
"Tu-tunggu dulu, Pa. Jangan salah paham dulu, aku akan menceritakan semuanya kepada mama dan papa," ucap DEVAN dengan gugup. la takut kedua orang tuanya salah pengertian dengan apa yang telah ia lakukan selama ini.
"Setidaknya kamu harus memberitahu kita dong, Sayang. Mau bagus, mau buruk, kamu tetap harus memberi tahu kita, APA yang terjadi " tukas nyonya Celia.
"Iya, Ma. Maaf. Ini semua rencanaku. Aku yang melarang orang-orangku untuk berbicara. Karena, aku takut jika ada seseorang yang memberitahukannya, pasti ujung-ujungnya akan ketahuan, dan Leah lah yang akan kena imbasnya," tegas Devan.
Devan pun mulai menceritakan semuanya apa yang telah terjadi selama ia tidak pulang ke rumahnya. la menceritakan dari awal sampai akhir hingga dengan pernikahannya bersama Leah yang sudah sah secara hukum dan agama.
Setelah mendengar hal itu, kedua orang tua Devan akhirnya bisa bernapas dengan lega. la berencana untuk mengadakan resepsi pernikahan yang begitu mewah untuk putranya.
Namun hanya tinggal satu yang belum ia ceritakan, yaitu Kara dan mamanya yang ingin mencelakai ibunya sendiri. Dan hal itu ia belum berani menceritakannya karena ini masalah pribadi dengan mamanya. Ia berniat menceritakannya nanti setelah Leah pulang ke apartemen mereka.
******
Semakin hari, Nyonya Celia mulai merasa nyaman dengan sikapnya Leah yang sangat sopan dan santun. Tidak seperti menantunya yang dulu, dari awal, ia tidak pernah memperlihatkan rasa hormatnya kepada orang tua Devan.
Setelah ngobrol panjang lebar, akhirnya waktu makan malam pun tiba, mereka langsung menuju ke ruang makan. Mereka berempat terlihat begitu gembira. Keutuhan dan keharmonisan keluarga baru saja mereka rasakan saat ini. Leah pu mulai akrab dengan kedua orang tuanya Devan begitu juga sebaliknya.
Mereka saling melontarkan candaan ketika sedang di ruang makan. Namun, tiba-tiba hal yang tidak disangka terjadi. Leah mendadak mual ketika akan
memasukan makanan kemulutnya. Dan hal itu ia tahan namun rasa mual itu tidak tertahankan lagi dan pada akhirnya ia meminta izin kepada Devan untuk segera ke kamar mandi.
"Dev, rasanya aku ingin ke kamar mandi. Aku sudah tidak-" Belum juga Leah selesai bicara, ia langsung beranjak dari tempat duduknya dan segera berlari kecil untuk menuju ke kamar mandi.
"Leah!"kaget Devan mengernyitkan dahinya. Ia pun segera menyusul Leah dari belakang.
"Kamu tidak apa-apakan?"khwatir Devan cemas.
"Aku pusing, Dev. Aku mual dan rasanya ingin muntah. Tolong antarkan aku ke kamar mandi, hoekk.... di mana kamar mandinya?"tanya Leah sembari menutup mulutnya.
"Oke-oke, aku antar, tapi tahan dulu ya, kamar mandinya ada di sebelah sana," ucap Devan sembari menuntun Leah menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
Sementara, di ruang makan, nyonya Celia dan tuan Dimas masih keheranan karena baru pertama kali mereka makan malam, Leah sudah menampakan keanehan.
"Kenapa dengan menantu baru kita? Apa masakannya tidak enak?"tanya Nyonya Celia penuh tanda tanya pada suaminya.
"Mungkin saja dia sedang hamil, soalnya mana mungkin makanan selezat ini dia tidak menyukainya, tambah Tuan Dimas tersenyum lebar.
"Bisa jadi! Wah, kalau iya, semoga ini benar, aku sudah tidak sabar ingin segera menimang cucu! Ya Tuhan! Semoga ini benar! Aku mau melihat mereka dulu, papa tunggu di sini ya," ucap Nyonya Celia antusias.
"Ya-ya cepat susul mereka, aku sudah tidak sabar ingin menanyakan sesuatu sama mereka berdua,"ucap tuan Dimas tidak sabaran.
Sementara Leah dan Devan masih berada di kamar mandi, Leah masih merasa mual mual dan rasa pusingnya masih terasa.
"Perasaan sebelum sebelumnya kamu tidak apa-apa kan, Sayang? Kamu tadi makan apa? Jangan-jangan makanan tadi ada racunnya?"Devan masih dalam mode cemas.
"Ish, jangan buruk sangka gitu ah! Sebelum kamu datang ke apartemen juga aku memang udah mulai merasa gak enak badan,"Leah berusaha meyakinkan Devan.
"Tapi tadi waktu diatas ranjang...."
" Ssstt, mesum! Kenapa bahas soal itu disini sih! kalau soal itu ya beda lagi lah!"
Devan tertawa cekikikan mendengar perkataan istrinya. Setelah Leah melepaskan telapak tangannya, Devan baru bisa berkata lagi sambil tertawa, Oh, beda ya?"
"Ssstt, diam! Kalau gak diam aku tidur tengkurap nih!"ancam Leah geram.
"Iya-iya, princesku yang cantik. Aih, ancamannya benar-benar menggemparkan jiwa dan ragaku!"ucap Devan dramatis.
Ketika sedang asyik-asyiknya bercanda, Leah kembali merasa mual lagi. Dan itu membuat Devan semakin cemas. la berpikir jika Leah memang mengalami keracunan makanan.
"Tuh kan! Ini pasti kamu keracunan makanan deh!"ucap Devan geram.
"Sayang, apa yang terjadi?"tanya Nyonya Celia ikutan cemas.
__ADS_1
"Ini mah, dia mual-mual dan pusing katanya. Pasti dia keracunan makanan! Aku yakin itu," gerutu Devan.
"Apa! Iya kah? Tadi kamu makan apa, Sayang?"tanya Nyonya Celia lagi.
"Tidak, Ma. Ini hanya mual biasa. Mungkin penyakit asam lambung ku kambuh,"ucap Leah yang merasa tidak enak hati karena sang mertua ikut menghampirinya.
"Mual-mual? Apa jangan jangan... ah sebentar, mama akan panggilkan dokter dulu ya,"ucap Nyonya Celia dengan raut wajah yang semakin antusias.
"Tapi Ma...." Belum juga Leah berkata lagi,
nyonya Celia sudah melangkah jauh. Dan itu artinya ia tidak bisa menjelaskannya lagi.
"Dev, bagaimana ini? Aku tidak mau merepotkan mereka," tukas Leah.
"Sudah, jangan dipikirkan, mendingan kamu duduk dulu, nanti aku ambilkan air hangat ya,"titah Devan sembari menuntun Leah.
Setelah beberapa saat kemudian, kedua orang tuanya Devan datang menghampirinya.
Mereka memberitahukan jika dokter pribadinya akan segera datang. Mendengar hal itu, Leah menolaknya karena ia merasa tidak begitu parah dengan kondisinya saat ini. Namun, Devan dan orang tuanya bersikeras untuk memeriksa Leah biar tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh Leah.
"Ayo, mama antarkan kamu istirahat dulu, sepertinya kamu kelelahan juga, tuh lihat! Wajah kamu begitu pucat sekali,"ucap Nyonya Celia khwatir.
Leah menuruti apa yang dikatakan mertuanya itu untuk beristirahat di kamarnya Devan sembari menunggu dokter pribadinya datang. Ketika memasuki kamar Devan, Leah begitu terkesima melihat suasana ruangan yang ada di kamar Devan. Begitu megah bak kamar seorang bangsawan.
"Masuk lah, Sayang. Nanti juga ini akan menjadi kamar kamu. Tapi maaf, mama belum membereskan barang-barang mantan istrinya Devan, karena mama tidak tahu kalau Devan sudah bercerai, maklum lah dia orangnya tertutup, dia tidak pernah membuat orang kesusahan. Untuk urusan seperti ini saja, dia ngurus sendiri tanpa bantuan mama ataupun papanya," ucap Nyonya Celia sembari menuntun Leah masuk ke dalam kamar.
"lya, Ma. Tidak apa-apa. Aku paham, hanya saja aku jadi merasa tidak enak dengan posisiku sekarang ini tapi asal mama tahu, aku sempat menjauhi Devan kok, setelah aku tahu kalau dia sudah punya istri, tapi dia sangat keras kepala, meski aku sudah mengusirnya, dia tetap saja datang lagi dan lagi,"ucap Leah sembari duduk di tepi ranjang bersama mertuanya.
"Ya begitulah, dia memang keras kepala, sama kayak bapaknya. Mama hanya ingin berpesan kepadamu, tolong jaga Devan dengan baik. Jangan sampai dia bersedih lagi. Mama yakin kamu pasti orang yang tepat untuk Devan," ucap Nyonya Celia dengan menggenggam erat tangan Leah.
^^^Jangan lupa Like Dan Vote ya
__ADS_1
kasih hadiah Juga ya