
"Apa ada berita bagus yang membuat kamu seperti ini?" tanya Devan sembari mengelus elus rambut indah Leah.
"Iya! Kondisi bapak sudah semakin membaik, adikku bilang, bapak sudah tidak perlu kontrol ke dokter lagi," jawab Leah terharu.
"Syukurlah! Aku ikut senang!" ucap Devan tersenyum manis.
"Makasih ya! Ini semua berkat kamu juga," sambung Leah lagi sembari melepaskan pelukannya dan menatap wajah Devan sembari menyentuh wajah milik Devan.
"Itu semua berkat Tuhan, dan aku sebagai perantaranya untuk membantu kamu, karena biar bagaimanapun juga kamu itu adalah istriku!" ucap Devan membelai wajah gadis itu.
Leah pun ikut membelai wajah Devan dan tiba-tiba, tanpa Devan sadari Leah mengecup bibir tipis milik Devan.
Cup ...
Kecupan manis mendarat dengan begitu mesra, dan hal ini membuat Devan begitu senang. Karena istri kesayangannya itu semakin terlihat menggemaskan.
"Ya, aku sangat bersyukur atas semua yang telah diberikan Nya, hingga sampai detik ini. Dan aku juga sangat bangga memiliki kamu, meskipun saat ini orang orang masih menyangka bahwa kamu masih berstatus suaminya Kara, tapi aku akan berusaha untuk memaklumi hal ini, agar aku dan kamu tetap bersama, bila perlu bersama selamanya!" ucap Leah sambil menatap Devan dengan begitu terharu.
"Ya aku pastikan kita akan selalu bersama, aku bukan pria yang bermulut manis, tapi aku akan buktikan kepadamu kalau aku selalu berpegang pada janji - janjiku," balas Devan dengan memeluk Leah lagi.
"Oh ya? Terus bagaimana dengan istrimu? Apa dia sudah menanda tangani surat perceraiannya?" tanya Leah sembari mengelus-elus pipinya Devan.
"Istri? Mantan kali ah," Devan langsung membenarkannya karena memang Kara bukanlah istrinya lagi. "Untuk soal itu..."
Belum juga selesai bicara, Leah sudah menyelang pembicaraan Devan.
__ADS_1
"Aku sudah tau jawabannya ?" masih belum... " Leah langsung memalingkan wajahnya, ia pergi menuju ke sebuah kantong makanan yang ada di meja. Melihat hal itu, Devan merasa bersalah karena untuk memberikan surat cerai kepada Kara belum ia laksanakan. Sebab Kara masih di rawat di rumah sakit. Padahal prediksi dokternya mengatakan kalau kondisinya Kara akan membaik dalam jangka sampai dua bulanan. Namun kenyataannya hingga sampai saat ini kara belum juga siuman.
Devan langsung menghampiri Leah dan memeluknya dari belakang, "Sayang! Maafkan aku, aku sudah mempersiapkan surat cerai untuknya, tapi aku belum bisa memberikannya sekarang, karena dia masih di rawat di rumah sakit. Nanti kalau kondisi dia sudah membaik, aku pasti akan memberikannya secepat mungkin."
Leah membalikan tubuhnya agar berhadapan dengan Devan,
"Ya Sayang! Aku akan berusaha untuk mengerti hal itu. Hanya saja, aku takut jika orang-orang akan tahu kalau kamu sudah menikah lagi tanpa sepengetahuan mantan istrimu! Terus nasibku bagaimana kalau semua orang tau, bahwa kamu sudah menikah denganku? Aku tidak mau dicap sebagai pelakor."
"Itu tidak jadi masalah, bukankah publik tahunya anggi yang menjadi perusak rumah tangga aku? Jadi, kamu tenang saja. Nanti setelah beres semuanya, aku akan bilang pada publik kalau kamulah yang sekarang menjadi istri sah ku tanpa ada cela sedikit pun."
"Benarkah?"
"Tentu saja, aku tidak akan lupa pada janjiku, biar kamu bisa keluar rumah dengan bebas dan senang tanpa gunjingan orang orang di sekitarmu!"
"Mmm, kalau begitu gimana kalau kita pergi jalan-alan ke berbagai negara lagi? Biar kamu tidak bosan di rumah terus," ucap Devan berusaha menghibur Alma.
"Kita sudah keliling ke berbagai negara, daripada keliling negara terus, lebih baik uangnya ditabung buat masa depan kita. Kamu kan semenjak menikah denganku belum pergi bekerja lagi, coba bayangkan nanti kita mau bagaimana kalau tidak ada uang? Minta lagi sama orang tua kamu? Yang benar saja! Malu maluin banget. Seharusnya kita yang memberi ke orang tua, bukan malah meminta dari mereka!"
Mendengar hal itu, Devan langsung tersenyum sembari mengelus rambutnya.
"Hehe,memang istri yang pintar! Ya sudah kalau begitu kita bikin anak saja, lagi pula orangtuaku tahunya aku sedang menenangkan diri, jadi kamu tidak perlu memikirkan uang, karena tabunganku tidak akan pernah habis."
Leah terperanjat kaget mendengar omongan Devan tadi, ia pun langsung membalikan tubuhnya lagi untuk berpura pura kembali memeriksa kantong yang baru saja dibawakan oleh suaminya itu. Dan tidak hanya itu, Leah berusaha menghindar agar Devan tidak meneruskan obrolan untuk membuat anak lagi. Karena rasa sakit dalam selangkangannya masih begitu terasa jelas.
"Sayang! Kamu bawain aku makanan banyak banget? Kamu ingin aku gendut ya!"
__ADS_1
Namun Devan hanya tersenyum licik penuh arti. Dengan sorotan mata yang tajam dan penuh *****, akhirnya Devan langsung saja melahap bibir seksinya Leah dengan begitu rakus. Sontak saja Leah kaget dan membelalakkan matanya karena ciuman Devan begitu kuat dan sulit untuk ia bernapas. Lama kelamaan, ciuman itu merembet ke tengkuk leher Leah dengan lembut. Otomatis Leah mengeluarkan erangan-erangan yang membuat Devan semakin bergairah.
Tangan Devan tidak diam begitu saja, kedua tangan Devan ikut bergerak. Keduanya insiatif untuk menyentuh ke seluruh area sensitifnya, baik yang sensitif di atas maupun yang sensitif di bawah. Semua ia sentuh tidak tersisa. Leah merintih kegelian sembari meremas rambutnya Devan karena membuat dirinya semakin menikmatinya. Devan mengangkat tubuh Leah ke atas meja, dan ketika sesuatu barang miliknya akan masuk ke dalam surgawinya Leah, tiba-tiba saja Leah menghentikan aksinya Devan.
"Tunggu dulu! Kamu yakin ingin melakukannya di atas meja?"
"Yakin! Itung-tung menambah koleksi gaya bercinta kita, kan belum pernah ada gaya yang lain kan?" ucap Devan menyeringai.
"Belum sih! Tapi katakan dulu, kamu berani bayar berapa?" ucap Leah dengan polosnya.
Mendengar hal itu, Devan tertawa geli. Bisa-bisanya ia berkata seperti itu saat akan menghadapi puncak kenikmatan. Tanpa basa-basi lagi, Devan langsung meluncurkan barang berharganya ke dalam surgawinya Leah yang begitu teramat berharga itu.
"Ahh!" rintih Leah dengan gelak tawanya.
Mereka melakukannya di atas meja hingga sampai pada puncak kenikmatan.
"Ahh! Sayang aku sangat mencintai kamu!" racau Devan sembari melahap bibir milik Leah.
Keduanya menikmati indahnya rasa di setiap dalam hati masing-masing. Setelah bertempur hampir satu jam lamanya, mereka berdua segera membersihkan diri bersama sama. Dan disaat itu pula mereka berdua meneruskan gaya bercintanya lagi di kamar mandi. Hal ini menambah aksi kejantanan bagi Devan, sementara Leah hanya menikmati dengan erangan-erangan yang membuat Devan semakin bergairah.
Sementara di tempat lain...
"Sudah beberapa bulan ini, kok anak kita malah tidak pernah pulang sih Pa! Mungkin kalau dihitung dengan bulan ini, berarti hampir empat bulan dong dia tidak pulang-pulang. Setiap ditelepon, jawabannya ingin menenangkan diri terus! Mau sampai kapan menenangkan dirinya? Apa sudah tidak ingat pulang lagi ya!" ucap Nyonya Celia sembari menatap taman rumahnya.
"Kita lihat saja nanti, apa yang akan terjadi pada anak kita selanjutnya, kemarin aku dapat kabar dari kedua bodyguardnya, kalau dia sedang merasa happy," ucap Tuan Dimas.
__ADS_1