
"Kalau begitu, tetap lah di sini bersamaku. Nanti akan aku urus surat kepemilikannya menjadi atas nama kamu,"ucap Devan yang semakin erat memeluk Leah.
Mendengar hal itu, Leah terkejut dan entah mengapa ia merasa girang saat Devan berbicara seperti itu. Bahkan
konsentrasi memasaknya juga menjadi tidak beraturan.
"Apa kamu serius?"
"lya."
"Apartemen ini akan menjadi milikku?"
"Hemm, kenapa? Apa kamu tidak mau?"
"Ma-mana mungkin aku menolaknya. Hanya saja-"
"Sudah, cepat masaknya aku sudah sangatlapar," ucap Devan manja. Ia pun
terus memeluk Leah dan bahkan sesekali mencium tengkuk lehernya Leah dan merembet kemana-mana.
"Baik lah, ta-tapi jangan begini. Aku jadi tidak bisa fokus masak," Leah yang sedang menahan rasa sensasinya dari Devan.
"Hehehe, maaf. Kalau begitu aku tunggu di sana saja. Cepetan ya, aku sudah lapar banget" ucap Daffa sembari melepaskan
pelukannya.
Devan menunggunya di meja makan, tapi meskipun begitu, tatapannya terus saja ke arah Leah. Ia tidak habis-habisnya mengucapkan rasa syukur karena sudah mendapatkan wanita yang sangat dicintainya itu. Bahkan dalam benaknya,
ia ingin segera mengakhiri perkawinannya dengan Kara, agar dirinya bisa menikah dengan Leah sesuai janji yang sudah ia
katakan sebelumnya kepada Ayahnya Leah. Ia tidak peduli dengan kondisi Kara saat ini, yang ia pedulikan hanyalah LEAH dan leah saja.
Tidak lama kemudian, Leah pun membawa dua piring nasi goreng yang sudah siap untuk disantap. Harumnya sudah semakin menggoda dan tidak sabar untuk dilahap.
__ADS_1
Setelah Devan menyantapnya, ia benar-benar menyukai masakan Leah, dan rasanya sangat cocok di lidahnya Devan.
"Rasanya benar-benar mantap. Padahal hanya nasi goreng seperti ini, kamu memang wanita hebat, terima kasih ya,"puji Devan kagum.
"Aku sering memasak nasi goreng untuk Aldio dan bapak, tapi sekarang-"
Tiba-tiba saja Leah berhenti bicara. Ia baru tersadar jika ayah dan adiknya ia lupakan begitu saja.
"Oh iya, bagaimana kabar mereka sekarang ya? Aku hampir saja melupakannya," batin Leah dalam hatinya.
"Sekarang kenapa? Kok malah melamun?"Tiba-tiba saja Devan membuyarkan lamunannya Leah. Tentu saja wanita itu kaget .
"Sekarang... ah tidak perlu dibahas. Aku hanya tiba-tiba saja ingat mereka. Oh iya, nanti setelah sarapan, antarkan aku pulang. Soalnya aku masih ada tuntutan kerja yang harus aku lakukan hari ini juga,"ucap Leah dengan pelan.
"Tidak perlu," kata Devan dengan santai.
"Apanya yang tidak perlu? Aku masih membutuhkan uang yang banyak. Jangan ngaco lah, kamu tahu kan kehidupan aku ini seperti apa,"ucap Leah sedikit tidak terima jika Devan melarangnya untuk bekerja.
"Ke-kenapa bisa begitu?"tanya Leah membelalakkan matanya.
"Bisa lah, aku yang suruh,"jawab Devan dengan santainya.
"Kamu... kenapa melakukan semua itu? Kamu tahu tidak aku bekerja keras untuk apa? Hah! Tahu tidak?"geram Leah sedikit menyentak." Seenaknya saja memberhentikan pekerjaan orang tanpa ada persetujuan dari orangnya."
"Iya aku tahu! Aku tahu semuanya, Leah. Jadi kamu tidak usah khawatir, karena ayah dan adikmu itu sudah aku urus semuanya," ucap Devan dengan serius.
ISTRI SIMPANAN CEO
"A-apa? Jadi kamu tahu semuanya?"tanya Leah membelalakkan matanya.
"Iya, aku bahkan sudah menyuruh orang-orangku untuk menjaga ayah kamu itu, karena aku tidak mau, Aldio terganggu dengan kuliahnya hanya gara gara ayahmu sakit," tukas Devan.
Leah hanya bisa terdiam menatap Devan dengan mata yang berkaca-kaca. Bahkan ia merasa, selama dalam hidupnya, Leah tidak pernah merasa sebahagia ini. Dan hal ini benar benar membuat wanita itu semakin jatuh hati pada laki-laki yang sudah jelas-jelas ia tahu dan sadar diri kalau Devan adalah pria beristri yang tampan dan juga kaya.
__ADS_1
"Kenapa kamu lakukan itu sama aku, Devan," tanya Leah lirih. Matanya masih menatap penuh ke arah wajah Devan.
"Karena kamu adalah wanita yang sangat aku cintai. Dan sudah kesekian kalinya aku katakan, kalau kamu itu adalah wanitaku, tukas Devan sembari meletakkan sendok makannya di atas piring.
"Kalau aku adalah wanitamu, lalu bagaimana dengan istrimu? Bahkan sekarang ini, dia sedang berada di rumah sakit bukan?"ucap Leah sembari meneteskan air matanya perlahan-lahan.
Devan menatap wajah Leah dengan serius. Lalu, ia mengelus pipinya Leah dengan lembut dan mengusap air matanya yang sedang mengalir di kedua pipinya.
"Besok aku akan urus semuanya. Dan setelah urusanku selesai, kita akan menikah. Kamu jangan mengkhawatirkan dia karena aku sudah mengatakan kepadanya sejak dulu, kalau aku ingin bercerai. Dan itu sebelum aku mengenal kamu," jelas Devan dengan tatapan sayu.
"A-apa!"Leah langsung tercengang."Kamu bisa menceraikan dia dalam keadaan seperti itu?"
"Terus, apa kamu mau menikah denganku, meski aku masih ada ikatan pernikahan dengan dia?"tanya Devan menyipitkan matanya.
Sejenak Leah terdiam dengan kata-kata Devan yang benar-benar menusuk hatinya. Bagaimana tidak, Devan mengajaknya menikah sementara dirinya masih ada ikatan pernikahan dengan Kara dan itu tandanya ia akan menjadi istri keduanya Devan. Tentu saja Leah tidak menginginkan hal itu terjadi. Sebab, ia sadar, tidak ada perempuan yang rela dimadu, walau itu diperbolehkan oleh agama.
"Kenapa kamu sangat menginginkanku, bukankah istri kamu itu cantik, bahkan lebih cantik dari aku," ucap Leah sembari mengusap air matanya.
"Cantik kalau dilihat dari penampilannya saja, ya percuma. Aku tidak butuh wanita yang seperti itu. Yang aku butuhkan hanyalah, wanita yang mau menjadi pendamping hidupku dan melahirkan anak-anakku kelak,"Kata Devan dengan santainya.
"Begitu kah?"
"Hemm, Kara tidak menginginkan adanya anak, sedangkan aku sangat menginginkannya. Lalu, untuk apa pernikahan ini dipertahankan? Lebih baik aku menikahimu dan memiliki anak yang lucu-lucu bersama kamu. Pasti hidup ini akan hangat dan bahagia bukan?"
"Tapi masa iya istri kamu mengizinkan untuk menikah lagi? Tidak mungkin, Devan. Pasti suasananya tambah semakin rumit, kecuali kamu menikahiku secara diam-diam tanpa sepengetahuan istri kamu. Apalagi, di luaran sana pasti banyak wartawan yang sangat ingin mengusik kehidupan pribadimu, bukan?"celetuk Leah.
"Kalau begitu, ayo kita menikah diam-diam saja. Nanti kalau suasananya sudah semakin bersih dan semuanya beres tak tersisa, kita adakan pesta pernikahan kita, kamu mau kan?"tanya Devan dengan mata yang berbinar binar.
"Diam-diam berarti aku menjadi istri simpanan kamu dong?"celetuk Leah lagi.
"Terserah apa yang kamu katakan, yang pasti kamu adalah wanita yang sangat aku cintai," kata Devan sembari mengecup punggung tangannya Leah.
#MONGGO DI LIKE DAN VOTE YA GUYS
__ADS_1