya yang belum tentu
dirinya tahu siapa sosok Devan itu
sebenarnya.
Walaupun di dunia maya banyak informasi tentang Devan, Leah tetap tidak
__ADS_1
memedulikannya. Sebab, dunia Maya itu penuh ilusi dan bagi Leah saat ini, bisa
saja Devan memiliki kekayaan
bukan hasil dari jerih payahnya sendiri, melainkan warisan dari keluarganya.
Dan tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi, dan itu tandanya Leah benar-benar tidak tidur sama sekali.
la masih duduk termenung meratapi betapa malangnya nasib nya sendiri yang tidak pernah mulus seperti teman-temannya yang sudah sukses bahkan sampai pelaminan .
"Ah, aku jadi malas bekerja kalau begini! Hidupku serasa hambar saja !" ucap Leah sembari merebahkan tubuhnya ke atas
kasur.
Akan tetapi, ketika Leah akan memejamkan matanya, tiba-tiba saja ponselnya berdering kencang. Sebenarnya, Leah sangat malas untuk melihatnya. Namun, berhubung ponselnya
terus-terusan berdering dan dia merasa terganggu, ia pun segera menerimanya walau tidak tahu siapa yang telah berani
meneleponnya.
"Grey, sudah bangun kah? Aku sedang berada di depan gerbang kos-an kamu" ucap Kevin sumringah.
Leah pun membelalakkan matanya seolah tidak percaya jika Kevin akan menemuinya lagi bahkan sekarang tepat di depan pintu rumah nya .
la pun semakin resah karena takut ada seseorang yang akan memperhatikan Kevin, dan bergosip yang tidak-tidak tentang nya.
"Vin, kamu diam saja di dalam mobil ya jangan keluar, nanti aku aku menyusulmu kesana!" ujar Leah dengan spontan.
Beberapa saat kemudian , Leah sudah keluar dari kamar kos-annya dengan
Sehingga, Kevin yang melihatnya pun semakin tertarik pada gadis cantik itu.
Dengan tergesa-gesa, Leah pun langsung masuk ke dalam mobilnya Kevin agar tidak dilihat oleh orang banyak, terutama tetangga kosannya sendiri.
Akan tetapi, walaupun menghampiri Kevin secara terburu-buru, beberapa orang melihatnya langsung Jika Leah
pergi dengan seseorang yang memakai mobil sedan berwarna merah.
"Kita mau kemana, Vin? tanya Leah penasaran.
"Nanti juga kamu akan tahu sendiri kok kata Kevin tersenyum manis.
"Ya sudahlah "ucap Leah sembari kembali berdiam diri untuk tidak melakukan sesuatu yang akan membuat Kevin
keheranan.
Akan tetapi, kevin sangat tahu betul sikap dan wataknya Leah itu seperti apa. la
bahkan menebak-nebak masalah apa yang sedang dirundung Leah, sehingga gadis itu menjadi wanita yang tidak ceria lagi.
Ya ampun, aku benar-benar tidak bisa menebak apa yang sedang terjadi sama kamu, Grey.
Kamu sudah semakin dewasa dan sedikit jauh berbeda dari Grey si kecil yang kukenal dulu; kata Kevin yang masih fokus menyetir.
__ADS_1
"Sudah lah, Vin. Kamu tidak usah menebak-nebak masalahnya aku. Lagi pula, itu bukan urusan kamu kan?" balas
Leah dengan santainya.
Tentu saja itu urusan aku, Grey. Kamu kan sahabatnya aku, masa aku membiarkan sahabat kecilku merasakan kesusahan
sendirian. Ini di kota orang loh Grey, ucap Kevin menyunggingkan bibirnya.
Baik lah, kalau kamu tidak ingin sahabatmu kesusahan, pinjamkan aku uang 50 juta sekarang juga! Bagaimana?
Ada tidak?" ucap Leah sembari melipat tangannya ke hadapan Kevin.
Dan Kevin pun tertawa cekikikan atas apa yang telah dilontarkan oleh Leah. Wanita
seperti Leah, pasti hanya bercanda jika ia meminta uang kepadanya, apalagi nilai uangnya bukan ratusan ribu lagi tapi
puluhan juta.
"Kamu jangan bercanda, Grey. Laki-laki macam aku ini mana mungkin bisa meminjamkan uang sebanyak itu. Mobil saja baru lunas kemarin, belum cicilan
rumah yang perbulannya sekitar
dua jutaan, ucap Kevin dengan serius.
"Kalau pinjaman dibawah lima juta, sepertinya aku ada, Grey. Apa kamu mau meminjamnya? Seketika Leah terkekeh-
kekeh mendengar jawaban dari Kevin. Meskipun Kevin menjawab dengan jujur, tapi tetap saja ini sangat menggelikan bagi Leah.
"Hehe, jangan dianggap serus lah Vin. Aku hanya bercanda. Moodku sedang tidak stabil tadi dan untung saja kamu ngajak
aku keluar, jadi rasa bosanku terobati deh, ucap Leah tersenyum kecil.
la hanya bisa berpura-pura, karena ia tidak bisa berkata jujur walau dirinya memang benar-benar sedang butuh uang yang
banyak.
"Berarti cocok dong, hehehe, ucap Kevin sumringah.
"Cocok apanya?" tanya Leah mengernyitkan keningnya.
"Cocok kalau aku dan kamu bisa saling melengkapi, ucap Kevin dengan pedenya.
"Halah, gombal!" kata Leah menyeringai.
"Loh, memang begitu kenyataannya kan? Kamu yang sedang bersedih, dan ternyata
bisa tersernyum kembali karena kehadiranku; kata Kevin lagi dengan pedenya.
"Benar kah?" ucap Kevin cekikikan. "Percaya diri amat kamu, hahaha"
"Itu, benar. Jangan ketawa dulu. Hari ini aku akan membuat kamu bahagia. Itung-itung syukuran mobil baruku lah udah lunas; kata Kevin dengan penuh semangat.
"Wow.. asyik dong kalau begitu. Traktir makan-makan ya, soalnya aku belum sarapan, ucap Leah yang ikutan bersemangat juga.
__ADS_1
***Btw Kevin manggil Leah itu Grey itu karena nama panggilan yang selalu dia katakan jika memanggil Leah sewaktu kecil .
jangan Lupa Like , vote and favorite kan ya 😘😘***