
"Memangnya kamu belum menghubungi Bos kita Devan ?" tanya Beni mengernyitkan keningnya.
"Belum!" Jawab Tio dengan polosnya.
"Ya ampun, aku pikir kamu sudah menghubungi dia! Ya sudah biar aku saja yang menghubunginya! Siapa tahu ini kesempatan Bos kita untuk bisa berbaikan dengan wanita itu," ucap Beni sembari mengambil ponsel dari saku celananya.
"Siap deh! Ide yang bagus tuh!" ucap Tio dengan mata yang berbinar-binar.
Saat itu, Devan baru saja merebahkan tubuhnya ke atas kasur, dan saat itu pula Beni meneleponnya untuk memberitahukan bahwa Leah sedang di bar bersama teman laki-lakinya minum-minum. Hal itu membuat Devan menjadi geram, karena ia tidak ingin wanita yang sangat ia sayangi bersama laki-laki lain.
Devan pun segera beranjak dari tempat tidurnya dengan sangat tergesa-gesa. Ia hendak menemui Leah dan kedua bodyguard-nya yang masih berada di bar itu. Devan pun mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di tempat tujuan dengan cepat.
Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama, Devan pun telah sampai di tempat bar itu. Namun, pada saat berada di dalam bar, bukan kedua bodyguard nya yang ia temui lebih dulu. Melainkan Leah yang saat itu sedang bersama para lelaki dan beberapa wanita lainnya.
"Leah!" teriak Devan dengan mata yang memerah karena menahan amarahnya.
Sontak saja gadis itu terperanjat kaget saat mendengar suara Devan yang sangat familiar itu. Para lelaki dan teman- temannya yang sedang berkumpul ikutan kaget dan seketika mereka diam tidak berkutik. Untungnya suara musik EDM yang diarahkan oleh DJ, tidak terlalu keras dan masih bisa terdengar di telinga mereka masing-masing.
"Devan!" ucap Leah kaget. Jantungnya berdegup kencang dan napasnya seakan semakin memburu tiada henti.
"Ya ampun, kenapa dengan tubuhku? Tidak biasanya seperti ini," batin Leah dalam hatinya.
Dengan tatapan yang sangat tajam dan emosi yang tertahankan, Devan pun langsung menghampiri Leah dan berkata, "Apa-apaan ini, Leah? Sejak kapan kamu jadi seperti ini?"
Melihat Devan emosi, Leah pun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Untuk membalas ucapannya saja, Leah tidak bisa. Ia lebih baik berdiam diri menundukkan kepalanya dan memainkan jari jarinya yang lentik, seakan terlihat sedang ketakutan.
"Ayo pulang!" ajak Devan sembari menarik lengan Leah.
Namun, para lelaki yang ada di sampingnya Leah langsung ikut bertindak. Mereka tidak terima karena Leah dipaksa Devan untuk meninggalkan tempat itu. Apalagi mereka sudah membayar Leah hanya untuk menemani mereka untuk minum-minuman.
__ADS_1
Melihat mereka ribut, para bodyguardnya pun langsung menghampiri Bosnya termasuk Kevin juga dan para bartender lainnya. Mereka tidak ingin ada keributan yang membuat Leah menjadi ketakutan.
"Hey, bro! Jangan maksa wanitaku dong!" ucap salah satu laki-laki yang ikut berpesta minuman itu.
Tanpa basa-basi lagi, Devan langsung menarik kerah kemeja laki-laki itu dengan penuh amarah dan emosi yang sudah berada di ubun-ubun. "Apa katamu? Dia wanitamu? Kurang ajar kau!"
Brughh ....
Devan langsung meninju wajah laki-laki yang tak dikenal itu. Otomatis laki-laki itu tubuhnya tersungkur ke lantai dan wajahnya sedikit berdarah karena pukulan Devan sangat kencang.
"Bos...! Sudah hentikan jangan buat gaduh di sini!" ucap Beni sembari melerai mereka berdua.
"Tidak bisa! Dia berani beraninya mengatakan kalau Leah adalah wanitanya! Dasar brrengsek!" ucap Devan geram dan sesekali menendang laki-laki itu dengan kaki kanannya.
"Ampuni aku bro! Maafkan aku!" kata laki-laki itu yang terlihat kesakitan.
"Awas ya kalau kamu bicara seperti itu lagi dihadapan ku, aku tidak segan-segan mencincang tubuhmu itu dan memberinya pada lumba-lumba!" ancam Devan dengan geram.
Kini, tinggal Leah yang berada di kursi itu. Ia menangis sesenggukan karena insiden tersebut. Bukan karena itu saja, ia juga menangis karena sedang menahan rasa yang tidak biasa pada tubuhnya setelah meminum-minuman yang beralkohol. Padahal, sebelum sebelumnya, ia tidak pernah merasakan perasaan yang seperti itu.
Devan yang melihat Leah menangis, langsung memeluknya. Dan ia meminta maaf karena dirinya, semua jadi berantakan seperti ini.
"Leah, aku minta maaf. Ayo ikut aku pulang ya," ucap Devan lirih.
Melihat hal itu, otomatis kevin pun kesal karena ia tidak ingin melihat laki-laki itu memeluk Leah tepat dihadapannya.
"Lepaskan!" ucap Kevin sembari mendorong Devan dengan kuat. Otomatis Leah pun terlepas dari pelukan Devan.
"Kamu tidak berhak menyentuh Leah! Paham!" ucap Kevin dengan sorot mata yang tajam.
__ADS_1
"Ayo, Grey. Aku antarkan kamu pulang!"
Leah hanya bisa menangis dan menuruti perkataan dari Kevin. Mereka berdua dengan cepat meninggalkan Devan dan kedua bodyguard-nya yang masih diam berdiri tidak berkutik sama sekali.
Dan Devan hanya bisa melihat dengan tatapan kosong, karena wanita yang sangat ia cintai, pergi dengan laki-laki lain.
"Ayo, Bos. Kita juga harus pulang, tidak enak sama mereka yang sudah melihat insiden ini sedari tadi," ajak Tio sembari menuntun Devan yang masih berdiam diri tidak beranjak dari tempatnya dan menatap Leah yang hampir menghilang dari pandangannya.
Setelah keluar dari bar, Devan tertegun lagi dan mengingat ingat kembali saat kedua bodyguard-nya memberitahukan tentang Leah, bahwa gadis itu sudah beberapa hari ini selalu menemani para lelaki minum minuman yang bisa membuatnya mabuk.
la pun kembali masuk lagi dengan tergesa-gesa hanya untuk menemui temannya Leah. la ingin tahu apa yang telah terjadi pada Leah sehingga wanitanya bisa melakukan pekerjaan seperti itu. Untuk menjadi bartender bagi dirinya tidak masalah, tetapi untuk menemani para lelaki hidung belang itu minum-minuman, sungguh ini menjadi masalah bagi dirinya.
Setelah mendesak Elgar, teman baiknya Leah, akhirnya Devan tahu masalah yang sedang dihadapi oleh Leah saat ini. Dan ia bertekad untuk membayar semua hutang Leah kepada managernya dengan tunai. Karena ia tidak mau melihat wanitanya disentuh oleh para lelaki hidung belang lagi.
Dengan rasa gembira, Pak Doin tidak henti-hentinya mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Devan karena sudah melunasi hutang hutangnya Leah. Namun, ia juga sangat sedih karena Devan membuat perjanjian dengan menyuruhnya untuk memberhentikan Leah dari pekerjaannya itu. Meski persetujuan ini sangat sepihak karena Leah tidak mengetahuinya, tapi Pak Doin tetap menyetujuinya. Ia yakin jika Devan akan bertanggung jawab untuk mengatasi semua masalah yang sedang dihadapi oleh Leah.
Mereka lalu segera meninggalkan bar itu dan pulang menuju ke kediamannya Devan.
Saat di perjalanan, mereka saling mengobrol mengenai Leah yang sudah diberhentikan pekerjaannya oleh sang manager atas permintaan dari Devan.
"Bos, kenapa kamu nekad membuat perjanjian seperti itu? Apa nantinya tidak akan menjadi semakin bermasalah? Aku yakin, pasti gadis itu akan semakin membenci kamu, Bos!" ucap Beni setelah selesai berurusan dengan manager itu.
"Aku tidak peduli, dia akan semakin membenciku atau tidak!
Yang penting aku harus melindungi dia dari orang orang kotor seperti mereka! Dan mulai dari sekarang, aku akan memenuhi semua kebutuhannya, termasuk keluarganya!" ucap Devan dengan tegas.
"Kalau wanita itu tidak mau menerimanya, bagaimana Bos?" celetuk Tio.
🌷Jangan lupa Like,Vote dan favorite kan ya .
__ADS_1
Btw makasih buat pembaca 📖yang selalu setia membaca dan mendukung karyaku📚 .
Thx ya guys😊🍫