
"Kenapa mendadak seperti ini, Bu? Bukannya waktu itu, kesepakatan ki-"
Belum juga Leah selesai berbicara, tiba-tiba saja seseorang lewat dan nyeletuk bicara dengan sinisnya memandang Leah, "Oh, jadi ini pelakornya, Bu? Ya ampun, bisa-bisanya kita berteman dengan perebut suami orang!"
Jleb...
"Apa kamu bilang?" gertak Leah sembari membelalakkan matanya.
Hati Leah semakin sakit seperti tersayat pisau yang sangat tajam dan seolah tertimpa semen berpuluh-puluh ton saat mendengar cercaan dari tetangganya itu. Mereka begitu mudahnya dihasut oleh sahabatnya sendiri yang belum tentu tahu kebenaran kejadian nya itu seperti apa.
Dengan berat hati, Leah pun menuruti apa yang diinginkan oleh ibu kostnya itu. Ia sadar diri, jika ia memaksa untuk tetap tinggal di tempat itu, pasti urusannya tambah rumit lagi. Lebih baik ia mengalah daripada harus berlutut dan memohon belas kasihan yang bisa mengakibatkan harga dirinya jatuh.
Dengan berurai air mata, Leah segera mengemasi barang barangnya yang akan dibawa pergi. Entah harus kemana ia akan berteduh, sementara tempat kos-kosan ataupun rumah kontrakan di ibu kota pasti akan sulit untuk ia dapatkan.
"Ya Tuhan, bagaimana bisa aku disebut pelakor, sementara aku saja tidak tahu statusnya Devan bagaimana. Kenapa semua orang lebih percaya pada omongan orang yang tidak tahu kejadiannya seperti apa , ketimbang dengan ucapanku ini. Apa ini cara mereka untuk mengusirku dari sini? Sungguh hina sekali diriku dibuat mereka!" batin Leah dalam hatinya.
Hari itu juga Leah langsung pergi dari kosannya dengan hati yang sangat sedih. Namun meskipun begitu, ia tetap saja berpamitan kepada ibu kos dengan sopan dan lembut. Karena biar bagaimanapun juga Leah sudah sangat berterima kasih kepada ibu kos itu, yang selama ini sudah mengizinkan dirinya tinggal di kosannya.
Ada sedikit rasa bersalah dalam lubuk hati ibu kos itu, tapi apa boleh buat, ia tidak mau jika salah satu anak kos-nya berbuat yang tidak baik. Padahal, kenyataannya memang tidak seperti itu, ia lebih percaya kepada ucapan orang lain, daripada ucapan dari Leah nya sendiri.
Leah berjalan membawa barang-barang nya dibawah terik matahari. Memang panas, tapi tetap saja ia menyusuri jalanan yang penuh asap kendaraan itu. Panasnya terik matahari tidak mengalahkan amarah yang menumpuk dalam hatinya. Dan rasa kecewanya yang tidak bisa terobati dengan segala apapun.
"Ya Tuhan, kenapa ujiannya berat seperti ini? Hidupku seperti tidak berguna saja," batin Leah dalam hatinya.
__ADS_1
Berhubung sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, Leah terpaksa datang ke bar terlebih dahulu sembari membawa beberapa baju dalam tasnya. Memang bar itu belum waktunya buka, tapi Leah terpaksa menumpang berteduh dan beristirahat, agar nanti pas waktunya bekerja, ia bisa langsung masuk dengan cepat.
Ketika Leah duduk sendiri di bangku bar itu, tiba-tiba saja ponselnya berdering keras. Dan setelah diangkatnya, ternyata telepon dari adiknya, aldio. Dan adiknya memberitahukan bahwa, sakit bapaknya dikampung sudah semakin parah. Dan aldio butuh uang secepatnya untuk membayar biaya administrasi di rumah sakit.
Betapa bingungnya gadis itu, sampai-sampai tidak bisa berpikir positif lagi. Karena benar-benar tidak mempunyai uang sepeser pun. Dan untuk mentransfer uang saja ia tidak bisa, karena saldonya sudah semakin menipis.
"Ya Tuhan,harus nyari uang kemana lagi kalau sudah begini! Masa iya harus pinjam sama Kevin sih? Ah, tidak-tidak, aku mana mungkin minta pinjaman sama dia, pasti dia juga masih membutuhkan uang. Ya Tuhan ... tolonglah beri sedikit keringanan untuk beban hamba ini!" batin leah dalam hatinya lagi.
Tidak terasa matanya mulai berkaca-kaca lagi. la merasa jika beban yang sedang dipikulnya terasa semakin berat. Bahkan, sesekali Leah menyalahkan dirinya sendiri karena selalu tidak pernah merasakan rasa kebahagiaan yang abadi dan sangat jauh dari rasa kebahagiaan.
"Oh iya, apa aku pinjam uang saja ya sama Devan ? Ah, tidak-tidak pasti dia kesenangan jika aku bergantung sama dia terus!" gumam Leah yang semakin bingung dan was-was.
Ketika sedang bingung bingungnya, tiba-tiba saja managernya Leah datang dengan membawa mobil sedan berwarna hitam, dan terparkir tepat dihadapannya. Sontak saja Leah pun kaget bukan kepalang.
Karena, tidak seperti biasanya maneger nya itu datang dengan sangat cepat ke bar, bahkan anak-anak yang lain juga belum ada yang datang kecuali Leah sendiri.
"l-iya Pak!" sahut Leah dengan gugup karena ia takut kena omelan sama si manager botak itu.
"Kamu ngapain di sini? Belum waktunya buka kan?" ucap Pak Doin sembari menghampiri Leah.
"I-ini Pak, sa-saya-"
Belum juga Leah selesai bicara, tiba-tiba saja Pak Doin menyelangnya. " Loh Ini tas siapa besar banget?"
__ADS_1
"Tas saya, Pak!"
"Tas kamu? Terus kenapa tas kamu ada di sini? Apa kamu..."
Belum juga Pak Doin selesai bicara, Leah sudah menangis sesenggukan. Dan hal ini membuat Pak Doin kebingungan.
"Eh, kenapa kamu nangis, Leah?" tanya Pak Doin sembari melirik ke arah kiri dan kanan takut ada orang yang melihatnya jika Leah sedang menangis dihadapan Pak Doin sekarang.
"Jangan nangis di sini dong, ayo kita bicara saja di dalam!" ajak Pak Doin sembari membawa kunci cadangan bar miliknya itu.
Leah pun menuruti perkataan dari Pak Doin. Tidak ada pikiran yang negatif dalam benaknya saat itu tentang pak Doin. Karena memang Pak Doin adalah seorang manager yang baik, namun sangat patuh pada sang istri. Sehingga, ia tidak mau ada masalah pada dirinya yang akan membuat sang istri murka.
Dengan tubuhnya yang gendut, Pak Doin langsung duduk di kursi favoritnya. Sedangkan Leah hanya diam berdiri sembari terus-terusan menyeka air matanya. Tanpa basa-basi lagi, pak Doin langsung menanyakan perihal apa yang sedang terjadi pada gadis itu hingga dia menangis.
Dengan terbata-bata, Leah menceritakan semua beban yang sedang dipikulnya saat itu. Sehingga, tanpa berpikir dua kali, pak Doin langsung memberikan sejumlah uang untuk pengobatan bapaknya dan juga uang kuliah adiknya.
Karena terlalu senang gadis itu, sampai-sampai ia bersujud dibawah kaki sang managernya sendiri karena berkat dirinya beban yang sedang dipikul Leah sudah hilang dan mendadak hatinya terasa sangat ringan kembali.
Tidak hanya cukup disitu, pak Doin memberitahukan bahwa uang itu harus segera dilunasinya, karena uang yang ia berikan bukan lah milik pribadi Pak Doin, tetapi uang milik perusahaan. Sehingga Leah harus cepat-cepat menggantinya dalam jangka dua Minggu lamanya agar pak Doin tidak ditegur perusahaan.
Leah pun menyetujuinya, yang penting ia dapat uang agar bapaknya cepat ditangani oleh dokter dan segera sehat kembali.
"Terima kasih Tuhan, akhirnya aku bisa mengirimkan uang untuk biaya pengobatan bapakku yang masih di rumah sakit," batin Leah dalam hatinya. Ia terus menerus mengucapkan rasa syukurnya kepada Sang Maha Kuasa atas semua karunia yang telah diberikan itu padanya.
__ADS_1
*JANGAN LUPA BACA YA#Tawanan Cinta presdir //chat story//