HASRAT CEO BERISTRI

HASRAT CEO BERISTRI
BERDUKA JALAN BAHAGIA


__ADS_3

Sementara di tempat lain, dua bodyguardnya Devan sudah menemukan dimana letak rumah leah , ia diberitahu oleh warga kampung pare yang hendak pergi melayat ke sebuah rumah warga.


Namun betapa terkejutnya, mereka saat tau bahwa rumah yang akan dilayat nya adalah rumah Leah.


Sontak saja mereka segera


menghubungi bosnya dengan cepat.


Sementara itu Leah dan Devan mereka baru saja selesai makan siang, mereka langsung pergi menuju pusat perbelanjaan yang jaraknya tidak jauh dari area hotel Morina kampung mentimun.


Mereka berdua masih tetap dengan candaannya dan bahkan senyuman manis masih terlihat dalam bibir


Leah.


Bagaimana tidak, Devan membelikan beberapa barang- barang yang begitu mahal dan bermerk, bahkan tanpa Leah


minta pun Devan langsung membelikannya.


Hal ini menjadi kesenangan bagi naluri wanita, jika sesuatu yang diinginkan ternyata dikabulkan oleh orang yang disayanginya.


"Ya ampun! Bos lagi ngapain sih! Di telepon gak diangkat-angkat!" gerutu


Beni sembari menggenggam erat ponselnya.


"Masih belum diangkat juga kah?" tanya Tio. "lya, gimana nih! Kamu bilang, Si Bos lagi bersama Leah bukan?" tanya Beni lagi.


"lya! Ya udah biar aku yang mencoba telepon dia" kata Tio sembari mengambil


ponsel dari sakunya.


Dan pada akhirnya Devan pun mengangkat teleponnya, setelah aktivitas berbelanja dengan Leah sudah selesai dan hendak berangkat menuju pulang ke


hotel lagi. Leah sudah berada di dalam mobil, sementara Devan masih di luar karena menerima telepon dari bodyguardnya.


"Apa kamu bilang? Kamu yakin kalau itu rumah Leah?" ucap Devan yang tidak percaya dengan apa yang telah bodyguardnya katakan.


"Aku yakin sekali Bos! Pokoknya kalau tidak percaya-"


Belum juga Tio selesai bicara, tiba-tiba saja Devan menyelangnya,


"lya-iya aku percaya! Kalau begitu kalian pulang saja, biar aku yang mengurus


semuanya, ujar Devan memotong


pembicaraan bodyguardnya.


"Baik Bos!"


Setelah mematikan ponselnya, Devan langsung masuk ke dalam mobil, ia masih ragu dan tidak tega untuk mengatakan kepada Leah bahwa di rumahnya sedang


berduka.


"Devan, panggil Leah sembari melirik ke arah Devan. Akan tetapi, laki-laki yang tampan itu tak kunjung menyahutnya.


"Devan!" teriak Leah lagi.


"Eh, i-iya? Ada apa? Aku terlalu


fokus menyetir hehe; jawab Devan cengengesan.

__ADS_1


"Kamu ngelamunin apa sih? Sampai dipanggil-panggil gak nyahut. Padahal deket loh, jaraknya gak sampai satu meter loh jaraknya aku ke kamu tuh!" ucap Leah sembari cemberut.


"Hehe maaf, Sayang! Maaf ya. Eh udah sampai nih, yuk kita check out dulu! Habis ini, kita langsung menuju ke kampung pare, oke!" instruksi Devan mengalihkan


pembicaraannya karena ia tidak mau berdebat soal itu.


"Langsung ke kampung pare?" ucap Leah dengan hati berbunga-bunga.


"lya, Sayang hmmm....!"


"Hore!" teriak Leah kegirangan.


Leah dan Devan segera menuju ke dalam hotel, mereka akan check out, setelah


mengambil baju kotor dan tas kecil milik Leah yang berisikan baju yang ia bawa dari kos-annya itu.


Setelah beberapa menit kemudian, mereka berdua telah menyelesaikan administrasi kepada staffnya hotel. Devan dan Leah pun siap untuk berangkat


menuju ke kampung pare.


Setelah menempuh jarak berjam-jam, Leah dan Devan akhirnya sampai di desa


kampung pare tepatnya didekat kampung wortel.


Namun betapa terkejutnya Leah, ketika apa yang ia lihat sungguh membuat gadis


itu menjadi sangat syok.


Harusnya kegembiraan yang sedang ia rasakan ini dia bawa ke dalam rumahnya dan berbagi kebahagiaan dengan keluarganya.


Akan tapi, setelah melihat bendera kuning yang sudah terpampang jelas di depan


Dan seketika itu pula air mata Leah langsung berderai dengan deras seperti untaian mutiara yang putus.


Isakkan tangisnya terdengar begitu pilu seakan dunia berhenti berputar.


"Si-siapa yang meninggal Devan!' tanya Leah terbata-bata.


Dan Devan pun tidak bisa berkata apa-apa, rasanya sulit untuk ia katakan karena


memang tidak sepantasnya Devan menjawab pertanyaan dari Leah.


Sebab, kalau Devan memberitahukannya, Leah pasti curiga, kenapa Devan bisa tahu, sementara dia baru pertama kali datang keiampung Leah .


"Bapak! Itu Kak Leah!" teriak Aldio , adiknya Leah.


"Leah !" teriak Pak Hasan sembari menghampiri Leah yang baru saja turun dari mobil Devan.


Leah dan ayahnya berpelukan dengan isakkan tangis yang begitu teramat sedih. Bagaimana tidak, ibu kandungnya Leah telah meninggalkan mereka untuk


selama-lamanya.


la meninggalkan keluarga tercinta setelah berjuang melawan penyakit


kanker yang sudah stadium empat atau stadium akhir.


Mereka sungguh sangat merasa kehilangan seorang ibu yang begitu baik dan penyayang.


Beberapa saat kemudian, jenazah ibunya Leah langsung dikebumikan di pemakaman yang tak jauh dari desa kampung pare.

__ADS_1


Devan pun ikut mengantarkan jenazah ibunya Leah. Devan masih berdiam diri dan belum memperkenalkan dirinya kepada seluruh keluarga Leah, karena


keluarga Leah begitu sibuk.


Bahkan tetangga-tetangga Leah belum ada yang berani bergosip karena mereka menghargai dan ikut bersedih atas kejadian tersebut karena ibu Nilam ibu Leah adalah sosok yang baik dan sangat ramah pada semua orang.


********


Hari sudah mulai gelap,kesedihan masih terlihat di keluarganya Leah. Bahkan ada


yang masih melayat dan ikut nimbrung hanya untuk sekedar menghibur keluarga Leah agar tidak terlalu dirundung duka.


Ketika para keluarga Leah sedang berkumpul, Leah langsung memperkenalkan Devan kepada ayahnya, bahwa Devan adalah laki-laki yang ia sukai.


Devan pun mendapat respon yang baik dari keluarga Leah.


Dan ini menjadi point' penting untuk Devan, agar bisa mendekati keluarganya dengan baik.


Karena biar bagaimana pun juga, ia


harus hati-hati takut kejadiannya seperti kejadian Kara waktu dulu, awalnya baik, namun setelah dipersunting, ia menjadi


sombong dan Devan tidak mau mengalami hal itu lagi.


"Nak, kenapa kalian tidak menikah saja? ngak baik loh pacar-pacaran nanti timbul dosa loh nak ,Bukankah usia kalian sudah cukup dewasa?" nasihat Pak Hasan kepada Devan dan Leah.


Sontak saja mereka berdua kaget, karena apa yang dikatakan Pak Hasan sungguh diluar dugaan merek berdua.


"Bapak! Apaan sih kita kan-" "Memangnya saya boleh menikahi Leah?" tanya Devan


yang langsung memotong pembicaraan Leah.


"Tentu saja, Nak! Jika anakku mau, bapak akan menyetujuinya, ucap Pak Hasan.


"Gimana Le, kamu mau kan menikah denganku?" tanya Devan yang tiba-tiba membuat jantung Leah berdegup kencang.


Deg....


"A-apa?" jantung Leah semakin kian berdetak kencang melebihi degupan normal .


Gugup, grogi, dan bahagia menjadi satu.


"Aku bilang, kamu mau tidak nikah sama aku? menjadi ibu dari anak-anakku, dan selalu bersamaku dalam suka maupun duka, ucap Devan dengan serius.


Sejenak Leah menatap wajah Devan yang sudah terlihat kelelahan, pertemuan singkatnya dengan Devan, menjadi terkesan indah dan bahagia dalam hidupnya.


Tanpa ragu lagi gadis itu langsung mengatakan, "Ya, aku


mau!" Seluruh keluarga Leah begitu


gembira dan seketika kesedihan mereka terobati dengan kebahagian yang dimiliki Leah dan Devan.


"Kapan Nak Devan akan menikahi Leah? Lebih cepat lebih baik bukan? Lagi pula bapak sudah tua, umur kan tidak ada


yang tau, bisa saja Bapak besok menyusul ibunya ke-alam sana"


Jangan lupa klik Like ,vote dan kasih tips serta saran untuk cerita ini ya


__ADS_1


__ADS_2