
"Oh ya? Aku tidak sabar ingin melihat anakku tersenyum kembali. Apa aku yang datang ke apartemennya saja ya? Eh tapi-" sejenak Nyonya Celia terdiam, ia tiba-tiba saja ingat pada nasib Kara yang masih terbaring lemah di rumah sakit.
"Tapi apa mah?" Tanya Tuan Dimas.
"Menantu Kita Kara Pa?" jawab Celia ragu-ragu.
"Entah lah kita menunggu keputusannya saja. Lagi pula, keluarga Kara sudah tidak mau menghargai kita. Padahal, kita bertanggung jawab penuh untuk Kara. Hanya karena anak kita tidak pernah datang ke rumah sakit, ucap Dimas.
"Oh iya, aku hampir saja lupa, sepertinya tugasku sudah selesai. Anak itu moodnya sudah membaik kan. Jadi sekarang aku mau telepon dia dulu, biar besok anak itu bisa kembali bekerja," tambah Tuan Dimas sembari mengambil ponselnya.
"Oh iya pah, sampaikan Juga kalau aku sangat merindukannya," ucap Celia.
Dimas langsung menelepon Devan untuk memberitahukan, jika besok Devan harus segera kembali bekerja. Dan hal itu direspon baik oleh Devan karena memang Devan sudah benar-benar sedang gembira. Dimas pun tidak lupa untuk memberitahukan kepada anaknya, jika ibunya sangat merindukannya. Devan sangat senang mendengar kabar ibu tercintanya. la pun berjanji akan secepat mungkin untuk segera pulang ke rumahnya.
Begitu nyamannya yang dirasakan oleh Devan ketika melihat kolam ikan yang airnya jernih. Hening dan damai, dan hal itu membuat Devan semakin betah berada di apartemennya. Terawat dan bersih, ini lah yang dilakukan Leah selama berada di apartemennya, ia selalu telaten dan rajin untuk mengerjakan segala pekerjaannya yang ada di apartemennya.
Biasanya, Devan selalu menyuruh orang untuk membersihkan seluruh isi apartemennya, tapi sekarang Leah lah yang mengambil tugas itu. Bahkan sekali-kali Devan iseng ngerjain Leah yang sedang sibuk bersih-bersih hingga Leah geram dan jengkel kepadanya.
Dan disitu pula mereka bercanda dan bertengkar bercampur menjadi satu, hingga pada akhirnya ujung ujungnya mereka akhiri aksinya untuk menuntaskannya di atas ranjang.
Tiba-tiba kedatangan Leah memecahkan keheningan, Devan sedikit terkeju. "Sayang, ayo kita makan, aku sudah menyiapkan makanan kesukaan kamu."
"Wow! Ayo, kebetulan aku sudah lapar," ucap Devan sembari menghampiri Leah.
Mereka berdua segera menuju ke meja makan, meski mereka masih menggunakan balutan baju mandi tipis, namun mereka berdua tetap menikmatinya. Karena tidak akan ada yang mengganggu mereka berdua meski tanpa busana sekalipun.
"Sayang, seperti nya hari ini kita harus menemui kedua orang tuaku deh. Entah orangtuaku yang akan ke sini, atau kita yang akan ke sana. Sepandai- pandainya tupai melompat pasti akan terjatuh juga bukan? Nah, kira-kira kamu sudah siap apa belum untuk bertemu dengan orangtuaku?" tanya Devan sembari akan melahap makanannya.
"A-apa! Menemui orang tuamu!"ucap Leah kaget.
__ADS_1
"Iya Sayang, meskipun kamu tidak mau, tetap saja kamu pasti akan menemui mereka dikemudian hari. Jadi apa bedanya bertemu sekarang sama bertemu nanti? Toh sama saja bukan?"ucap Devan dengan santainya.
"I-iya sih! Tapi aku belum siap karena istrimu-"
Belum juga selesai bicara, Devan langsung memotong perkataan Leah.
" Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, kamu kan istri sahnya aku, dia udah aku ceraikan, udah kutalak tiga malah, jadi stop! Jangan bilang dia masih istriku, karena istriku yang sekarang sudah ada di depan mataku."
"Tapi, tetap saja ini salah, Devan! Harusnya kamu sebelum menikahiku, urusan antara kamu dengan istrimu itu harusnya sudah beres. Biar aku tidak minder, karena aku merasa posisiku ini terkesan seperti perebut suami orang, Devan!"ucap Leah dengan mata berkaca kaca.
"Hey, kenapa kamu berpikiran seperti itu?"tukas Devan tersenyum .
"Tapi, ya sudah biar kamu tenang, hari ini aku akan pergi ke rumah sakit untuk menyelesaikan urusanku dengan dia, oke! Jangan cemberut gitu dong," ucap Devan sembari membelai pipi Leah.
Leah menganggukkan kepala saja, ia tidak bisa berkata-kata lagi. Leah menahan air matanya agar tidak terlihat begitu cengeng di hadapan Devan. Mereka berdua langsung melanjutkan makan bersamanya.
"Sayang, selama aku pergi, kamu boleh mengundang teman kamu ke rumah ini, biar kamu tidak tambah jenuh. Aku akan siapkan sopir pribadi jika kamu ingin berbelanja. Atau kamu boleh panggil kedua bodyguard aku untuk berjaga jaga di sini. Tapi ingat, aku hanya mengijinkan kamu untuk bertemu dengan teman wanita saja, bukan teman laki-lakimu! Jaga dirimu baik-baik selama aku pergi. Jika ada sesuatu telepon aku segera. Oke!"ucap Devan sembari memeluk Leah.
la benar-benar tidak ingin jauh-jauh dari Leah karena selama hampir berbulan-bulan ini ia selalu lengket bersama Leah terus. Pagi, siang dan bahkan malam pun mereka selalu nempel terus bak seperti prangko.
"Ish, aku bukan wanita seperti itu lah, daripada ngajak teman, mending aku suruh bapak sama adikku saja kemari, bapak kan sudah sehat, dan aldio juga sedang libur,"ucap Leah tersenyum pada Devan.
"Oh benar juga! Ya sudah nanti aku akan suruh sopir pribadi untuk menjemput mereka, aku pamit dulu ya!"pamit Devan mesra.
"Ya, Sayang. Hati-hati di jalan ya!"
"Oke!"
Mereka pun saling berpelukan dan melepas rindu. Ketika Devan sudah di ambang pintu, tiba-tiba saja Leah berteriak memanggilnya karena ada sesuatu yang Devan lupakan.
__ADS_1
"Sayang!"teriak Leah sembari menghampiri Devan.
"Ya, Sayang! Ada apa?"
"Kamu melupakan sesuatu ya?"
"Lupa? Sepertinya tidak!"
"Yakin nih?"
"Mmm, oh iya! Aku belum mencium bibir manismu! Sini, Sayang,"ajak Devan sembari menarik tangan Leah.
"Ish bukan itu!"ucap Leah berusaha menghindar dari cengkraman Devan.
"Oh bukan ya? Terus apa dong?"
"Kamu belum memberikan aku money ! Kan kamu sudah mencoba tubuhku beberapa kali hari ini! Di meja, di atas ranjang, bahkan di kamar mandi pun kamu melakukan itu tanpa memberikan aku sedikitpun istirahat!"ucap Leah senyum .
Seketika Devan tertawa terbahak-bahak mendengar ocehan istrinya. Bagaimana tidak, hari ini ia lupa memberikan money untuk istrinya karena sudah melayani dirinya sampai dirinya benar-benar puas.
"Oke-oke, Sayang! Nih aku kasih kamu kartu ATM saja deh, biar kamu bisa langsung shopping bareng bapakmu dan adikmu itu," ucap Devan sembari mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya.
"Wow! Kartu gold!"ucap Leah terkesima.
Leah langsung menerima kartu ATM pemberian dari Devan. Dengan wajah yang berseri-seri, Leah mengucapkan rasa terima kasihnya kepada sang suami. la pun tidak lupa untuk mengecup bibir tipisnya sebagai tanda terima kasihnya karena sudah dibayar cash.
"Hehe, dasar matre!"ucap Devan tertawa sembari mengelus elus rambut Istrinya.
"Hehe, biarin. Matre kepada suami sendiri tidak masalah bukan!"kata Leah sembari memeletkan lidahnya.
__ADS_1