HASRAT CEO BERISTRI

HASRAT CEO BERISTRI
KARA TERLUKA


__ADS_3

Deg........


Jantung Kara semakin berdetak sangat kencang dan mulutnya pun sulit untuk


mengeluarkan kata-kata.


Tubuhnya mulai melemah, dan air matanya pun semakin mengalir dengan deras membasahi kedua pipinya.


"Kenapa? Kenapa kamu lakukan ini, Dev, kenapa?" batin Kara dalam hatinya.


"Mungkin aku bukan suami yang baik untuk kamu, Ra. Aku selalu menuntut kamu untuk memberikan aku anak, tapi


nyatanya kamu tidak sependapat


dengan keinginanku. Dan itu membuat aku kecewa. Jadi mulai sekarang, aku akan melepaskan kamu, biar kamu


bebas dari tuntutan ku dan bebas


melakukan apa yang kamu inginkan. Kita pisah saja, Ra!" kata Devan menatap tajam ke arah Kara.


Jlebbb.......


Hati Kara bagaikan semakin tersayat.


Dan membuat tetes demi tetes air mata semakin terjatuh dan begitu menyesakkan dadanya.


Luapan tangisan pun kini ia keluarkan sejadi-jadinya. Kara langsung menghampiri Devan yang masih terdiam duduk di tepi ranjang, wanita itu berlutut di kaki Devan dan berkata sembari


menangis,"Tidak! Aku tidak mau pisah denganmu, Dev. Aku sangat mencintaimu, aku..


aku janji! Aku akan berubah, aku akan mengabulkan semua permintaanmu, Devan.


Kita akan punya anak okey! Aku mohon padamu Devan, jangan tinggalkan aku


huhuhu".


Kara terus-terusan menangis dan sembari memegang kakinya Devan agar semua yang pernah ia lakukan bisa dimaafkan oleh Devan.

__ADS_1


Devan pun tidak tinggal diam, ia membantu Kara untuk bangun agar tidak bersujud pada dirinya lagi. la langsung mendudukkan Kara di atas ranjang, dan


mengusap air matanya sambil berkata, "Semua kepercayaan ku kuberikan padamu, namun kamu menghancurkan nya ,aku tidak mau memberikan kepercayaan lagi untuk kedua kalinya itu tak akan pernah sama lagi, Ra. Dan perasaanku ke kamu sudah hambar. Sudah tidak ada cinta dalam pernikahan


kita, jadi lebih baik kita pisah saja, daripada saling terluka.


Aku minta maaf atas semua yang


pernah aku perbuat sama kamu. Aku mohon mengerti lah atas keputusanku ini" Kara menggelengkan


kepalanya tanda tidak setuju, ia tidak mau pisah dengan Devan.


Wanita itu menangis sekencang-kencangnya tanpa menghiraukan adanya Devan yang sedang memandanginya.


"Kalau aku tidak mau pisah bagaimana, Devv?" tanya Kara sesenggukan.


"Tetap kita akan berpisah, Ra. Aku mau kita bercerai !"


"Siapa perempuan yang sudah mengubah kamu jadi begini, Dev?


Hiks-hiks," tangisan Kara mulai membludak lagi.


Devan pun langsung meninggalkan Kara yang masih menangis. Hatinya sangat


terpukul atas keputusan Devan yang sangat terang-terangan itu. Namun, seketika tangisan itu berhenti ketika dirinya mendapatkan sebuah ide agar


Devan tetap berada disisinya. la menulis


di secarik kertas, kalau dirinya tidak mau bercerai dengan Devan.


"Kita lihat saja Devan! Setelah ini, apa kamu akan berani menceraikan aku atau tidak!" batin Kara dalam hatinya.


Kara langsung berjalan menuju ke arah balkon, ia menatap dari atas ke bawah dan lama-lama ia naik ke atas pagar besi dan langsung terjun ke bawah.


Bruggghh.....


Seketika Kara tergeletak tak berdaya dengan banyak bercucuran darah yang berasal dari kepalanya.

__ADS_1


Sebagian para pekerja sedang sibuk membersihkan dan menata taman yang ada di depan rumah keluarga Devan.


Namun, mereka begitu kaget ketika melihat seseorang terjatuh dari atas balkon.


Dan ternyata orang yang terjatuh


itu tidak lain adalah Kara.


Mereka pun langsung menghampiri Kara


yang sudah tergeletak tak berdaya dengan bersimbah banyak darah


yang terus mengalir tiada henti dari kepalanya.


"Ya ampun Nona Kara!" teriak salah satu pekerja yang ada di rumah Devan.


Mereka sangat terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memberi tahu majikannya, kalau Kara telah terjatuh dari


atas balkon.


Dan ketika itu pula Nyonya Celia dan Tuan Dimas datang menghampirinya karena laporan dari salah satu asisten nya.


"Ya Tuhan! Kara! Kenapa ini bisa terjadi?" cemas Nyonya Celia.


Matanya sudah berkaca-kaca karena melihat sang menantu sudah tidak sadarkan diri.


"Devan! Kara, Dev!" teriak Nyonya Celia memanggil anaknya. Dan tidak lama


kemudian, Devan pun berlari untuk menghampiri mereka.


Devan juga tidak menyangka bahwa Kara akan berbuat hal seperti itu, hanya karena tidak mau bercerai dengan nya.


"Kara, apa yang kamu lakukan ini, benar-benar membuat aku menjadi dilema!"ucap dalam hatinya.


"Ayo, segera kita bawa ke rumah sakit saja!" ujar Tuan Dimas yang terlihat begitu kaget dan cemas kepada sang menantu.


Sebagian pekerja di rumah itu, langsung dengan sigap membawa Kara ke dalam mobil dan segera mengantarkannya

__ADS_1


ke rumah sakit. Mereka tidak peduli dengan darah yang sudah menempel di baju-bajunya mereka, sebab apa


yang dipikiran mereka sekarang adalah keselamatannya kara yang terpenting.


__ADS_2