HASRAT CEO BERISTRI

HASRAT CEO BERISTRI
Sesuai janji


__ADS_3

🌷 Jangan lupa Like ya Vote juga


"Baiklah, mau bagaimana lagi, daripada terus melakukan dosa.Lagi pula, aku tidak mau sakit hati berlarut-larut, aku tidak peduli dengan gunjingan orang orang yang penting aku harus fokus mengurus bapak dan adikku dan juga... menjadi istri


simpanan kamu," ucap Leah menatap ke arah Devan. Dan Devan pun hanya bisa tersenyum lebar menanggapi perkataan Leah.


Tentu saja Leah menyetujuinya, tapi dengan catatan, Devan harus memenuhi


segala kebutuhan Leah, dan membiayai adiknya untuk bersekolah di Universitas


Kedokteran. Bahkan Leah meminta Devan untuk menjamin biaya perawatan Bapaknya hingga sampai sehat seperti


keadaan semula. Dan hal itu sangat disetujui oleh Devan, yang paling penting, dirinya bisa bersama Leah sampai kapan


pun.


Dan saat itu pula keduanya akur kembali hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk menikah tanpa sepengetahuan orang lain. Termasuk Kara dan keluarga Devan.


Mereka akan menikah setelah ayahnya Leah sembuh, dan melangsungkan pernikahannya di tempat yang tertutup.


Rencana itu lah yang disusun oleh Devan, untuk menyembunyikannya dari publik.


Agar suatu saat nanti, publik tidak menganggap Leah sebagai wanita perebut suami orang. Karena biar bagaimanapun juga, Devan sudah mengajukan gugatan untuk menceraikan


Kara yang dibantu oleh kuasa hukumnya. Namun Devan belum berani membahasnya kepada kedua orangtuanya, karena Kara masih berada di rumah sakit.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, di mana Leah dan Devan sedang membereskan segala peralatan yang ada di dapur. Maklum, apartemen itu jarang di tempati, sehingga barang-barang yang ada di sekitar dapur terlihat kotor dan


berdebu. Bahkan, rencananya mereka akan bersih-bersih ke setiap ruangan agar suasananya kembali bersih lagi.


Ketika sedang sibuk-sibuknya bersih-bersih, tiba-tiba saja kedua orang bodyguard nya Devan datang mengetuk pintu. Leah yang mengetahui hal itu, menjadi ketakutan karena takut jika ada salah seorang keluarga dari Devan maupun Kara datang ke apartemen itu. Dan sudah pasti urusannya akan semakin besar.


"Devan, aku harus sembunyi di mana ini?"tanya Leah panik.

__ADS_1


"Tenang dulu, jangan panik, aku akan melihatnya,"kata Devan sembari melangkah menuju ke arah pintu.


"Ah, tetap saja aku takut. Aku ke kamar saja lah," kata Leah sembari berlari kecil menuju ke dalam kamarnya.


"Takut apanya? Inikan apartemenku,"gumam Devan sembari melangkah menuju ke depan pintu. Setelah Devan mengintip dari lubang pintu dengan memakai alat reverse door-peephole viewer, ternyata yang datang ke tempat apartemennya adalah kedua bodyguardnya sendiri. Ia pun tersenyum dan langsung membuka pintu dengan cepat.


"Masuklah," kata Devan dengan sumringah.


"Terima kasih, Bos!"kata keduanya dengan serempak.


Mereka berdua masuk dengan membawa beberapa kantong plastik yang berisikan makanan dan minuman serta pakaian


wanita dan juga beberapa alas


kaki. Karena pakaian Devan sudah banyak di lemari, kini keduanya insiatif membawakan pakaian baru untuk Leah. Meski keduanya tidak tahu ukurannya, tapi keduanya yakin jika pilihannya pasti akan cocok dan pas saat Leah memakainya.


Benar-benar bodyguard yang perhatian bukan?


"Leah nya kemana, Bos? Nih, kita bawakan pakaian untuk dia," kata beni sembari menyimpan kantong di atas kursi sofa.


"Ya, karena kita tahu, punya Bos sering amnesia. Jadi kita insiatif sendiri saja," celetuk tio.


Mendengar hal itu, mereka pun tertawa terbahak bahak karena memang Devan orangnya pelupa, dan kadang bodyguardnya lah yang selalu mengingatkan apa yang seharusnya Devan lakukan.


"Sudahlah, aku mau mengantarkan pakaian-pakaian ini dulu untuk Leah, kalian bereskan saja makanannya ke dapur biar cepat beres," ucap Devan sembari membawa kantong plastik yang berisikan pakaian baru untuk Leah.


"Siap, Bos!"


Dan beberapa saat kemudian, akhirnya Devan dan Leah keluar dari kamarnya untuk menemui kedua bodyguardnya Devan.


Leah sangat berterima kasih kepada keduanya, karena sudah membelikan baju baru, yang bagus dan Leah pun sangat menyukainya. Ia tak tanggung-tanggung langsung memakainya hari itu juga, agar tidak mengecewakan kedua. bodyguardnya.


"Maaf ya, Nona. Kami tidak bisa membelikan baju yang mahal, karena—"

__ADS_1


Belum juga beni selesai bicara, tiba-tiba saja Leah langsung menyelangnya, tidak apa-apa, seperti ini saja bagiku sangat berarti. Aku sangat suka sekali, terima kasih banyak ya. Oh iya, kalian jangan panggil aku nona, panggil saja Leah, oke!"


Leah sangat sopan dan lembut. Tidak seperti istrinya Devan, yang selalu ketus dan angkuh ketika ia mengajaknya bicara.


"Kalian akan lama di sini kan? Kebetulan aku mau nyiapin makan siang. Tapi... sepertinya hanya nasi goreng saja, soalnya di sini belum ada bahan-bahan makanannya," kata Leah kepada keduanya.


"Kata siapa? Sekarang sudah banyak kok bahan-bahan makanan ataupun minuman di dapur," ucap Devan dengan santainya.


"Iya kah?"kata Leah tersenyum manis.


"Cek saja, kamu pasti tercengang melihatnya," kata Devan tersenyum lebar.


Tanpa basa-basi lagi, Leah langsung menuju ke dapur dengan hati yang bahagia. Dan betapa bahagianya Leah, setelah melihat isi lemari es yang tadinya hanya berisi telor dan air putih, kini lemari es itu penuh dengan makanan dan minuman.


"Whoaa! Banyak sekali isinya. Susu, keju, sayuran, minuman kaleng, ah... ini membuat aku semakin betah berada di sini," gumam Leah sembari mengambil beberapa bahan makanan untuk di masak.


"Memang benar kata Anggi, nyari pacar tuh yang kaya raya, biar bisa hidup enak. Hehehe, benar-benar membahagiakan jiwa," tawa Leah dalam hatinya.


Saat Leah tengah sibuk memasak di dapur, ketiga laki-laki itu secepatnya berdiskusi untuk membereskan masalah yang belum mereka tangani. Devan menginginkan perceraiannya dengan Kara segera diurus melalui pengacaranya yang handal. Selain itu, ia juga meminta kedua bodyguardnya untuk mengurusi masalah yang kemarin belum ia tuntaskan, yakni antara perkelahian Ria dan sepupu Kara , Ria.


Dan untuk masalah yang ada di perusahaannya, ia akan menghubungi kedua orangtuanya untuk memberitahukan bahwa dirinya ingin menenangkan diri untuk sementara waktu.


"Mudah-mudahan, apa yang kita rencanakan ini berjalan dengan lancar. Aku tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi, kalau bukan kepada kalian berdua. Jadi, tolong dengan sangat, lakukan lah rencana ini dengan sebaik baiknya," ucap Devan dengan serius.


"Siap, Bos. Kalau urusan yang seperti ini serahkan saja kepada kami," Beni membalas dengan cepat.


"Baik lah, aku percaya kok, usaha kalian sangat luar biasa.


Oh iya, aku hampir saja lupa,"kata Devan sembari beranjak dari tempat duduknya.


"Apanya yang lupa, Bos?"tanya Tio penasaran.


Dan tidak lama kemudian, Devan pun kembali lagi menghampiri mereka berdua dengan membawakan sebuah kartu ATM untuk mereka berdua, demi memanjakan mereka selama mengurusi pekerjaannya.

__ADS_1


"Wahh, Bos. ini beneran buat kita?"tanya Beni tersenyum senang.


__ADS_2