
Tidak hanya Nyonya Celia yang ikut ke rumah sakit, Devan dan Tuan Dimas pun ikut mengantarkannya ke rumah sakit. Selama dalam perjalanan, mereka tidak
mengeluarkan sepatah kata pun.
Yang ada dipikiran mereka hanya lah kecemasan dan menginginkan Kara segera cepat ditangani oleh dokter.
Sesampainya di rumah sakit, Kara langsung segera dibawa ke IGD dan para dokter yang sedang bertugas di sana langsung segera menanganinya.
Ketika mereka sedang gentar-gentarnya,
ada sosok orang yang sedang memperhatikan mereka.
Ya dia adalah seorang jurnalis penulis berita, yang tidak sengaja bertemu dengan mereka di rumah sakit.
Tentu saja hal ini ia abadikan agar menjadi topik berita terbarunya sang jurnalis itu.
Karena, ia tahu betul pengusaha yang paling sukses dengan perusahaan raksasa asal kota Jakarta itu adalah dari
keluarga Sanjaya.
Sehingga, berita terhangat ini akan segera
menyebar tanpa ada yang mengetahuinya.
"Devan, kenapa ini bisa terjadi? Apa yang telah kamu lakukan sehingga dia bisa nekat seperti itu?" tanya Nyonya Celia ketika sedang menunggu Kara di luar
ruangan IGD.
Nyonya Celia benar-benar merasa cemas dan takut jika terjadi sesuatu kepada
sang menantu.
"A-aku tidak melakukan apa-apa, Ma. Hanya saja aku mengatakan langsung pada Kara, bahwa aku akan menceraikannya.
Apa itu salah, Ma?" ucap Devan dengan suara gemetar. la merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Kara.
"Mama juga tidak tahu antara benar atau salahnya kamu . Mama sangat
bingung dan khwatir, takut terjadi apa-apa sama kamu, secara Kara kan--"
Tuan Dimas langsung menyelang pembicaraan Nyonya Celia, "Tidak akan terjadi apa-apa sama anak kita. Apa
yang harus dia perjuangkan, ya perjuangkan saja.
__ADS_1
Jangan karena ada kesalahan seperti ini, perjuangan untuk mencapai kebahagian anak kita jadi hilang seketika.
"lya juga sih pah ! Tapi kan-" seketika ucapan Nyonya Celia terhenti, ia menatap sang suami dengan tatapan yang begitu sayu.
Hatinya benar-benar tidak tenang.
Jika terjadi sesuatu pada Kara, maka sudah pasti anaknya Devan lah yang akan disalahkan oleh orang tua kara .
Dan hal ini pasti akan dijadikan alasan untuk memaksa agar Devan tetap harus bersama Kara.
Tuan Dimas pun menggelengkan kepalanya, agar Nyonya Celia tidak berpikiran yang macam-macam. "Sudah,
jangan terlalu cemas, Kara akan baik-baik saja"
"lya, Ma. Dia akan baik-baik saja, aku yakin itu" ucap Devan berusaha meyakinkan mamanya.
Nyonya Celia pun mengangguk sambil menundukkan kepalanya karena hal ini serasa begitu berat baginya untuk menghadapi kenyataan ini.
"Devan, sepertinya masalahmu semakin rumit, kamu yang sabar yah! Mulai besok, Papa akan bantu kamu menangani
urusan yang ada di kantor untuk sementara waktu.
Sampai masalahmu benar-benar
terselesaikan, kata Tuan Dimas sembari mengusap punggung anak semata wayangnya.
Aku janji, akan secepatnya menyelesaikan
semua masalah ini dengan baik; ucap Devan yang begitu tampak lesu. Entah apa yang harus ia lakukan karena hal ini sungguh diluar dugaannya.
"Mama dan Papa pasti akan mendukung kamu dan menyemangati kamu, apapun
yang terjadi nanti ke depannya, kamu harus tegar, ucap Nyonya Celia sembari memeluk anak semata wayangnya.
Devan memejamkan matanya dalam pelukan ibunya, untuk saat ini, ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi. Apakah akan tetap menceraikan Kara atau tidak. Karena disisi lain, ia sangat ingin hidup bersama orang yang sekarang ini sudah membuat dirinya sangat
bahagia.
Apalagi, Devan sudah berjanji kepada ayahnya Leah , bahwa dia akan segera mempersunting Leah.
Dan ditambah lagi, Devan juga belum menjelaskan kepada Leah soal statusnya yang masih ada ikatan pernikahan bersama Kara.
Dan hal ini, membuat Devan semakin frustasi karena tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
__ADS_1
Di sisi lain, kedua orangtuanya sangat iba terhadap anaknya. Baru kali ini, mereka
melihat anak satu-satunya itu terlihat sangat bersedih di hadapannya sendiri. Dan itu membuat hati keduanya menjadi
semakin tidak menentu.
"Ya Tuhan, kenapa masalahnya harus jadi seperti ini.
Apa hal ini menandakan bahwa aku tidak bisa menceraikan Kara? Dan tidak berjodoh dengan Leah?" batin Devan dalam hatinya.
Tidak lama kemudian, dokter yang menangani Kara segera pergi menemui Devan dan kedua orang tuanya yang masih setia menunggu hasil pemeriksaan
dari dokter.
Dan apa yang telah dokter katakan, sunguh sangat mengejutkan bagi Devan dan kedua orangtuanya.
Bagaimana tidak, apa yang telah dikatakan oleh dokter itu, membuat semua orang yang mendengarnya merasa sangat syok.
Sebab, dokter itu mengatakan bahwa, Kara mengalami patah tulang di ruas-ruas tulang belakangnya dan hampir saja akan retak.
Dan hal ini mengakibatkan kelumpuhan di seluruh anggota gerak lengan dan tungkai.
Ditambah lagi, Kara tadi hampir saja kehabisan darah.
Namun, tim dokter telah menanganinya dengan baik.
Sehingga kemungkinan Kara masih bisa
hidup meskipun kondisinya sangat memprihatinkan.
Kara pun segera di bawa ke ruang ICU untuk membutuhkan perawatan dan pengamatan secara intensif.
"Ya Tuhan, kenapa hal ini harus terjadi?" lirih Nyonya Celia sembari matanya berkaca-kaca menatap tajam kepada anak semata wayangnya.
"Saya turut prihatin atas kejadian yang sudah menimpa pada nona Kara, semoga beliau baik-baik saja, kata dokter yang
telah menangani Kara.
"Terima kasih, Dok. Tolong berikan penanganan yang yang terbaik dan tepat untuk menantu saya agar secepatnya pulih kembali.Berapapun biayanya yang penting dia sehat seperti sedia kala atau seperti biasanya, ucap Tuan Dimas dengan serius.
#Nah ayo jangan lupa Like
Vote
__ADS_1
Kasih hadiah ya
makasih dari author yang manis ini 💞💞😘