
"Oh iya Leah, kamu harus janji padaku, jika suatu saat nanti, kita berada dalam kesulitan, aku mau kamu tetap berada disampingku, menyemangati ku dan apapun yang aku lakukan, kamu harus
tetap mendukungku.
Tegur aku jika aku salah, jangan
mendiamkan aku seperti patung , dan-
Sejenak Devan terdiam, ingin rasanya ia mengutarakan keganjalan yang ada dihatinya.
Sesuatu yang sangat menyakitkan akan dia katakan kepada sang pujaannya, membuat ia merasa semakin bersalah. Entah kapan ia akan jujur kalau dirinya
masih ada ikatan pernikahan dengan sang istri.
Rasanya berat dan ia tahu, semua wanita yang ada di bumi ini, tidak akan ada
yang mau untuk dimadu.
"Dan apa sih?" ucap Leah. Seketika membuyarkan lamunan Devan.
"Dan.. dan kau harus percaya padaku ucap Devan gelagapan.
"Oke lah, Tuan, apa pun yang kamu lontarkan kepadaku, intinya kita harus saling percaya bukan? Jangan ada kebohongan dan keganjalan yang membuat hubungan kita hambar, iya
kan? Aku paham, kamu jangan khawatir, aku tau apa yang harus aku lakukan. Sekarang saatnya kamu istirahat, okey, tutur Leah menggenggam erat tangan
Devan.
"Oke, Sayang! Terima kasih
sudah memahami isi hatiku, Aku semakin mencintaimu" ucap Devan sambil mengecup dahi Leah.
Dan bukan hanya dahi saja, kecupan Devan langsung merembet ke area bibirnya leah.
Lalu mereka saling berbalasan dengan begitu mesra.
Bahkan suasananya semakin kian
memanas dan penuh gairah. Akan tetapi, ketika mereka sedang bermesra-mesraan,
seseorang datang membuka pintu.
Brakk......
Seketika itu pula, keduanya merasa kaget dan gelagapan.
Devan langsung tersungkur ke bawah ranjang saking begitu kagetnya. Sementara, Leah hampir saja ikut terjatuh.
Aldio!" teriak Devan dan Leah dengan serempak.
"Ya elah Kakak! Ngapain kalian berduaan di kamar, kalian belum nikah loh. Aku bilangin sama bapak loh!" kata Aldio
menyunggingkan bibirnya.
"Jangan dong, jadi adik gitu amat sih!" kata Leah kesal.
"Ya udah sana keluar! Ngapain coba malah diam di sini! Mau aku bilang ke bapak ya?" ucap Aldio menyeringai.
__ADS_1
"lya-iya aku keluar! Dasar Curut ganggu orang senang saja, gerutu Leah sembari melangkah menuju ke luar kamar.
"Hmm, nyari kesenangan kok malah di kamar sih! Yang benar saja!" ucap aldio menyunggingkan bibirnya.
Devan yang menyaksikan mereka berdua, malah tertawa geli. Ada rasa malu, ada juga rasa lucu terhadap mereka. Namun,
Devan tetap menyembunyikan rasa malu itu, karena dirinya merasa tenang telah diketahui sebagai kekasih Leah oleh
orang-orang di sekitarnya.
"Begitulah Kak, aku dan kakakku sering bercanda, kalau gak jahilin kak Leah, rasanya hambar banget hehe ucap Aldio
sembari menghampiri Devan.
"Aku senang melihat kalian seperti itu, kalau aku boro-boro. Mau jahil pada siapa pun tidak ada? Terus mau
bercanda juga pada siapa? Gak ada teman untuk bercanda sama sekali" tutur Devan sembari beranjak untuk duduk kembali di tepi ranjang.
"Kakak gak punya saudara adik ataupun kakak? Berarti kakak anak tunggal dong" tanya Aldio mengerutkan alisnya.
"lya kata Devan singkat.
"Tenang saja Kak, masih ada Kak Leah yang wajib kita jahilin hehe ucap Aldio tertawa lepas.
"lya juga!itu ide yang bagus hehe.. ucap Devan terkekeh kekeh.
Mereka berdua saling tertawa bersama. Dan tidak lama kemudian, mereka memutuskan untuk segera tidur, karena malam sudah hampir larut.
**********
Sementara itu di tempat lain .. Waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi, di kediaman rumah Devan, para asisten rumah tangga sudah mulai beraktivitas
masing-masing.
Sebelum sarapan, seperti biasa kedua orang tuanya Devan selalu menjalankan
aktivitas derngan berjalan santai mengelilingi taman rumahnya.
Setelah itu mereka berniat
kembali masuk ke rumah untuk segera menyantap sarapan paginya. Sembari berjalan menuju ruang makan, mereka
berbincang-bincang dengan santainya.
"Mah, kamu kenapa? Kok dari tadi keliatannya lesu begitu? Apa ada masalah lagi?" tanya Tuan Dimas kepada istrinya itu.
"Bagaimana tidak lesu,di rumah ini begitu sepi, menantu kita gak pulang-pulang dari
kemarin, apalagi anak kita, sudah dua hari ini dia-"
Seketika pembicaraan Nyonya Celia terhenti. la kembali teringat tentang
percakapan dirinya dengan anaknya waktu kemarin-kemarin mengenai tabiat menantunya itu.
"Kenapa dengan anak kita?" tanya Tuan Dimas penasaran.
"Oh iya Pa, apa kamu tahu? Anak kita memberikan satu perusahaan dengan cuma-cuma kepada besan kita loh!" ucap
__ADS_1
Nyonya Celia mengalihkan topik pembicaraannya.
"Apa? Masa sih? Kok papa gak tahu. Masa iya sih Devan memberikannya begitu saja? Itukan hasil jerih payah kita, ya kalau mau dikelola ya silahkan
saja, tapi kalau dimiliki, rasanya papa gak ikhlas. Kan mama tahu sendiri, betapa susahnya mempertahankan semua
perusahaan-perusahaan itu dari mulai nol hingga sampai jaya seperti sekarang ini, ujar Tuan Dimas.
"Maka dari itu, mama juga kurang setuju!"
"Yang Devan berikan ke besan kita, perusahaan yang mana ya?" tanya Tuan Dimas lagi.
"Entah lah, mama belum tahu pasti. Nanti kalau anaknya sudah datang, kita tanyakan langsung saja sama dia, tutur Nyonya Celia.
"Jadi dia, benar-benar belum pulang juga dari kemarin?" suara Tuan Dimas mulai meninggi.
"lya Pah, mungkin lagi sibuk, kan bukan satu perusahaan saja yang ia kelola, kata Nyonya Celia dengan santainya.
Ketika Tuan Dimas hendak berbicara lagi, ia melihat menantunya sedang berdiri
dibalik lemari hias yang di depannya tersimpan kaca yang sudah terpajang di dinding.
Dan hal itu membuat Tuan Dimas tau
jika sang menantu sudah datang
dan sedang menguping pembicaraan mereka.
"Atau mungkin saja dia sedang mencari wanita lagi, kan biasanya Devan sebelum-sebelumnya gak pernah telat pulang seperti ini celetuk Tuan Dimas sembari
memberikan kode dengan mengedipkan matanya ke arah istrinya.
Dan Nyonya Celia dengan tanggapnya memahami sang suami, jika dirinya sedang memberikan sebuah kode, walau
tidak tahu artinya apa tapi Nyonya Celia dapat mengetahuinya.
"Bisa jadi, zaman sekarang kan lagi ngetrend punya istri dua kata Nyonya Celia tertawa manis.
"Ya siapa tahu, pulang-pulang bawain cucu" kata Tuan Dimas menyengir.
Jleb...
Hati Kara begitu sakit seperti tersayat pisau yang tajam saat mendengar obrolan mertuanya. Hal ini baru ia sadari, dan Kara mulai ketakutan jika suatu saat
nanti, Devan akan melakukan sesuai dengan yang diucapkan mertuanya.
"Kenapa aku gak kepikiran kesana, kalau suatu saat, Devan benar-benar akan melakukan hal itu. Kalau iya, terus aku
bagaimana?" batin Kara dalam hatinya.
"Tidak-tidak, itu tidak boleh terjadi.
Aku tidak mau dimadu, aku tidak mau!" batin Kara dalam hatinya lagi.
#Jangan lupa Like VOTE dan favorite ian ya guys
makasih banyak-banyak dari author
__ADS_1