
"Kamu tahu, dia sekarang ada di mana?" tanya Nyonya Celia dengan lembut.
"Mana aku tahu!" jawab Kara tanpa menoleh sedikitpun ke arah Nyonya Celia
"Ya harusnya kamu sebagai istri......"
Belum juga mertuanya selesai bicara, Kara langsung membentaknya. "Sudahlah! Mama gak usah ikut campur!
Aku tau mana yang harus aku lakukan terhadap suamiku ku Devan! Ini rumah tangga aku, jadi mama tidak berhak bicara apapun mengenai rumah tangga aku!".
Kara pun langsung masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan mertuanya.
la kesal jika mertuanya selalu menasehatinya atau melarangnya jika apa yang ia lakukan tidak sejalan dengan
keinginannya.
Dan ditambah lagi, Devan belum juga ada kabarnya, entah sedang dimana, ataupun
sedang apa, yang pasti Kara tidak tahu menahu soal keberadaan Devan sekarang ini.
"Ya ampun! Punya menantu gitu amat ya! Aku pikir punya mantu itu bisa melengkapi kebahagiaan ini, tapi ternyata
malah sebaliknya.
Padahal aku sudah menganggap dia sebagai putriku sendiri, ternyata sifat nya ... benar-benar diluar dugaan, kata Nyonya Celia dalam hatinya.
"Sabar ya, Nyonya.
Jangan dimasukkan ke dalam hati, nona
Kara memang wataknya seperti itu, saya dan teman-teman sudah kenyang dimarah-marahin terus sama dia, walau tidak tahu salahnya ada dimana; celetuk
salah satu asisten rumah tangganya.
"lya, tapi aku tidak menyangka saja, dia jadi seperti ini, padahal dulu tidak begitu. Aku harus bicara sama anakku, aku sudah
mulai muak dengan sikap nya itu! Huh, menyebalkan sekali dial!" gerutu Nyonya Celia sembari mengambil ponselnya dari atas meja.
Setelah mengambil ponsel nya ..
Nyonya Celia segera
menghubungi anak semata
wayangnya, karena ia sudah
tidak sabar ingin segera
memberitahukan sikap
menantunya itu, walau Devan
pasti selalu membelanya jika
ada perdebatan seperti yang terjadi yang kemaren-kenaren. Karena memang
dirinya belum benar-benar tahu
__ADS_1
apa yang sedang terjadi di dalam
rumahnya itu. Yang ia tahu,
hanyalah bualan kata-kata manis
dari mulut sang istri.
"Telepon dari siapa? tanya Devan was-was.
la takut jika yang menelepon dirinya adalah Kara.
la pun segera memakai handuknya kembali untuk menemui Leah dan menerima teleponnya.
"Ya Tuhan, semoga jangan Kara! Jangan Kara.. aku mohon!" kata Devan dalam
hatinya.
Setelah pintu kamar mandi dibukanya, terlihat Leah sudah berada tepat dihadapannya.
Dengan tatapan yang sangat tajam, serta membuat Devan semakin menduga-duga, kalau panggilan itu dari istrinya.
"Ya Tuhan! Matilah aku! Pasti dari Kara!" kata Devan yang mulai terlihat tidak tenang.
"Tulisannya sih, dari mama kamu celetuk Leah sembari memberikan ponselnya kepada Devan.
"Ah, syukurlah, terima kasih Tuhan, aku yakin pasti hal buruk tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini, aku benar-benar butuh waktu untuk menjelaskan kepadanya mengenai kehidupan aku ucap Devan dalam hatinya.
Devan pun langsung berjalan menuju balkon, dan menerima telepon dari Mamanya.
Devan mendengarkan keluh kesah
Setiap ucapan dari mamanya, ia ingat baik-baik, agar alasan untuk menceraikan Kara, tidak begitu dipersulit
Mendengar ucapan dari mamanya itu, Devan semakin yakin, kalau Kara tidak pantas untuk ia pertahankan.
Semenjak menikah dengan Kara, Nyonya
Celia tidak pernah mengatakan apapun tentang Kara kepada Devan kalau Kara itu bukanlah menantu yang baik.
Dan ini pertama kalinya, Nyonya Celia menceritakan keburukan menantunya itu pada nya , karena sudah benar-benar tidak tahan dengan sikapnya Kara.
Akan tetapi, Nyonya Celia tidak ingin membuat salah paham antara anak dengan menantunya.
Karena, sesuai perkataan suami nya, ia tidak boleh ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya.
Karena itu adalah plihan Devan sendiri.
Sejelek-jeleknya sifat Kara, tetap dia adalah istri Devan yang sah.
Jadi Devan lah yang harus menyelesaikan sendiri urusan rumah tangganya.
"Mah, maaf yah, aku benar- benar salah memilih, Aku tidak tau jadinya akan seperti ini.
Meskipun mama tidak memberitahuku, aku tetap orang yang pertama tau kalau Kara itu orangnya seperti apa, tapi aku
pura-pura baik kalau di depan umum takut mama dan papa kepikiran terus, soal rumah tangga aku, ucap Devan serius
__ADS_1
yang masih berdiri di atas balkon.
"Loh, jadi kamu sudah tahu, kalau sikap Kara itu seperti apa?" kata Nyonya Celia
membelalakkan matanya.
"lya, Ma. Aku dapat info juga dari kedua bodyguard aku, kalau dia sudah tidak seperti Kara yang aku kenal dulu, kata Devan terlihat sangat menyesali
pilihan nya itu.
"Kalau kamu tahu Kara itu seperti apa, kenapa kamu nikahi dia, Nak? Memangnya tidak ada wanita lain apa selain wanita itu?" geram Nyonya Celia.
"Ya mau gimana lagi, Ma! Waktu itu aku sudah terbuai dengan cintanya dia ke aku. Aku sudah yakin kalau dia itu pilihan ku yang pertama dan terakhir.
Tapi ternyata itu salah, dia membuat
aku kecewa, dan sikapnya berubah drastis semenjak aku memberikan satu perusahaan untuk dikelola oleh ayahnya, kata Devan meyakinkan mamanya.
"Apa! Kamu memberikan perusahaan itu kepada mereka?" kata Nyonya Celia terperanjat kaget.
Nyonya Celia benar-benar geram dengan apa yang sudah dikatakan oleh putra semata wayangnya.
Nyonya Celia tidak habis pikir, bagaimana bisa memberikan sebuah perusahaan dengan cuma-cuma walau untuk besan
sendiri.
Nyonya Celia sampai pusing tujuh keliling dua tanjakan dibuat , atas tindakan sang putra karena sangat ceroboh dan mudah percaya sama orang lain.
"Sayang, apa kamu sudah tidak waras? Bisa-bisanya ngasih perusahaan tanpa
sepengetahuan mama dan papa? Apa kamu pikir, dengan memberi perusahaan kepada mertua kamu, terus kamu bisa
membuat keluarga ini menjadi harmonis?" Nyonya Celia terus saja ngome-ngomel karena kesal kepada anak semata wayangnya.
Tidak, Mah. Tujuannya bukan seperti itu. Aku sengaja memberi kesempatan kepada ayahnya Kara, untuk mengelola
perusahaan itu, karena aku lihat cara kerja ayahnya Kara sangat bagus.
Dan aku sebagai menantu, masa iya
tega memperkerjakan sang mertua di perusahaan itu? Jadi aku putuskan untuk memberi kesempatan kepada ayahnya
Kara untuk menjadi owner- nya kata Devan panjang lebar menjelaskan secara detail mengenai hal mertuanya itu.
"Tapi, Sayang, mama kurang setuju atas tindakan kamu ini, apalagi perusahaan yang kamu berikan itu, adalah hasil jerih
payah mama sama papa kamu.
Kalau kamu mau memperbaiki keutuhan rumah tangga dengan Kara, silahkan saja. Tapi jangan asal memberi perusahaan
kepada orang lain, walau itu mertua kamu sendiri!" kata Nyonya Celia dengan kesal.
"Menyogok sang mertua dengan memberi perusahaan secara cuma-cuma, agar
anaknya bisa kamu dapatkan yah? Cih, budak cinta menyebalkan sekali!" umpat Nyonya Celia lagi kepada anaknya.
SEE YOU GUYS
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE ,VOTE YA KAWAN