HASRAT CEO BERISTRI

HASRAT CEO BERISTRI
HARUS BISA


__ADS_3

"Bapak! Gak boleh bilang seperti itu!"ucap Leah kesal.


"lya maaf, habisnya bapak ingin segera menikahkan kalian berdua, Bapak sudah tidak sabar ingin menjadi wali nikah kamu, Le kata Pak Hasan lirih.


"Bapak tenang saja, aku dan Devan pasti akan merencanakannya. Tapi saat ini,


kita masih berduka, Pak. Jadi, jangan terburu-buru dulu ya, kata Leah meyakinkan bapaknya.


"lya, bapak paham, tapi tidak ada salahnya kan kalau hanya sekedar menyusun rencana?" kata Pak Hasan lagi.


"Nah iya Pak, rencanakan saja dulu, nanti kalau sudah 40 harinya mendiang ibu, baru kita tentukan lagi rencananya, kata


Aldio yang tiba-tiba saja ikutan nimbrung.


Sementara, Devan tiba-tiba saja terdiam dan hanya menundukkan kepalanya karena apa yang dipikirkannya sungguh sangat berat untuk dijelaskan.


Ingin rasanya dia jujur tapi tidak mungkin


ia ungkapkan sekarang juga rahasianya.


"Aduh bagaimana ini? Bisa- bisanya aku bilang seperti itu, Kara saja belum aku ceraikan! Dasar bodoh kau otak tidak dapat berpikir jernih !" ucap Devan dalam hatinya.


Devan benar-benar merasa sangat


bersalah, tidak seharusnya ia mengajak Leah menikah sementara dia masih belum menceraikan istri pertamanya.


Tapi apa mau dikata, ia sudah terlanjur cinta dan tidak mau melepaskan Leah yang sudah ada di dalam genggamannya.


"Pokoknya, aku tidak mau dalam pernikahanku ada kebohongan, yang akan


membuat rumah tanggaku hancur.


Kalau begitu, dari sekarang aku mesti jujur pada Leah, kalau aku masih ada ikatan pernikahan dengan perempuan


lain.


Aku pasti bisa!" ucap Devan dalam hatinya.


"Ya benar kata Bapak! Lebih cepat lebih baik, tapi saya masih menghargai kalian yang sedang berduka, jadi ... mungkin setelah selesai 40 harinya mendiang ibu


Leah, sayan akan bisa menikahi Leah, Pak tutur Devan dengan tegas.


"Nah kan! Apa bapak bilang, Nak Devan pasti akan menikahi kamu, Nak!" ujar Pak Hasan sembari melirik ke arah Leah.


Leah pun hanya bisa tersenyum manis, dan merasa sangat bahagia, walaupun rasa sedih masih menyelimuti hatinya, tapi hatinya tidak bisa dibohongi,


karena Leah sudah semakin jatuh cinta pada laki-laki yang sangat tampan


itu.


Akan tetapi, ketika sedang senang senangnya, tiba-tiba saja Aldio menyambung bicara lagi seolah ingin membuat hati kakaknya kesal.


"Tapi Pak,kalau menurut Aldio, apa itu

__ADS_1


tidak kelamaan ya? Kenapa tidak sekarang saja nikahnya! Yang penting kan ada wali nikah, dua orang saksi, dan


diucapkannya ijab kabul. Udah sah itu Pak!" ucap Aldio kepada Bapaknya sembari menjulurkan lidahnya ke arah


Leah.


"Apa yang kamu bilang bocah ?" ketus Leah sembari menjitak kepala Aldio.


"Aww, kurang keras, Kak; ledek Aldio lagi


"Sini! Biar aku jitak pakai sapu nih!" tutur Leah geram.


"'Sudah-sudah, kalian jangan ribut terus, gak malu apa sama Nak Devan,' ucap Pak Hasan dengan suara baritonnya.


"Santai aja Pak, lagian saya suka lihat adik-kakak sedang berantem, hehe macam kucing dan tikus saja, ujar Devan tertawa kecil.


"Ya begitulah, Nak. Rumah ini selalu ramai terus, apalagi kalau ada Nilam "


Pak Hasan tiba-tiba saja terdiam memori tentang istrinya itu kini mulai memasuki pikiran nya. la benar-benar merasa terpukul atas kehilangan istrinya yang begitu amat dicintanya. Tapi, ia juga bahagia karena anak sulungnya sudah


menemukan belahan jiwanya. Jadi ia serasa tenang karena anak perempuan satu-satunya sudah ada yang menjaganya.


"Pak! Mendingan Bapak istirahat saja, lagian sudah malam, Bapak jangan banyak pikiran, gak baik buat kesehatan


Bapak, ayo Leah Antar bapak ke kamar ucap Leah. la tahu, jika bapaknya masih merasa kehilangan. Leah tidak ingin


bapaknya terlalu bersedih terlalu dalam.


"Ya, kamu benar, Nak. Ya sudah kalau begitu, Bapak permisi dulu, Nak Devan,' ujar Pak Hasan sembari berusaha bangkit dari duduknya.


bapaknya untuk beristirahat. Sementara yang lainnya masih asyik ngobrol bersama Devan. Setelah mengantarkan bapaknya ke kamar, Leah ikut ninmbrung


lagi bersama Devan dan keluarganya. Namun suasana di rumah sudah sepi dan tidak ada lagi tetangga yang nimbrung,


Devan pun menyuruh Leah untuk beristirahat.


"Oh iya Dev, kamu tidur di kamar adikku saja ya. Yah meskipun kamarnya kecil, tapi lumayan lah buat menghilangkan rasa lelah mu" tutur Leah sembari


mengantarkan Devan ke kamar Adiknya.


"Atau kamu mau tidur di hotel saja? Biar adikku yang mengantarmu ke-"


Belum juga selesai bicara, Devan langsung memotong nya,


"'Sudah disini saja, gak usah repot-repot. Tidur di manapun bagiku gak masalah"


"Hemmm, ya udah kalau begitu, selamat beristirahat Tuan Devan" ucap Leah tersenyum manis.


"Eh, tunggu dulu! Aku mau bicara sesuatu sama kamu; kata Devan sembari menarik tangan Leah.


"Bicara soal apa?" tanya Leah penasaran.


Duduk dulu, Devan menuntun Leah untuk duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


"Aku mau bicara serius sama kamu.


"Soal nikah?" Leah mengernyitkan alisnya.


"Hem, aku tau ini pertemuan yang sangat singkat, tapi apa kamu benar- benar mau menikah denganku?" tanya Devan menatap dua bola mata Leah yang sayu.


"lya itu benar! Apa kamu tidak percaya dengan ucapan ku?" jawab Leah dengan serius.


"Ya aku percaya dengan ucapan mu itu, tapi... apa kamu tau aku ini siapa?" tanya Devan lagi.


"Aku tidak peduli kamu itu siapa. Yang aku tahu, kamu itu seorang pria aneh yang tidak tahu malu jawab Leah sembari


menjulurkan lidahnya.


"Hmmm, kamu ini" kata Devan mencolek hidungnya Leah.


"Hehe, memang benarkan? Lagi pula kamu aneh sih, harusnya aku yang bertanya soal ini, bukan kamu; kata Leah


sembari menyunggingkan bibirnya.


"Memangnya, kamu mau bicara apa? tanya Devan sembari mendekap kan tangan di dadanya.


"Apa kamu mau menikah dengan perempuan seperti aku, yang norak,jelek dan miskin ini? Rata- rata pria kaya gak bakalan mau, kecuali mencari kesenangan dengan gadis-gadis di luaran


sana, macam gadis liar tuh tutur Leah. "Dan sayangnya, aku bukan perempuan yang seperti itu."


"Tidak! Aku bukan orang seperti itu. Aku menerima kamu apa adanya. Dan bagiku kamu wanita tercantik yang pernah


aku temui," kata Devan dengan


menggenggam tangan Leah.


"Halah gombal. Mana mungkin orang sepertimu tidak pernah bertemu dengan orang cantik, dusta itu dusta kamu!" kata


Alma sembari menepuk tangan Devan yang masih menggenggam tangannya.


"Awwhh sakit tau!"' Devan meringis kesakitan. Lalu ia bicara lagi dengan begitu serius.


"lya yang cantik banyak, tapi kebanyakan pakai make- up dipoles sana-sini, pokoknya semuanya ditempeli deh, kan


aneh lihatnya, seperti ondel- ondel berjalan .


Nah kalau kamu, tidak pakai make-up pun sudah cantik. Cantikmu sudah alami, aku


suka!" Seketika Leah tertawa


terbahak-bahak mendengar ocehan Devan. Dan Devan pun Juga ikutan tertawa karena melihat Leah tertawa begitu lepas.


Semua mengalir begitu saja, tanpa ada paksaan untuk tertawa bahagia .


Jangan Lupa LIKE ,VOTE DAN FAVORITE KAN YA GUYS


SEE YOU

__ADS_1



__ADS_2