HASRAT CEO BERISTRI

HASRAT CEO BERISTRI
KEMBALI KEJAKARTA


__ADS_3

Kara langsung berlari menuju ke kamarnya, ia memuaskan amarahnya pada kaca riasnya.


la menangis sejadi-jadinya, saat mendengar obrolan dari sang mertua yang membuat hatinya sakit dan tersadar atas apa yang sudah terjadi. Kekesalan dan penyesalan sudah tertanam


dalam hatinya.


Dan seketika itu pula, Kara yang mengingat-ngingat obrolan teman-temannya saat reunian waktu SMA-nya dulu. memperhatikan teman


sebangkunya yang terlihat perutnya sudah membesar, gendut dan tidak berbentuk.


Karena waktu itu teman sebangkunya sedang hamil tua. Jadi apa yang dilihatnya sungguh memang tidak enak dipandang. Maka dari itu, Kara bertekad tidak mau hamil karena takut badannya gemuk dan perutnya membesar seperti teman sebangkunya itu.


Untuk soal tubuh, Kara memang selalu menomor satukan nya, agar selalu terlihat


cantik, ramping dan seksi.


"Kalau aku tidak punya anak dari Devan, aku pasti bisa diusir dari rumah ini! Tidak-tidak aku tidak mau, aku tidak mau


meninggalkan rumah mewah ini, hiks hiks hiks...., lirih Kara sembari terisak-isak.


Pikiran Kara mulai kacau, dan untuk rencana melenyapkan mertuanya pun seketika terlupakan.


Sementara itu di sisi lain, Tuan Dimas Dan Nyonya Celia sudah berada di ruang makan. Mereka tertawa cekikikan atas ulahnya pada menantunya itu.


"Pah, apa kita tidak keterlaluan ya? Aku takut dia semakin membenci kita, ucap Nyonya Celia sembari menuangkan


teh hangat ke dalam gelas suaminya.


"Ngapain kita takut? Dia aja tidak takut sama kita, menantu yang baik itu, harus menjaga tata krama sama mertuanya.


Juga harus punya etika yang sopan sama orang yang lebih tua dari dirinya. Tapi yah... kita kembalikan lagi kepada anak kita, itu pilihannya, dan kita sebagai


orang tua ya -"


Belum juga selesai bicara, Nyonya Celia langsung memotongnya , "Sudah lah Pa,


mendingan kita makan saja, ngomongin soal menantu gak akan ada habisnya."


"lya juga" ucap Tuan Dimas. Lalu ia melahap makanannya dengan penuh semangat.


"Tapi kalau dia punya wanita lagi, tidak apa-apa lah, kan tidak masalah. Yang ada papa malah bersyukur, biar anak kita bisa ganti istri, celetuk Tuan Dimas.


"Ma-maksud papa apa?" tanya Nyonya Celia sembari membelalakkan matanya.


Nyonya Celia mengerutkan keningnya, ia heran, mengapa suaminya bisa berkata seperti itu, sedangkan untuk ganti istri saja mana mungkin bisa terlaksana


jika pihak dari istri tidak mau dipisahkan.


"Memangnya Kara setuju kalau Devan akan ganti istri? Perasaan mama sih mengatakan dia gak bakalan mau. Jangankan diganti istri, dimadu saja, dia gak bakalan rela!" kata Nyonya Celia


sembari mengambil cangkir yang

__ADS_1


berisikan teh hijau yang masih hangat.


"Ya, kalau tidak begitu, kapan kita punya cucunya? Jadi siap tidak siap, dia harus berkorban dong, kata Tuan Dimas dengan


santainya.


"lya juga sih, tapi mama tidak akan mendukung, kalau anak kita menyakiti perempuan, Pa.


Biar bagaimana pun, mama juga seorang perempuan. Jadi sama lah perasaan perempuan kalau suaminya berpaling ke lain hati itu bagaimana! Mama hanya


bisa mendoakan yang terbaik saja buat Devan dan keluarga kita ucap Nyonya Celia dengan tegasnya.


"Baik lah, bagi papa terserah yang diatas saja. Mudah- mudahan diberi petunjuk sama yang Maha Kuasa.


"Betul, begitu akan lebih baik" Keduanya tersenyum manis, walau tidak tahu apa yang sudah terjadi pada anaknya, tapi


mereka tetap positif thinking dan tersenyum dan bahagia.


Sementara di tempatnya Leah ..


Devan sudah bangun lebih awal dari Leah, ia berniat untuk segera pulang ke jakarta untuk urusan bisnisnya. Karena


dua hari ini ia tidak masuk ke kantornya. Dan kerjaan di kantor pasti menumpuk.


"Dio, pagi ini, aku mau berangkat. Tolong kasih tau kakakmu, barangkali dia masih


tidur ucap Devan yang sudah beres mandi dan berpakaian rapi.


Dio pun segera membangunkan Leah. Dan tanpa basa-basi lagi, Leah langsung


menghampiri Devan untuk memberitahu bahwa dirinya ingin ikut pulang lagi ke jakarta. Karena biar bagaimanapun juga, Leah masih terikat kontrak kerja di


salah satu bar ternama itu.


Leah tidak mungkin menambah waktu


cutinya karena itu pasti akan membuat gajinya terpotong.


Setelah disetujui oleh Pak Hasan, kini Leah dan Devan bisa pulang lagi ke jakarta. Namun Pak Hasan berharap,


agar mereka berdua segera secepatnya untuk menikah. Dan mereka pun menyetujui usulan Pak Hasan untuk segera merencanakan pernikahan.


Tolong jaga putriku satu- satunya ini ya, Nak Devan. Jangan sampai dia kenapa-kenapa. Dia sudah tidak punya ibu lagi, dan bapak harap Nak Devan bisa


mengerti hal ini" kata Pak Hasan dengan pelan.


"Baik, Pak. Saya mengerti. Saya akan menjaga Leah dengan sepenuh hati saya ucap Devan sembari memeluk Pak Hasan.


Mereka pun saling berpelukan, sedangkan Leah hanya bisa tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Rasa haru dan


bahagia sudah terlihat dari raut wajah Leah.

__ADS_1


"Oh iya, Dio. Nanti di kamar ada beberapa bingkisan yang belum dibuka, kalau kamu mau, silahkan ambil saja. Soalnya aku


dan Leah sudah belanja sangat banyak,


dan sisanya masih ada di dalam mobil untuk nanti dibawa ke Jakarta kata Devan tersenyum manis.


"Beneran nih Kak, semuanya buat aku nih ?" Dio langsung sumringah dan matanya berbinar-binar.


lya!" ucap Devan lagi.


"Terima kasih banyak ya kak; ucap Dio sumringah.


"lya, sama-sama'


"Ya sudah, ayo kita berangkat Leah, biar nanti pulangnya tidak kemalaman"


"Oke!" ucap Leah dengan semangatnya.


"Hati-hati di jalan ya, Nak; timpal Pak Hasan kepada Leah dan Devan.


Mereka berdua saling berpelukan lagi, seolah tidak ingin berpisah jauh-jauh. Bahkan, para tetangga yang dekat pun


ikut bersalaman kepada Devan dan Leah untuk mengiringi keberangkatannya. Dan tidak lama kemudian, mereka berdua


akhirnya berangkat menuju kota Jakarta dengan penuh keharuan dan kebahagiaan.


*****


Sesampainya di Jakarta..


"Sayang, aku antarkan kamu pulang dulu ke kos-an, setelah itu aku mau langsung berangkat ke kantor. Karena tugasku sudah numpuk dan harus diselesaikan


hari ini juga, ujar Devan sembari fokus menyetir.


"Baik lah aku mengerti, tapi nanti jangan lupa kalau sudah selesai, hubungi aku, perintah Leah sambil tersenyum manis.


"Pastinya dong sayang " ucap Devan sembari menggenggam tangan Leah dan langsung mengecupnya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya mereka tiba di kos-an Leah dan dia langsung turun dan segera mengambil beberapa kantong belanjaannya.


Karena sebagian sudah diberikan kepada Dio, jadi Leah tinggal mengambil sisanya saja.


Devan juga membantunya dengan


cepat. Agar para penghuni kos- an tidak bergosip apapun tentang mereka berdua.


"Akhirnya sampai juga, Sayang kalau begitu aku pergi dulu, kalau ada apa-apa langsung telepon aku ya, ujar Devan sembari meletakan barang belanjaannya.


Oke! Kamu juga, hati-hati ya di jalannya, jangan ngebut- ngebut loh ya, perintah Leah dengan manisnya.


Jangan lupa kasih hadiah ya kalau kamu suka cerita ini

__ADS_1



__ADS_2