
"Hehe, paling marahnya cuma dua menit saja .
Oh iya Pa, maaf ya aku akhir-akhir ini jarang pulang,karena-".
Belum juga selesai bicara, Tuan Dimas langsung menyelangnya, "Ya, Papa sudah tau! Biar bagaimanapun juga, itu keputusan kamu yang harus segera diselesaikan. Jangan sampai ada yang tersakiti diantara mereka, berdua"
Sekejap Devan terdiam.
Hatinya bertanya-tanya kenapa Papanya bisa bicara seperti itu, seolah-olah telah mengetahui apa yang telah Devan lakukan selama dua hari ini.
"Papa kok bicaranya seperti itu? Apa ada sesuatu yang papa ketahui tentang aku selama dua hari ini?" tanya Devan was-was.
la tidak pernah kepikiran, jika Papanya bakalan tau apa yang selama ini telah ia lakukan.
"Kamu sedang mendekati seorang perempuan kan? Hehehe, jangan bohong sama orang tua loh, nanti dosa nya jadi gede!" ucap Tuan Dimas terkekeh-kekeh.
Jleb ,seketika perkataan yang ayah nya katakan tepat mengenai jantung nya.
Devan langsung terperanjat kaget mendengar ucapan dari papanya itu.
Karena, setahu dia, Devan tidak pernah dan bahkan belum membicarakan soal
perempuan lain kepada kedua orangtuanya.
'A-aku...aku sangat penasaran.
Kenapa papa bisa bicara seperti itu? Lagi pula, memangnya Papa tau darimana kalau aku sedang mendekati perempuan lain?" ucap devan yang sudah terlihat
gugup dan pucat.
Kamu yakin, tidak tahu siapa orang yang telah memberikan informasi kepada papa soal kamu selama dua hari ini?" ucap Tuan Dimas menyeringai.
Tidak!" kata Devan menggelengkan kepalanya.
"Masa kamu tidak ingat sama sekali?" kata Tuan Dimas mengernyitkan keningnya.
"Tidak Pa, memangnya siapa? Aku bahkan tidak tahu siapa yang papa maksud itu.
Oh,atau jangan-jangan dia orang
suruhannya papa ya?" kata Devan penuh curiga.
Tuan Dimas terus saja berkata tidak dan menggelengkan kepalanya saja. la ingin
anaknya menebak siapa yang membocorkan rahasianya kepada papanya.
Ya ampun, siapa sih yang ngasih tahu ke papa? batin Devan dalam hatinya.
Devan benar-benar sangat penasaran Siapa orang yang telah memberi tahu soal dirinya yang sedang berusaha mendekati perempuan. la bahkan tidak ingat kepada kedua bodyguard nya, yang
selalu setia membantu dirinya.
"Ya ampun, Pa. Siapa sih orangnya bikin penasaran aja.
__ADS_1
Oh, jangan jangan teman papa ya yang memberi tahunya kalau aku sedang bersama-"
Seperti biasa, belum juga Devan selesai bicara, Tuan Dimas langsung menyelangnya lagi, "Dari bodyguard kamu
lah! Sebelum kamu datang mereka sudah datang terlebih dahulu, dan papa langsung mengintrogasi mereka.
"Ya ampun! Ternyata mereka! Aku hampir saja lupa sama kedua bodyguard ku itu" ucap Devan dalam hatinya.
"Dan apa kamu tahu? Papa dan Mamamu sudah membuat istrimu marah, dan
itu sebelum bodyguard kamu memberitahuku, kalau ternyata kamu memang benar-benar mencari perempuan lagi hehe, memang perasaan orang tua itu memang sangatlah kuat terhadap anak nya ucap Tuan Dimas tersenyum manis.
"Oh, gitu ya, hehe aku benar-benar tidak ingat sama kedua bodyguard aku Pa ucap Devan dengan nyengir yang lebar.
"Sama bodyguard sendiri saja kamu tidak ingat, bagaimana dengan perusahaan papa? Pasti lupa semuanyal!" ucap
Tuan Dimas menyunggingkan bibirnya.
"Hehe, iya Pa maaf,ucap Devan lagi. "Pikiranku masih serasa kacau.
"Ya sudah lah! Cepat selesaikan masalahmu, jangan sampai istrimu tahu soal ini.
Pasti dia akan ngamuk kalau ternyata suaminya itu selingkuh!" titah tuan Dimas dengan serius.
"Tidak masalah kalau ternyata dia mengetahuinya, Pa. Biar dia berpikir sedikit, kalau apa yang sudah dia lakukan itu sangatlah salah besar!" ucap Devan sedikit berteriak.
"Ya, papa juga sangat menyayangkan dengan sikapnya itu, tapi ya sudah lah, selama dia bisa memperbaiki sikapnya ke
papa dan mama, kenapa tidak untuk kita maafkan, bukankah begitu Dev?" ujar Tuan Dimas dengan pelan.
"Bukan hanya itu saja, Pa. Dia membuat aku sakit hati. Dia tidak mau hamil anakku, dan itu tandanya dia tidak mau anak dari aku.
Jadi, jangan salahkan kalau aku mencari perempuan lain lagi ucap Devan sembari melangkahkan kakinya menuju ke kursi sofa.
"Apa kamu bilang? Tuan Dimas tercengang dan langsung mendadak emosi mendengar ucapan dari anak semata wayangnya itu.
"Kenapa dia tidak mau hamil!" bentak Tuan Dimas dengan penuh amarah.
Saking kerasnya suara Tuan Dimas, para pekerjanya menjadi kaget dan ada sebagian yang menguping percakapan
antara anak dan papanya.
Dan tidak hanya mereka, Kara pun mendengarnya dan hendak menghampiri mereka berdua.
Namun, ia urungkan niatnya karena pembicaraannya mengarah kepada dirinya.
Dan hal ini membuat Kara semakin sakit hati dan ketakutan sekali.
"lya Pa. Dia tidak menginginkan anak dari
aku, dia bahkan memakai alat kontrasepsi agar tidak hamil.
Makanya aku akan menceraikannya saja dan memilih wanita lain yang ingin
__ADS_1
hidup bersama ku dan anak-anakku nanti, ucap Devan berusaha meyakinkan papanya, agar menerima perempuan pilihannya di suatu hari nanti.
Ya sudah, cepat selesaikan saja masalah kamu dengan dia. Dan jangan lupa urus juga perusahaan yang sudah kamu
berikan kepada mertuamu itu.
Papa tidak mau mendengar lagi, kalau perusahaan-perusahaan papa tiba-tiba penghasilannya menurun.
Dan sebenarnya ini tugas utama kamu sebagai anak tunggal, harusnya bisa
memimpin dengan baik.
Jangan asal memberi perusahaan
kepada orang, meskipun itu adalah orang terdekat kita sekalipun, ucap Ayah nya yang masih sedikit emosi.
"lya Pah, aku minta maaf. Aku pasti akan segera menyelesaikannya, ucap Devan
lirih.
Tuan Dimas benar-benar sangat emosi, sebab mempunyai seorang cucu adalah hal yang sangat diidam-idamkan nya.
Dan ia tidak mau apa yang sudah ia idamkan tidak terwujud juga.
Kalau tidak dari Devan, dari siapa lagi ia akan memiliki seorang Cucu.
Karena anak yang ia miliki hanyalah Devan satu-satunya.
Setelah percakapannya selesai dengan Papanya, Devan langsung menuju ke kamarnya.
Dan setelah apa yang ia lihat di kamarnya, begitu sangat mengagetkan sekali. Bagaimana tidak! Kamar yang begitu mewah dan rapi, kini sudah berantakan
bagaikan kapal pecah.
Apa yang sudah kamu lakukan, Kara!" suara Devan begitu meninggi, dan hal ini
membuat Kara terperanjat kaget.
Devan!" ucap Kara dengan suaranya yang bergetar.
Devan menghampiri Kara yang sedang duduk di pojok dekat ranjang, ia terlihat sangat berantakan bagaikan orang gila
yang terkena depresi.
Lalu Devan duduk di tepi ranjang dan
berkata, "Kamu pasti sudah tahu semuanya kan?"
Kara hanya bisa terdiam, dan air matanya mulai menetes dari kedua sudut matanya.
"Apa yang kamu dengar, dan apa yang kamu ketahui, itu semuanya adalah benar! Aku sedang jatuh cinta lagi kepada wanita lain, ucap Devan dengan tegas.
To BE CONTINUE
__ADS_1
Love you dari othor 😘💞💞