
"Tidak Mah, bukan begitu. Aku..."
Belum juga Devan selesai bicara, tiba-tiba saja Nyonya Celia memotong pembicaraan, "Mama tidak mau tahu! Pokoknya, perusahaan itu harus jadi milik
kamu lagi!".
"Mah, pokoknya mama tenang saja.
Aku bisa mengatasi hal ini dengan caraku sendiri.
Dan untuk soal Kara, rasanya aku sudah
yakin ingin segera......"
tiba-tiba saja Devan berhenti berkata, karena Leah datang menghampirinya. Devan pun gelagapan karena takut Leah mendengar percakapan dengan
mamanya.
la segera menutup telepon dengan mamanya, dengan alasan masih ada kerjaan yang harus ia selesaikan.
Sementara, Nyonya Celia masih saja tidak percaya akan ucapan anak semata
wayangnya itu.
Dan ia juga masih kesal karena anaknya dengan begitu mudahnya memberikan
perusahaan yang selama ini ia bangun bersama suaminya dengan kerja keras dan banyak rintangan.
Dan ditambah lagi, dengan sikap
Kara kepada dirinya, membuat Nyonya Celia semakin tidak respect dengan besannya dan menantunya itu.
Dan Devan sengaja berbohong lagi kepada mamanya, bahwa ia sedang sibuk bekerja.
Padahal kenyataannya, dirinya sedang
berada di luar kota bersama Leah.
Wanita yang membuat hidupnya penuh warna-warni dan juga membuat dirinya
bersemangat untuk mengubah hari-harinya menjadi seorang Devan yang sesungguh nya.
"Devan, kamu masih sibuk?" Tentu saja kata-kata ini membuat Devan menjadi gelagapan dan salah tingkah.
Apalagi gadis itu, terus saja mendekatinya.
"T-tidak juga!" jawab Devan
gugup.
"Oh... "kata Leah dengan tatapan penuh Curiga.
"Me-memangnya ada apa? tanya Devan yang masih saja gugup ketika wanita cantik itu semakin memandanginya.
"Ada orang yang ingin menemui kamu, kata Leah dengan tatapan yang sangat
tajam, seolah ingin mengetahui sesuatu.
"Siapa?" Lagi-lagi Devan lupa, jika dirinya masih dalam memakai handuk.
"Seperti nya yang mengantarkan baju pesanan kamu, jawab Leah sembari
matanya tertuju pada handuk yang dikenakan nya.
"Oh, iya aku hampir saja lupa!" kata Devan sembari menepuk jidatnya.
"Ayo kita temui dia
dulu' Devan langsung melangkahkan
kakinya untuk menemui orang yang membawa pesanan bajunya.
__ADS_1
Dan leah mengikutinya dari belakang
tanpa memedulikan percakapan Devan dengan mamanya itu.
Meskipun ada sedikit rasa curiga pada dirinya, tapi Leah tidak ingin mempermasalahkannya.
Setelah menerima barang pesanannya, orang itu langsung pamit dan segera pergi.
Tanpa ada rasa malu sedikitpun,Devan
langsung membuka handuknya dan dengan santainya la memakai baju dihadapan Leah.
Sontak saja Leah kaget untuk yang kesekian kalinya, karena otomatis Devan bertelanjang bulat lagi dihadapannya.
"Kenapa kamu memakai baju di sini? tanya leah tercengang.
Seperti biasa, Leah menutupi mukanya lagi dengan telapak tangannya.
Namun, masih bisa mengintip dari celah-celah jarinya.
"Memangnya kenapa kalau
pakai baju di sini? Kita kan sudah saling tahu bentuk tubuh kita itu seperti apa?" ucap Devan dengan santainya.
Namun tetap saja bagi Leah, hal ini begitu memalukan.
Karena saat ini Devan bukanlah suami nya.
"lya, tapi yang benar saja! Kita kan belum-
Lagi-lagi Devan langsung memotong perkataan dari Leah,
"Belum main di atas ranjang kan? Mendengar hal itu, sontak saja
Leah melepaskan tangannya dan
langsung melotot ke arah Devan seolah ingin melahap Devan bulat bulat.
Dan Leah yang menatap Devan seperti itu, menjadi gelagapan dan ada rasa takut
Sampai-sampai aksi memakai bajunya pun begitu cepat dan kilat, sehingga ia salah terus memasukkan kancing
bajunya.
Jangan memandangku seperti itu dong! Rasanya tidak enak banget tau! Kamu, kalau mau melihat tubuhku yang seksi
ini, tinggal dilihat saja.
Gratis kok, gak perlu bayar!" ucap devan
yang masih mengancingkan kancing
bajunya.
"Habisnya, ucapan kamu itu selalu menmbuat aku kesal, kata Leah sembari cemberut.
la pun langsung duduk di tepi ranjang
dengan keadaan marah.
"Kenapa harus kesal? Aku kan milik kamu, dan kamu kan milik aku, jadi apanya yang harus disesalkan?" kata Devan yang
masih merapikan pakaiannya.
"Ya tapikan kita belum- "Sejenak Leah terdiam, dan hal itu membuat suasananya
menjadi hening.
Dan hal itu, membuat Devan semakin canggung dan gugup.
Saking tidak mau memperdebatkan soal
__ADS_1
itu, akhirnya Devan mengajak Leah untuk makan siang.
"Setelah ini, kita makan Siang saja, daripada pusing- pusing memikirkan soal ranjang yang tak pernah ada ujungnya!"
ucap Devan dengan mencairkan suasana lagi.
Sontak saja, Leah mendadak gembira ketika Devan mengatakan hal itu di hadapannya.
Serta raut wajahnya yang cemberut itu pun menjadi hilang seketika.
"Ayok dong ! Aku sudah tidak tahan ingin makan sesuatu, pasti disini makanannya enak-enak nih " ujar Leah kegirangan.
"Ya pastinya, hotel ini sudah terkenal dimana-mana, jadi kalau mereka menyediakan makanan yang tidak enak, pasti itu sangat mengecewakan para pelanggan.
"Yuk ah kita berangkat, ajak Devan yang sudah rapi dengan baju casual nya.
"Oke Let's go!"
Kebahagiaan Leah begitu berlipat ganda, dia tidak pernah menyangka akan sebahagia ini, walau Devan selalu membuatnya kesal sih kadang-kadang. Namun semua kebahagiaan ini berawal setelah bertemu dengan Devan.
Dan nama Devan sudah terpaut dalam hatinya begitu cepat.
Hanya Devan, laki-laki yang mampu membuat dirinya terasa begitu berharga.
Devan dan Leah sudah berada di resto hotel, mereka langsung memilih tempat yang cukup nyaman bagi mereka berdua dan tidak lupa untuk memesan makanan beserta minuman kepada pelayan resto itu.
Tidak lama kemudian, pelayan resto datang membawa beberapa makanan dan minuman yang dipesan Leah dan Devan.
Mereka berdua pun langsung menyantapnya, apalagi ditambah
dengan musik klasik yang membuat mereka semakin menikmatinya.
"Apa kamu suka?" tanya Devan sembari menatap Leah dengan manis.
"Hmm, tentu saja.
Dan ini pertama kalinya aku datang ke
tempat ini, ucap Leah dengan sumringah.
"Kalau kamu suka, aku pasti akan mengajak kamu, kemanapun yang kamu inginkan kata Devan tersenyum lebar.
"Benarkah?" Leah membelalakkan mata nya seolah tidak percaya akan ucapan yang dikatakan Devan tersebut.
"Benar! Aku tidak pernah main-main dengan apa yang sudah aku ucapkan ini!" tegas Devan meyakinkan Leah.
" Yey ,bagus aku suka !" kata leah dengan begitu senangnya.
Namun, lagi-lagi gadis itu terdiam sembari menatap wajah Devan dengan serius.
Dan hal ini membuat Devan menjadi
canggung kembali.
"Ke-kenapa menatapku seperti itu lagi?" tanya Devan tersenyum canggung.
"Tapi nanti itu gratis kan?" tanya Leah dengan polosnya.
"Bayar pakai tubuhmu , mau?" balas Devan menyeringai.
Devan dan Leah masih menikmati suasana makan siangnya dengan damai. Mereka saling melontarkan candaan dengan sangat gembira.
Kebersamaan mereka berdua seakan terlihat sudah seperti layaknya sepasang
kekasih, bahkan Leah semakin terlihat nyaman dengan adanya Devan di sisinya.
Apa yang Devan rasakan saat bersama Leah, benar-benar melupakan segalanya, bahkan istrinya sendiri pun sudah tak
diingat nya lagi.
Yang ada dalam benaknya hanyalah Leah, Leah, dan Leah seorang.
__ADS_1
See you guys jangan lupa ya like ,vote ,dan kasih tips buat author.