
"Bos! Sabar Bos, jangan dulu marah-marah," Beni membujuk bos nya.
"Iya Bos. Jangan sampai wanita itu pergi lagi, hanya gara-gara bos tidak bisa mengendalikan amarah yang membuat wanita itu ketakutan," tambah Tio.
Devan pun langsung memejamkan matanya, dan memijit pelipisnya seakan apa yang sedang terjadi pada dirinya, sungguh tidak bisa ia kontrol lagi.
"Ya Tuhan! Bisa-bisanya aku bertindak seperti ini," kata Devan dalam hatinya.
Dan tidak lama kemudian, Kevin pun turun dari mobilnya. Sementara, Leah menuruti apa yang dikatakan oleh Kevin, untuk tetap berada di dalam mobil. Karena dirinya benar-benar sedang menahan rasa yang tidak biasa ia rasakan pada tubuhnya. Rasa yang seakan ingin melakukan sesuatu yang sangat bergairah dan penuh hasrat.
Bagaimana tidak, reaksi obat perangsang wanita yang telah dicampur dengan minumannya sudah mulai bereaksi dan kian meningkat. Dan Leah berusaha untuk meredamkan reaksi yang sudah menjalar ke seluruh tubuhnya dan berharap agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya.
"Kenapa malah kamu yang keluar! Dasar bedebah!"hardik Devan dengan tatapan yang sangat tajam.
"Bos! Santai dulu lah, jangan begitu!"Beni berbicara sembari menarik lengannya Devan.
"Oke-oke, aku tahu kamu sangat menginginkan Leah. Tapi tolong, berjanjilah padaku untuk tidak menyakitinya, karena dia sedang-"
Belum juga Kevin selesai bicara, tiba-tiba saja Devan langsung menyelangnya dengan cepat," Aku tidak perlu berjanji pada siapapun, karena aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk wanitaku!"
Mendengar hal itu, Kevin pun hanya diam sambil memandang Devan dengan sorot mata yang tajam. Dan dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Kevin percaya jika Devan memang sangat mencintai Leah.
Dan tanpa basa-basi lagi, Devan langsung menghampiri Leah yang masih berada di dalam mobil. Lalu, ia membuka pintu mobil itu dan memandang Leah dengan tatapan yang sendu dan berkaca-kaca.
"Sayang, ayo pulang bersamaku!"ajak Devan sembari mengulurkan tangannya ke hadapan Leah.
Leah pun terdiam menundukkan kepalanya sembari meneteskan air mata dengan pelan-pelan. Entah harus bagaimana lagi karena Leah juga sadar, jika dirinya masih sangat mencintai laki-laki tampan itu. Ia bahkan merasa bersalah karena sudah membuat Devan marah besar. Sehingga, pelan-pelan tangan Leah menerima uluran tangan Devan.
Sontak saja Devan sangat gembira dan meneteskan air mata saking senangnya karena Leah mau pulang bersama dirinya. Ia pun langsung menggenggam tangan gadis itu, seraya mencium punggung tangan Leah dan tidak henti hentinya berterima kasih kepada wanita pujaannya itu.
Kevin dan kedua bodyguard-nya merasa senang karena mereka berdua telah berdamai kembali.
Sebelum Leah turun dari mobil, ia harus memastikan Devan agar segera meminta maaf kepada Kevin. Karena, Kevin adalah sahabatnya sedari kecil dan ia tidak mau ada permusuhan diantara mereka berdua. Maka dari itu, Devan pun langsung menyetujuinya tanpa ada persyaratan apapun.
Tanpa basa-basi lagi, Devan langsung meminta maaf kepada Kevin atas apa yang sudah ia lakukan kepada dirinya selama ini. Dan tentu saja Kevin menerima permintaan maafnya, karena biar bagaimanapun, yang terpenting bagi Kevin adalah Leah bisa bersama dengan laki-laki yang tepat untuk dirinya.
"Tolong jaga sahabatku, jangan sampai dia bersedih lagi," Kevin berkata sembari tersenyum manis.
"Kamu tidak usah khawatir, sesuai apa yang aku katakan tadi,aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk wanitaku," Devan membalas senyuman pada Kevin.
"Jika sampai dia nangis dan pergi dari hidupmu, aku pastikan dia tidak akan kembali kepadamu lagi," Kevin menyeringai.
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," Devan berkata dengan tegas.
__ADS_1
"Sampai kapan kita akan begini terus! Aku sudah tidak bisa menahannya lagi," kata Leah sembari memegang tangan Devan dengan kuat.
"Oh, iya-iya. Ayo cepat kalian pergi dari sini. Malam sudah semakin larut, dan ini tidak baik untuk wanita seperti dia terus terusan berada di tempat yang seperti ini," kevin berkata sembari mendorong Devan dengan halus agar secepatnya membawa Leah pergi.
"Tidak bisa menahan? Tidak bisa menahan apanya?"tanya Devan keheranan.
"Sudah, sana pergi! Kalau tidak mau, nanti wanitamu aku rebut kembali," ucap Kevin menyunggingkan bibirnya.
"Tapi sayangnya, itu tidak akan pernah terjadi!"tegas Devan menyipitkan matanya. Devan pun langsung pamit kepada Kevin dan menggandeng tangan Leah untuk segera masuk ke dalam mobilnya. Kedua bodyguard-nya juga turut pamit kepada Kevin dan saling berdamai dengan tulus.
Setelah mobil Devan hilang dari pandangannya, kini tinggal Kevin seorang diri di tempat itu. la masih diam terpaku seolah ada sesuatu yang hilang dalam hatinya
"Semoga kamu bahagia,Grey!"lirih Kevin dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Ketika Kevin hendak masuk ke
dalam mobilnya, tiba-tiba saja ia melihat seorang wanita berjalan sendirian sembari menangis sesenggukan tanpa memakai alas kakinya. Semua orang yang melintasi jalan tersebut mengira bahwa, sahabat Leah yang bernama anggi itu mengalami gangguan mental.
Rambutnya sudah acak acakan dan bajunya sedikit sobek akibat pertikaiannya dengan Ria yang membuat tampilan Anggi berantakan. Sebab, semua itu karena atas kesalahpahaman Ria yang menyangka bahwa, Devan dan Anggi adalah penyebab utama sepupunya masuk ke rumah sakit.
Anggi bahkan sesekali merutuki kekesalannya terhadap apa yang sudah dilakukannya saat di restoran itu. Kesal, marah dan malu bercampur menjadi satu.
"Dasar brrengsek!"teriaknya.
Kevin yang sedari tadi memperhatikannya merasa keheranan atas apa yang sedang terjadi pada Anggi.
Tanpa berpikir panjang lagi
Kevin langsung masuk ke dalam mobilnya. Ia tidak peduli pada wanita itu karena dirinya benar benar tidak mengenalinya.
Sedangkan Leah dan Devan, sudah semakin jauh dari tempat itu dan tidak berpapasan dengan Anggi. Andai saja mereka bertemu, pasti urusannya tambah rumit.
Selama dalam perjalanan,
Devan semakin erat menggenggam tangan Leah. Bahkan, sesekali ia menciumi punggung tangan Leah dengan begitu lembut. Sehingga, kedua bodyguard nya merasa tidak nyaman dan salah tingkah.
Leah sedari tadi hanya berdiam diri saja, bukan karena tidak suka adanya Devan. Melainkan, ia sedang menahan rasa yang sungguh sangat luar biasa yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ya, reaksi obat perangsang wanita yang ada di dalam tubuhnya semakin
menjadi-jadi. Ia pun terus menempelkan tubuhnya ke arah Devan agar dirinya semakin berdekatan dengan laki-laki
tampan itu.
Bahkan, Leah menyandarkan kepalanya di bahu Devan yang lumayan cukup kekar dan lebar. Sehingga, wanita itu semakin nyaman dan ia pun melepaskan genggaman tangan Devan, untuk beralih memeluk tubuh kekarnya itu.
__ADS_1
Devan yang sedari tadi memperhatikan Leah, sangat keheranan sekali. Bagaimana tidak, selama ini, ia tidak pernah melihat Leah berperilaku seperti
itu.
"Kamu... kamu kenapa, Leah? Apa ada sesuatu yang membuat kamu begini?"tanya Devan mengernyitkan keningnya.
"Tidak ada, aku hanya ingin memeluk mu saja, apa tidak boleh?"ucap Leah dengan manja.
"Ya boleh sih, tapi... tumben saja kamu bersikap seperti ini, biasanya kan malu-malu," ucap Devan menyengir.
"Apa sekarang aku tidak terlihat sedang malu-malu?"tanya Leah menyipitkan matanya. Ia juga sedikit mendekatkan wajahnya ke arah Devan dan memeluknya dengan erat, sehingga laki-laki yang tampan itu merasa sangat risih. Ya, tentu saja Devan risih, karena Leah masih tercium aroma alkohol.
"Tidak!"jawab Devan dengan
tegas.
Seketika Leah melepaskan
pelukannya. Dan sedikit marah karena Devan tidak kunjung peka.
"Ya sudah, lebih baik aku peluk bodyguard kamu saja!"tegas Leah dengan sedikit menyentak.
"Apa?"kata Devan tercengang.
Kedua bodyguard-nya pun ikut tercengang dan terperanjat kaget saat mendengar ucapan Leah yang akan memeluk mereka masing-masing. Dan tanpa basa-basi lagi, Leah langsung memeluk Tio terlebih dahulu dari belakang. Otomatis, Tio merasa tersiksa karena pelukan Leah sangat erat sehingga lehernya merasa tercekik dan susah bernapas.
"Ya ampun! Bos tolong! Aku tidak bisa bernapas!" pekik Tio berusaha untuk melepaskan pelukan Leah pada lehernya.
"Sudah-sudah, hentikan, Leah!"ucap Devan sembari berusaha membantu bodyguard nya agar terlepas dari pelukan Leah.
"Leah, lepaskan, Sayang!"bujuk Devan dengan lembut, sehingga Leah pun menuruti perkataannya Devan. la langsung memeluk Devan kembali dan bahkan pelukannya semakin kencang. Dan hal ini, membuat Devan kebingungan.
"Ah, dia benar-benar ingin aku mati!"kata Tio sembari napasnya terengah-engah.
"Sabar-sabar, sepertinya dia sedang mabuk," ungkap Beni yang masih fokus menyetir.
Leah tidak peduli apa yang sedang mereka berdua bicarakan. Yang paling penting bagi dirinya, segera ingin memuaskan hasratnya yang sedari tadi ia pendam.
"Devan, aku benar-benar sudah tidak tahan!"rengek Leah ke telinga Devan.
"Apa maksudmu?"ucap Devan
mengernyitkan alisnya.
__ADS_1
Jangan lupa like ,vote dan komen ya guys .
Author salam hangat untuk kalian 😊🍫