
"Ada !" kata Devan dengan santainya. "Buka bajumu semua lalu naik ke atas ranjang ini, dan bermainlah denganku, udah bereskan?" kata Devan sembari
mengedipkan sebelah matanya.
"Apa! Dasar gila!" Leah langsung membelalakkan menatap ke arah Devan.
"Ya sudah kalau tidak mau, aku tidak akan memaksa.
Nanti jangan salahkan aku kalau cuti
kamu semakin bertambah, dan pasti orang-orang akan mencari kamu, karena kamu belum juga sampai ke kampung, dan malah asyik berada di hotel bersama
pria asing yang baru saja kamu kenali, hehehe, kata Devan tersenyum licik.
"Terserah! Mendingan aku pulang sendiri saja! Daripada aku harus meladeni permintaan kamu yang aneh ini, yang sudah jelas tidak bermoral !" kata Leah sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Wah, sialan! Aku disebut tidak bermoral sama wanita!" kata Devan dalam hatinya.
"Ya sudah lah, hati-hati di jalan!" kata Devan yang tidak mau ambil pusing karena memang dirinya sudah pusing tujuh keliling delapan tanjakan gara-gara Junior nya yang tak kunjung tidur.
Devan pun segera menarik selimut dan memejamkan matanya.
Sementara, Leah masih ragu untuk pulang atau tidak, karena tidak tahu harus bagaimana,untuk membuka pintu saja dia
merasa enggan.
Kalaupun dia pergi, belum tentu mendapatkan kendaraan yang betu-betul
mengantarkan nya pulang.
"Ya ampun, kenapa aku sampai bisa berurusan dengan laki-laki mesum itu? Ah, dasar takdir emang jahat!" kata Leah
dalam hatinya.
Leah pun mengurungkan niatnya untuk pulang sendiri, dan kembali duduk di tepi ranjang dengan menatap Devan yang
sedang memejamkan matanya.
Entah dia benar-benar tidur, atau hanya sekedar memejamkan matanya saja, yang pasti Leah semakin dalam menatap wajah laki-laki tampan itu.
"Ternyata, dia kalau tidur tampan juga, batin Leah dalam hatinya.
Gadis itu terus-terusan menatap wajahnya Devan, sehingga laki-laki itu terbangun karena merasakan ada
seseorang yang sedang memperhatikan nya.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?"
Leah pun gelagapan dan sulit untuk bicara.
Dia pun langsung memalingkan wajahnya karena sangat gugup dan salah tingkah.
"Kenapa duduk di sini lagi? Gak jadi pulang sendiri?" tanya Devan lagi sembari merubah posisinya menjadi duduk.
"Aku tidak berani pulang sendiri, aku takut!" lirih Leah pelan.
Devan pun tersenyum dan senang karena wanita yang dicintainya itu pasti tidak akan berani meninggalkan dirinya
__ADS_1
disaat seperti ini.
Dan tiba-tiba saja Leah membuka selimut yang dikenakan oleh Devan,
otomatis Devan pun tercengang kembali.
"Ma-mau ngapain? tanya Devan sembari membelalakkan matanya.
"Mengulum!" jawab Leah dengan santainya.
"Ah, ti-dak-tidak usah! jangan lakukan,aku
sudah tidak *****!" kata Devan
sembari beranjak dari tempat tidurnya.
"Ah, syukur lah, tapi kenapa
bentuknya jadi seperti itu? gumam
Leah dengan polosnya namun masih bisa di dengar oleh Devan Diam!" teriak Devan sembari masuk ke dalam kamar mandi.
Leah pun tersenyum lebar, dia merasa senang karena junior Devan sudah bisa tidur kembali dan Devan pun sudah mau mandi lagi tanpa perlu campur tangan dari dirinya.
Devan segera menyalakan shower, dia langung mandi dengan perasaan yang penuh bahagia karena ia masih bersama wanita yang sangat dikasihi nya itu.
Sementara Leah, masih duduk di tepi ranjang sambil menikmati tontonan acara televisi.
Beberapa menit kemudian, ponsel Devan berbunyi, dan Leah pun langsung memberitahukan kepada Devan bahwa ponselnya berbunyi terus-menerus.
Devan pun memberhentikan kran airnya. Seketika hatinya merasa was-was karena takut yang menelepon adalah Kara.
"Apa! ponselku! Ya ampun! Kenapa
aku lupa mematikan ponselku sih! Aduh bagaimana ini, jangan sampai yang menelepon itu Kara!"
Tidak lama kemudian, Devan pun keluar dari kamar mandi.
Seperti biasa, dia memakai handuk lagi karena pesanan bajunya tak kunjung datang.
"Pa-panggilan dari siapa?" tanya Devan gugup dan was-was yang bercampur membuat nya menjadi gugup.
Dia takut jika yang menelepon dirinya adalah istrinya.
Apalagi ditambah dengan tatapan Leah yang semakin membahayakan jiwanya.
"Ya Tuhan, semoga jangan Kara! Jangan Kara... ku mohon!" kata Devan dalam hatinya.
Sebelumnya..
Di dalam kamar, Kara terlihat sedang serius dan sibuk membereskan alat-alat make-up dan beberapa keperluan pribadinya untuk dimasukan ke dalam tas
mewahnya itu.
Dia juga tidak lupa memasukan beberapa kartu ATM gold dan beserta beberapa uang tunai dan juga ponselnya.
Sebelum berangkat, Kara juga tidak lupa untuk merapikan pakaian yang dikenakannya itu agar terlihat anggun dan modis.
__ADS_1
Setelah semuanya beres, ia pun segera keluar dari kamarnya.
Namun, tampaknya Kara terlihat begitu tergesa-gesa, karena hari itu jadwal Kara
untuk pergi ke rumah orang tuanya yang berada di kota Yogyakarta.
Dia tidak ingin terlambat sedikitpun walau hanya untuk menemui keluarganya.
Setiap pulang ke rumahnya, Kara selalu membawakan sejumlah uang untuk kedua orangtuanya dalam jumlah yang
cukup besar.
Maka dari itu, ia takut jika hal ini diketahui oleh mertuanya, maka ia tidak bisa memegang uang Devan lagi
secara bebas.
Dan kebetulan juga, setiap dua kali seminggu , Kara selalu berkumpul atau nongkrong-nongkrong bersama teman-
temannya di sebuah club malam.
Memang, semenjak menikah dengan Devan, kehidupan ekonomi keluarga nya Kara mulai membaik.
Ditambah lagi, Devan memberikan satu perusahaannya kepada orang tua Kara agar dikelola dengan sebaik mungkin .
Sehingga, kehidupan mereka begitu bahagia tanpa kekurangan apapun dan keluarga nya menjadi orang terkaya di daerah nya.
Namun, setelah beberapa bulan menjalani kehidupan menjadi orang kaya, kehidupan
Kara dan keluarga nya mulai berubah dan menampakan sikap kesombongan nya. Dan hal itu, membuat orang tuanya Devan
mulai tahu satu persatu sisi keburukan nya Kara, tanpa harus diberi tahu oleh orang lain.
Bahkan, kedua orangtua Devan juga mulai tidak menyukai sikap Kara yang sombong dan arogan itu.
Namun, jika dihadapan Devan, Kara menyembunyikan kesombongannya agar terlihat baik di mata Devan.
Pada saat Kara sudah berada di luar rumah dan hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja ia dikagetkan dengan suara Nyonya Celia, yang pada saat
itu sedang menata pot baru bersama beberapa asisten rumah tangganya.
Padahal, dalam hatinya, ia berharap tidak ingin ada orang yang melihatnya pergi, baik mertuanya maupun para pekerja
yang ada di rumah mewah itu.
"Kara! Mau kemana, Sayang?" tanya sang mertua, Nyonya Celia.
Dan Kara pun berhenti melangkah dan terlihat begitu kesal.
"Aku mau pulang! Percuma juga aku
ada di sini, kalau suamiku Devan juga tidak ada disini" cetus Kara sembari memalingkan wajahnya.
SEE YOU GUYS JSNGAN LUPA KASUH LIKE DAN VOTE YA
makasih
__ADS_1