HASRAT CEO BERISTRI

HASRAT CEO BERISTRI
DENGAN PRIA LAIN


__ADS_3

"Kamu yang benar , ngi? Bukannya Leah itu orangnya baik ya? Masa ia tega merusak rumah tangga orang?" ucap ibu kos itu seolah tidak percaya perkataan Anggi.


"Kalau ibu tidak percaya, ya tidak apa-apa. Kenyataannya memang begitu kok, cek saja beritanya di sosial media ibu pasti nanti ada," ucap Anggi menyeringai.


Anggi pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan ibu kosannya itu. la tidak peduli jika nanti sahabatnya itu akan kena teguran dari ibu kosannya atau kena gunjingan orang lain. Yang paling penting bagi anggi, adalah kehidupan Leah tidak boleh lebih baik dari dirinya.


Saking penasarannya, ibu kos itu langsung mengecek informasi yang telah Anggi katakan itu. Dan alhasil, ternyata memang benar, Devan Sanjaya adalah anak pengusaha yang paling sukses di Indonesia. Jadi tidak heran, jika ia masuk majalah atau berita apapun, karena selain tampan, Devan juga menjadi pengusaha kaya yang paling muda se-Indonesia. Ditambah lagi dengan silsilah keluarga besar yang ia miliki dan juga foto Devan dengan sang istri. Sehingga, ibu kos semakin yakin dan mengetahuinya.


"Wah, jadi benar! Selama ini, laki-laki yang selalu bersama dengan Leah itu, ternyata memang sudah menikah. Ya ampun, aku tidak menyangka jika anak yang baik itu menjadi perebut suami orang!" ucap ibu kostnya itu.


*****


sementara itu ditempat lain Devan semakin mencemaskan Leah karena dia tidak bisa dihubungi sama sekali. Rasa kekhawatirannya semakin mencekam. Karena, untuk urusan hati, Devan tidak ingin main-main. Sehingga, apapun yang akan terjadi, ia akan terus berusaha sampai mendapatkan puncak kebahagiaan nya.


"Kemana lagi kita akan mencari gadis itu, Bos? Hari sudah semakin siang, dan kita belum juga sampai ke kantor. Nanti Tuan dan Nyonya pasti mencemaskan kamu, Bos," ucap Tio yang masih fokus menyetir mobil.


"Benar sekali, Bos. Apa tidak sebaiknya Bos pergi bekerja saja, untuk urusan Leah, biar kita berdua saja yang akan mencari gadis itu," tambah Beni.


Namun, Devan masih tetap saja diam. Rasa kekhawatirannya semakin memuncak. Apalagi ditambah dengan perkataan dari Anggi yang terus saja mengganggu dalam pikirannya .


"Aku jadi tidak semangat untuk bekerja," celetuk Devan dengan tatapan yang kosong dan tidak bergairah untuk hidup.


"Jangan begitu lah, Bos.


Kasihan Tuan Dimas sedari kemarin ngurusin perusahaannya sendirian saja. Mana kerjaannya numpuk banyak lagi," ucap Beni berusaha untuk menyemangati Devan supaya sadar akan tanggung jawabnya sebagai putra dari pewaris tunggal tuan Dimas.

__ADS_1


"Iya, Bos. Lagi pula,


bukannya itu sudah menjadi tugas dan kewajiban kamu bos untuk menangani semua hal dalam perusahaan? Kenapa bos buat lagi tuan Dimas mengerjakan tugas kantor saat dia udah nyerahin semua tugas itu padamu bos ! Professional sedikit lah,Bos. untuk urusan Leah, kita berdua saja yang bertindak. Dan Bos tidak perlu khawatir, kita akan memastikan, bahwa Leah akan baik-baik saja," ucap Beni yang ikutan meyakinkan Devan agar bosnya bersikap profesional dalam pekerjaannya.


"Ya sudah terserah kalian saja.Yang penting bawakan kabar dia untukku secepat mungkin, aku tidak mau menunggu kabar lama-lama, karena hatiku semakin tidak tenang karena dia," pinta Devan sembari memijat- mijat pelipisnya.


"Siap, Bos laksanakan!"


Beni dan Tio begitu senang mendengar ucapan dari Bosnya. Sebab, untuk yang sekarang ini, tidak biasanya Devan menerima usulan dari mereka berdua. Biasanya, setiap keduanya memberi saran, pasti Devan akan menolak usulan itu mentah-mentah. Dan sekarang, apapun yang telah mereka katakan, Devan dapat menerimanya dengan baik.


"Oh iya, ada satu lagi yang aku inginkan!" celetuk Devan.


"Apa Bos?" tanya mereka berdua dengan serempak.


"Aku lapar!" jawab Devan singkat.


"Baik lah, kita nyari sarapan dulu saja, karena sarapan lebih penting sebelum bekerja," timpal Tio dengan sumringah.


Mereka berdua pun tertawa riang. Tapi tidak untuk Devan, ia masih dalam ekspresi yang sangat tidak menyenangkan.


Setelah melalui perjalanan beberapa menit akhirnya mereka sampai di sebuah restoran. Devan dan kedua bodyguard-nya segera masuk ke dalam dan mencari tempat yang kosong untuk ia tempati. Namun, belum juga ia memesan makanan, tiba-tiba saja ia mendengar suara yang sangat familiar bagi telinga nya. Ya, tentu saja suara itu adalah suara yang dimiliki oleh gadis pujaannya hatinya.


"Leah!" teriak Devan dengan mata melebar.


Devan pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan segera berdiri mencari sosok Leah yang membuat dirinya semakin berbunga-bunga. Dan kedua bodyguard-nya itu, hanya bisa diam sembari mengikuti Bosnya dari belakang.

__ADS_1


Akan tetapi, ketika Devan berhasil menemukan belahan jiwanya itu, tiba-tiba saja ekspresinya berubah seperti tidak bersemangat lagi. Bahkan, tatapannya penuh dengan kekesalan dan kekecewaan pada gadis yang sangat dicintainya itu. Bagaimana tidak, saat ini Leah tengah kepergok oleh Devan sedang makan bersama dengan laki-laki lain yang belum diketahui identitasnya oleh Devan.


Betapa marahnya Devan ketika melihat pemandangan yang sangat merusak matanya itu dan menghancurkan hatinya, sehingga membuat hatinya semakin panas dan murka. Apalagi, saat Leah tersenyum pada sosok laki-laki yang ada dihadapannya itu, membuat Devan seakan ingin memakan Leah bulat-bulat sekarang.


"Leah!" teriak Devan memanggil Leah dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh kecemburuan.


Leah tidak menyadari kalau Devan juga ada di restoran itu. Ia asyik makan bersama dengan sahabatnya sendiri sambil bercanda ria dan saling mencurahkan segala kerinduannya. Dan ketika itu pula, panggilan Devan yang menggelegar itu terdengar ke telinga Leah. Seketika itu pula, Leah terkejut bukan kepalang.


"Devan!" pekik Leah sembari membulatkan matanya.


"Sedang apa kamu di sini? Hah!" sentak Devan yang membuat Leah semakin ketakutan.


Kevin yang melihatnya pun merasa tidak mengenakan hati. Akan tetapi, ia menyadari kalau posisinya sedang berada dalam tidak aman. Meskipun ia tidak ikhlas jika sahabat kecilnya diperlakukan seperti itu oleh seorang laki-laki.


"Kamu siapa? Datang-datang malah marah-marah, gak punya etika banget sih!" ucap Kevin kepada Devan dengan tatapan yang sangat tajam.


"Kamu tidak perlu tahu siapa aku, karena itu bukan urusan kamu! Paham ngak?" ucap Devan yang sudah emosi sampai ke ubun ubun.


"Tentu saja aku harus tahu! Karena aku-"


Belum juga Kevin selesai bicara, tiba-tiba saja leah langsung menyelangnya.


"Sudah cukup! Jangan lagi ribut di sini!"


Leah pun mulai geram kepada Devan. Tidak biasanya Devan memperlakukan dirinya seperti itu, apalagi dihadapan sahabatnya sendiri. Namun, masih ada keberuntungan bagi Leah, karena di dalam restoran itu, hanya ada mereka saja dan tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya, kecuali para pelayan di restoran.

__ADS_1


#Btw jangan lupa Like dan kasih hadiah ya dan juga komen jika ingin banyak up..


oke ya 📖🌷😘


__ADS_2